BORONG — Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026) meluluhlantakkan fasilitas publik vital di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Puskesmas Pota di Kecamatan Sambi Rampas hancur total, memaksa pelayanan kesehatan bagi warga beralih penuh ke tenda-tenda darurat di area pengungsian.

Puing Gedung dan Lolos dari Maut
Bangunan fasilitas kesehatan tingkat pertama itu kini hanya menyisakan kerusakan berat. Tak ada lagi ruang periksa bagi pasien.
Reruntuhan beton dan atap yang ambruk kini mengubur seluruh ruang rawat.
Kepala Puskesmas Pota, Hindrayanti, menyebut kerusakan bangunan sangat masif dan tak lagi memungkinkan untuk memfasilitasi kebutuhan medis warga.
“Kondisi bangunan rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi. Semua bagian rusak. Banyak barang, termasuk alat kesehatan dan obat-obatan, yang tidak bisa diambil dari reruntuhan,” kata Hindrayanti.

Kehancuran gedung itu terjadi dalam hitungan menit, sesaat pasca-guncangan hebat pada pukul 05.58 WITA.
Beruntung, tragedi runtuhnya gedung Puskesmas ini tidak menelan korban jiwa dari pasien maupun pihak tenaga medis.
Saat gempa merobohkan bangunan, jadwal pelayanan pasien sedang lengang. Pasien terakhir di Unit Gawat Darurat (UGD) telah rampung ditangani dan pulang pada pukul 02.00 dini hari.
Di dalam gedung, hanya tersisa beberapa petugas rawat inap yang tengah berjaga.
Begitu bumi berguncang, para tenaga kesehatan ini berpacu dengan waktu.
Mereka berlari keluar ruangan untuk menyelamatkan diri, sesaat sebelum struktur bangunan menyerah pada getaran dan ambruk.
“Alhamdulillah, semuanya selamat karena setelah beberapa menit mereka langsung berlari keluar gedung. Bangunan kemudian roboh,” ungkap Hindrayanti menceritakan detik-detik menegangkan tersebut.
Napas Layanan Medis di Bawah Tenda
Runtuhnya gedung tak lantas meruntuhkan kewajiban medis. Di tengah krisis pascabencana, tenaga medis Puskesmas Pota dituntut untuk lekas pulih dan kembali melayani publik.
Mereka memindahkan basis pelayanan ke tenda darurat milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Tenda ini didirikan berdekatan dengan lokasi pengungsian utama di Sambi Rampas.
Selain itu, sebagian layanan kesehatan juga disebar dan dialihkan ke posko kesehatan di halaman SMK Muhammadiyah Pota.
Transisi mendadak ini memaksa para nakes bekerja keras dengan fasilitas seadanya. Alat-alat terbatas, obat sekadarnya, dan ruang yang tentu tak lagi steril layaknya ruang klinis normal.
Pascagempa, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat telah turun meninjau langsung puing-puing Puskesmas Pota.
Laporan dan dokumentasi kerusakan telah diserahkan sebagai landasan bagi pemerintah daerah untuk mengambil langkah pemulihan fasilitas publik tersebut.
Sembari menunggu instruksi lebih lanjut, pihak puskesmas memilih fokus pada mitigasi pasien pascabencana.
“Kemungkinan ke depan kami akan tetap melayani pasien di tenda sambil menunggu koordinasi dan informasi selanjutnya dari pihak terkait,” ucap Hindrayanti.
Komitmen Nakes yang Tak Ikut Terkubur
Di balik segala keterbatasan fisik dan rusaknya alat medis di bawah puing bangunan, ada komitmen kuat nakes yang terus berdenyut.
Hindrayanti meminta warga terdampak gempa untuk tidak ragu datang ke posko kesehatan jika membutuhkan pertolongan medis.
“Yang ingin saya sampaikan kepada masyarakat, di tengah kondisi Puskesmas kita yang seperti sekarang dan serba terbatas, kami tetap memberikan pelayanan. Kami berharap masyarakat tetap menjaga kesehatan,” tuturnya.
Kehancuran Puskesmas Pota menjadi potret muram kerentanan fasilitas publik saat bencana melanda.
Laporan kerusakan dan koordinasi lintas sektor kini berpacu dengan kebutuhan warga di lapangan.
Kini, urat nadi pelayanan kesehatan di Sambi Rampas itu tetap berjalan, menolak lumpuh meski hanya dioperasikan dari balik tipisnya kain terpal tenda pengungsian.
Penulis : Nalljehaut
Editor : Fons Abun








