9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan

- Redaksi

Senin, 24 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah bangunan di wilayah itu rusak berat akibat guncangan dahsyat gempa bermagnitudo 7.7 yang berpusat di Nagekeo NTT, Sabtu 15 Agustus 2026.

Sejumlah bangunan di wilayah itu rusak berat akibat guncangan dahsyat gempa bermagnitudo 7.7 yang berpusat di Nagekeo NTT, Sabtu 15 Agustus 2026.

LABUAN BAJO Sebanyak 9.547 rumah tercatat terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 SR di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar). Proses penginputan data korban secara real time telah resmi ditutup pada Minggu (23/8/2026) malam.

Pemerintah Kabupaten Mabar segera menerjunkan tim verifikasi lapangan pada Selasa (25/8/2026). Tim ini melibatkan Penyuluh Pertanian, Penyuluh Keluarga Berencana (KB), dan Dinas Cipta Karya.

Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, menegaskan tim wajib melakukan klasifikasi kerusakan dengan akurat. Pengumpulan data diwajibkan menggunakan aplikasi Open Camera yang terintegrasi dengan titik koordinat.

Langkah ini diambil guna mengakomodasi korban yang luput dari pendataan kepala desa, sekaligus mencegah rumah tidak terdampak masuk dalam daftar penerima bantuan.

“Tujuannya supaya tidak boleh ada yang terlewatkan. Terus yang kedua, di peristiwa ini tidak boleh ada yang ‘buntung’ dan tidak boleh ada yang diuntungkan,” tegas Edi Endi dalam Rapat Paripurna DPRD Mabar, Senin (24/8/2026).

Baca Juga:  Kepala BTNK Bongkar Urgensi Pembatasan Wisatawan di TN Komodo

Selain urusan validasi data, Pemkab Mabar kini menghadapi tantangan berupa masifnya penyebaran berita hoaks.

Informasi palsu mengenai ancaman gempa susulan di atas 7,7 SR yang dibumbui prediksi waktu kejadian telah memicu kepanikan warga.

Kepanikan ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan sosial. Warga di kawasan kepulauan seperti Pulau Mesa, Papagarang, Seraya Besar, Seraya Kecil, Rinca, Komodo, dan Kukusan dilaporkan memilih mengungsi ke tempat tinggi.

Para nelayan juga berhenti melaut karena ketakutan akan ancaman tsunami.
Padahal, menurut Edi Endi, wilayah yang paling terdampak parah adalah pesisir pulau-pulau kecil.

Baca Juga:  Bukan Sekadar Prediksi: Mengapa Peta Bencana Manggarai Barat Harus Bersandar pada Data Historis?

“Sedangkan Pulau Besar, Papagarang, Komodo, Rinca, Kukusan itu relatif aman. Tapi justru mereka yang takutnya berlebihan karena dikirimi berita-berita yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.

Terkait logistik, Pemkab Mabar telah mendistribusikan 126 ton bantuan pangan hingga Minggu (23/8/2026) sore. Penyaluran bantuan ini sudah dimulai sejak 15 Agustus dan dilakukan secara masif sejak 17 Agustus 2026.

Meski demikian, distribusi bantuan di tingkat desa tidak sepenuhnya mulus. Edi Endi mengakui ada penumpukan logistik di sejumlah lokasi akibat buruknya koordinasi dari aparatur desa setempat.

Salah satu contoh kasus terjadi di Kampung Hawir dan Ndari, Desa Golokeli, Kecamatan Komodo. Bantuan logistik telah dikirim sejak 17 Agustus, namun sempat tertahan karena kepala desa urung membagikannya kepada warga.

Baca Juga:  Krisis Gas Labuan Bajo: Pengusaha Pariwisata Menjerit, Terpaksa Tempuh 376 Km Demi Sebiji LPG

“Puji Tuhan, kemarin [Minggu] jam 6, yang Golokeli itu sudah terdistribusi,” terang Edi Endi.

Bupati juga mengkritik adanya unggahan di media sosial dari warga luar Mabar yang menuding suatu desa belum menerima bantuan, padahal logistik sudah didistribusikan. Ia meminta semua pihak untuk bersikap tenang.

“Kondisi-kondisi begini butuh kesabaran. Sudah dikasih, dipikirnya bahwa kita kasih itu untuk satu kampung, tanpa melihat lagi ini yang terkena, ini yang tidak,” pungkasnya.

Laporan perkembangan penanganan gempa ini dipaparkan Bupati Edi Endi di sela-sela penyampaian nota pengantar Rancangan APBD Perubahan TA 2026.

Rapat paripurna tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua II DPRD Mabar, Sewargading S. J. Putra, serta dihadiri jajaran pimpinan DPRD dan Kepala OPD setempat.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog
Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara
Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah
Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta
Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?
Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo
“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB
Gempa NTT: Dua Lansia Kritis Dievakuasi via Udara dari Manggarai Timur

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:07

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:55

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:16

Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:57

Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:12

Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17