BORONG — Di pedalaman Manggarai Timur, tepatnya di Kecamatan Lamba Leda Utara, geliat pendidikan mulai menunjukkan wajah barunya.
SDK Bea Rana tidak sekadar bersolek lewat kucuran dana revitalisasi nyaris Rp2 miliar, tapi juga membuktikan tajinya di kancah akademik provinsi.
Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Rikardus Rio, S.Pd, sekolah ini menerima alokasi dana revitalisasi sarana dan prasarana sebesar Rp1.900.602.895 dari pemerintah pada tahun 2026.
Namun, Rikardus sadar betul, kemajuan pendidikan tak bisa hanya diukur dari aroma cat baru atau megahnya tembok beton.
Buktinya, di tengah proses pembenahan infrastruktur, dua siswi SDK Bea Rana sukses menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Provinsi 2026, mewakili Kabupaten Manggarai Timur.
Kombinasi antara pembenahan fasilitas fisik dan peningkatan mutu akademik ini menjadi fondasi baru bagi pemerataan pendidikan di pelosok Manggarai.

Menjahit Infrastruktur dengan Tenaga Lokal
Kucuran dana senilai Rp1,9 miliar diproyeksikan untuk menyulap lingkungan belajar di SDK Bea Rana menjadi lebih aman, nyaman, dan memenuhi standar nasional. Saat ini revitalisasi pembangunan gedung tengah berjalan.
Menariknya, revitalisasi ini tidak diserahkan sepenuhnya kepada kontraktor luar. Sekolah memilih jalur swakelola.
Lewat metode ini, seluruh tenaga kerja yang dilibatkan adalah warga desa setempat. Tidak ada pekerja yang didatangkan dari luar daerah.
Selain mempercepat pengerjaan, langkah ini memutar roda ekonomi warga sekitar dan membuka lapangan pekerjaan baru.
Legalitas juga menjadi perhatian utama. Seluruh material proyek diambil dari lokasi galian yang telah mengantongi izin resmi sesuai regulasi yang berlaku.
Kepala SDK Bea Rana, Rikardus Rio, menegaskan bahwa pendekatan ini adalah bentuk akuntabilitas publik.
“Kami berkomitmen mengawal pelaksanaannya secara transparan, akuntabel, dan sesuai ketentuan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh peserta didik maupun para guru,” ujar Rikardus, Kamis (30/7/2026).
Bagi Rikardus, pembenahan fisik ini adalah investasi masa depan. Menurutnya, revitalisasi bukan sekadar urusan merenovasi gedung, melainkan instrumen jangka panjang untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan kondusif.

Dua Srikandi Sains dari Lamba Leda Utara
Ketika warga sibuk membangun kelas fisik, para guru dan siswa SDK Bea Rana sibuk membangun kapasitas otak.
Hasilnya terbayar lunas. Dua peserta didik mereka lolos seleksi OSN tingkat kabupaten.
Bergita Lani Anjam sukses menembus kompetisi di bidang Matematika. Sementara itu, Felisitas Saskia melaju di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Keduanya kini bersiap memanggul nama Kabupaten Manggarai Timur di OSN Tingkat Provinsi 2026.
Prestasi dua srikandi ini menghapus stigma bahwa sekolah pedalaman kerap tertinggal secara akademik.
“Prestasi yang diraih Bergita dan Felisitas merupakan hasil kerja keras semua pihak,” kata Rikardus.
Ia menilai, pencapaian ini adalah buah dari sinergi panjang antara dedikasi para guru, semangat belajar siswa, dan dukungan penuh orang tua.
Rikardus berharap keberhasilan Bergita dan Felisitas bisa menjadi pemantik bagi siswa lain untuk berani berkompetisi, bahkan hingga ke tingkat yang lebih tinggi.
Fisik dan Mutu Harus Berjalan Beriringan
Revitalisasi infrastruktur dan pencapaian di ajang OSN seolah menjadi dua sisi mata uang bagi SDK Bea Rana saat ini.
Rikardus meyakini bahwa pembangunan gedung harus selalu berjalan paralel dengan pembangunan manusia.
“Keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari megahnya bangunan,” tegas Rikardus.
Lebih dari itu, kualitas sekolah diukur dari karakter, kompetensi, dan daya saing para lulusannya.
“Kami ingin menghadirkan sekolah yang tidak hanya memiliki fasilitas yang baik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, disiplin, kreatif, dan memiliki daya saing,” tambahnya.
Lewat swakelola yang memberdayakan warga, material proyek yang berizin legal, serta pembuktian akademik di level provinsi, SDK Bea Rana perlahan membangun standar baru.
Di Lamba Leda Utara, mereka membuktikan bahwa kucuran dana pemerintah tak berujung sia-sia, melainkan bertransformasi menjadi tiket untuk mencetak generasi unggul di masa depan.
Penulis : Nalljehaut
Editor : Fons Abun







