Merawat Harapan di Batas Desa: Ikhtiar Puskesmas Wae Codi Menjemput Sehat

- Redaksi

Selasa, 14 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cek Kesehatan Gratis di Kantor Desa Gololanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. (FOTO/Rian)

Cek Kesehatan Gratis di Kantor Desa Gololanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. (FOTO/Rian)

RUTENG Senin (13/7/2026), pagi baru saja merekah. Pelataran Kantor Desa Gololanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dipenuhi derap langkah warga.

Di bawah langit Kampung Gurung, puluhan pasang mata datang penuh ikhtiar pada satu hal: kesehatan mereka sendiri. Warga berduyun-duyun menyemut demi memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar oleh UPTD Puskesmas Wae Codi.

Halaman kantor desa mendadak menjelma menjadi ruang tunggu yang riuh. Di antara antrean yang mengular, sebuah pemandangan menarik tertangkap mata: kesadaran akan kesehatan ternyata telah meruntuhkan sekat usia.

Di sana, seorang kakek dengan rambut memutih duduk berdampingan dengan remaja yang sibuk meredam cemas. Tak jauh dari mereka, ibu-ibu tampak menggendong anak balitanya, sabar menunggu giliran dalam antrean yang tertib.

Ada antusiasme yang tak biasa. Kehadiran lintas generasi ini seperti menjadi sinyal kuat bahwa warga Gololanak kini mulai sadar: mengenali kondisi tubuh sejak dini jauh lebih berharga daripada mengobati saat sakit telanjur mendera.

Baca Juga:  Rata dengan Tanah: Skala Masif Kehancuran Gempa di Cibal dan Wae Codi

Langkah jemput bola yang dilakukan Puskesmas Wae Codi ini bukan tanpa alasan. Program pemeriksaan gratis ini merupakan hilir dari kebijakan Pemerintah Pusat, sebuah ikhtiar nyata untuk meruntuhkan dinding pembatas akses pelayan kesehatan masyarakat sekaligus mempercepat deteksi dini berbagai penyakit sebelum terlambat.

Kepala UPTD Puskesmas Wae Codi, Hery Jefry, mengungkapan sebanyak 80 warga sukses terjaring dalam pemeriksaan kesehatan gratis pada hari ini.

Dari puluhan rekam medis yang terkumpul, tim medis Puskesmas Wae Codi menemukan satu musuh bersama yang paling mendominasi tubuh warga, yakni hipertensi.

Di balik angka tensi yang melonjak pada tubuh sebagian besar dari 80 warga tersebut, ada jejak kebiasaan yang sulit dipungkiri—mulai dari pola makan lokal yang kurang seimbang, kebiasaan merokok, hingga beban stres sehari-hari.

“Kebiasaan pola makan, kebiasaan merokok dan faktor stres,” kata Hery, saat dihubungi media ini, Senin malam.

Baca Juga:  "Rumah Tak Bisa Dihuni", Kesaksian Warga Manggarai Usai Gempa M 7,7

Hery berkata, usai didiagnosis, pihaknya langsung bertindak sigap dengan membagikan obat hipertensi kepada pasien yang membutuhkan. Petugas kesehatan dengan telaten menyisipkan edukasi mendalam, mengingatkan setiap pasien bahwa obat terbaik adalah komitmen untuk menjaga pola makan dan memperbaiki gaya hidup demi masa depan yang lebih sehat.

“Hipertensi langsung di beri obat hipertensi. Selain beri obat ada edukasi ke pasien agar jaga pola makan,” tutur Hery.

Cek Kesehatan Gratis: Program Tingkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat

Hery menjelaskan Cek Kesehatan Gratis merupakan program nasional yang dilaksanakan setiap tahun untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sasarannya, mencakup seluruh kelompok usia, mulai dari bayi usia nol bulan hingga lanjut usia.

Menurutnya, pemeriksaan tidak hanya sebatas pengecekan tekanan darah, tetapi juga berbagai pemeriksaan kesehatan lainnya untuk mendeteksi secara dini potensi penyakit yang mungkin dialami masyarakat.

Baca Juga:  Turis Telantar, Kapal Tak Datang: Borok Industri Travel Bodong yang Menghantui Labuan Bajo

“Tujuan utama kegiatan ini adalah melakukan deteksi dini terhadap berbagai penyakit sehingga dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius,”katanya.

Seluruh kampung di wilayah kerja Puskesmas Wae Codi menjadi sasaran program tersebut. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai target yang telah ditetapkan agar seluruh masyarakat memperoleh kesempatan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara gratis.

“Kami turun langsung ke setiap kampung karena seluruh masyarakat menjadi target pelayanan. Saat ini kami sedang menyasar kampung-kampung yang sebelumnya belum sempat melaksanakan CKG,”jelasnya.

Pelaksanaan CKG juga dipadukan dengan berbagai layanan kesehatan lainnya, sehingga masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih lengkap dalam satu kesempatan.

Melalui pendekatan jemput bola tersebut, UPTD Puskesmas Wae Codi berharap kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala terus meningkat.

“Kami juga berharap adanya dukungan masyarakat agar program Cek Kesehatan Gratis ini benar-benar memberikan dampak positif terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat,”pungkasnya.

Penulis : Rian

Editor : Fons Abun

Berita Terkait

Ilmu Ingatan Sang Maestro Pinisi
Asa Tim Medis Puskesmas Wae Codi Penuhi Dahaga Layanan Dokter di Desa Golo Lanak
Saat Polisi Berjoget di Tenda Darurat demi Mengusir Trauma Bencana
Kala Gempa M 7,7 Merenggut Puskesmas Pota, Nakes Bertahan Mengobati Warga Tanpa Gedung
Rata dengan Tanah: Skala Masif Kehancuran Gempa di Cibal dan Wae Codi
Bukan Sekadar Gedung Baru: Cara SDK Bea Rana Menjawab Kucuran Rp1,9 Miliar
Bangkai Kapal di Pulau Bajo: Menuntut Tanggung Jawab Bos Armada Wisata
Turis Austria Tewas di Cunca Wulang, Sempat Minta Direkam Sebelum Jatuh

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 14:51

Ilmu Ingatan Sang Maestro Pinisi

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:43

Asa Tim Medis Puskesmas Wae Codi Penuhi Dahaga Layanan Dokter di Desa Golo Lanak

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:33

Saat Polisi Berjoget di Tenda Darurat demi Mengusir Trauma Bencana

Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:31

Kala Gempa M 7,7 Merenggut Puskesmas Pota, Nakes Bertahan Mengobati Warga Tanpa Gedung

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:23

Rata dengan Tanah: Skala Masif Kehancuran Gempa di Cibal dan Wae Codi

Berita Terbaru

Untuk kesekian kalinya Ramli bersama timnya mengerjakan kapal 30 GT. Lambung kapal ini menggunakan kayu besi dari Kalimantan. Pengerjaan kapal ini membutuhkan waktu 4 bulan.

In-Depth

Ilmu Ingatan Sang Maestro Pinisi

Jumat, 28 Agu 2026 - 14:51