LABUAN BAJO — Kawasan pesisir Pulau Bajo kini berada di titik nadir.
Hanya sepelemparan batu dari pusat kuliner pesisir Kampung Ujung, Kota Labuan Bajo, sebuah tragedi ekologis sedang dibiarkan terjadi tanpa intervensi negara.
Wilayah bersejarah yang dahulu menjadi jantung aktivitas warga dan ruang rekreasi keluarga ini, kini berubah wujud. Ia tak ubahnya “kuburan kapal” sekaligus tempat pembuangan limbah tak terkendali.
Bangkai-bangkai armada wisata itu teronggok sepi, seolah mengejek status Manggarai Barat sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Pada Selasa sore (21/7/2026), sekitar pukul 15.00 Wita, kami mendatangi lokasi yang selama ini luput dari bidikan kamera para pemuja keindahan pariwisata Labuan Bajo.

Sejauh mata memandang, bibir pantai dipenuhi rongsokan. Data yang dihimpun mencatat, setidaknya ada 56 unit kapal wisata berukuran sedang hingga besar terbengkalai di sepanjang sempadan pantai.
Jumlah yang mencengangkan itu belum termasuk belasan speedboat rusak yang perlahan hancur dimakan korosi air laut.
Radius 100 meter dari garis pantai kini kehilangan total nilai estetikanya. Kawasan ini nyaris tak layak lagi diinjak oleh manusia.
Bertaruh Nyawa di Bawah Laut
Di sela-sela tumpukan sampah dan bangkai kayu, sekelompok warga mengambil alih peran yang seharusnya dilakukan oleh otoritas pelabuhan dan pemerintah daerah.
Melki, pria 55 tahun, bersama rekannya sekitar10 orang. Sejak sepekan terakhir, mereka bekerja sporadis membersihkan area laut dan pesisir Pulau Bajo.
Mereka mulai bekerja saat matahari baru naik pada pukul 08.00 Wita, dan baru berhenti ketika ufuk barat mulai gelap pada pukul 18.00 Wita.

Keringat mereka mengucur demi mengangkat limbah yang didominasi plastik, puing-puing kapal, hingga beling yang kerap dibuang sembarangan secara diam-diam.
“Kami sudah satu minggu di sini. Angkat sampah, kumpulkan, bakar. Kami bersihkan kapal dan perahu yang rusak agar kawasan ini setidaknya nyaman untuk dilewati,” tutur Melki.
Tugas mereka bukan sekadar memungut sampah di atas pasir. Mereka harus menyelam ke dasar laut untuk menarik puing-puing kapal yang tenggelam.
“Sampah-sampah ini sumbernya dari kapal. Kami menyelam dulu, lalu sampah dan kayu ditarik ke darat,” tambahnya.
Bagi Melki dan kawan-kawan, bahaya terbesar bukanlah pada volume sampah yang mencapai 20 karung per hari. Ancaman nyata itu datang dari material limbahnya.
“Paling sulit itu mengambil beling atau pecahan botol minuman. Sangat tajam dan membahayakan keselamatan kami saat bekerja, baik di laut maupun di pantai,” keluh Melki.
Selain material padat, limbah beracun seperti oli bekas hingga kloset dari kapal-kapal wisata juga memenuhi perairan.
Sebuah ironi yang pahit untuk laut yang dijual keindahannya ke seluruh dunia.

Tuan Kapal yang Mencuci Tangan
Pangkal dari kerusakan ekologi ini adalah sikap abai para pengusaha wisata laut.
Mayoritas kapal yang teronggok di pesisir ini seperti armada hantu; wujudnya ada, tapi tak ada satupun yang mau mengaku sebagai pemiliknya.
Florianus Surion Adu, atau yang akrab disapa Feri Adu, koordinator Kelompok Relawan Peduli Pulau Bajo, marah melihat kenyataan ini.
Sebagai warga asli yang lahir dan besar di Labuan Bajo, Feri tahu betul nilai historis pulau tersebut.
Pulau Bajo dan daratan Labuan Bajo, kata dia, adalah satu kesatuan sejarah yang tak bisa dipisahkan.
“Dulu, setiap hari raya, orang-orang datang ke sini untuk piknik. Di sini banyak kambing berkeliaran. Sekarang, kondisinya membuat kami sangat prihatin,” kata Feri.
Keprihatinan itu berubah menjadi kemarahan ketika Feri mencoba melacak siapa dalang di balik penumpukan bangkai kapal ini.
“Di mana pemilik kapal-kapal ini? Awalnya ada yang mengaku. Tapi setelah kami datang lagi, mereka cuci tangan. Mereka bilang tidak punya kapal di situ,” tegasnya.
Alibi para pengusaha pun terdengar klise. Beberapa mantan Anak Buah Kapal (ABK) bersaksi bahwa kapal itu milik “Si Bos”.
Namun, ketika dikonfirmasi, sang bos berkilah telah menjual kapal tersebut 20 tahun silam kepada orang tak dikenal.
Sikap lepas tangan ini berdampak fatal. Bangkai-bangkai kapal yang dibiarkan membusuk itu kini beralih fungsi menjadi tempat pembuangan akhir.
“Beberapa kapal sudah dijadikan tong sampah. Bahayanya, ketika air pasang naik, sampah-sampah di dalam lambung kapal itu keluar, terbawa arus, dan mengotori perairan Labuan Bajo,” ungkap Feri.
Menuntut Intervensi Negara
Ketidakpedulian pengusaha armada laut memaksa warga bekerja ekstra. Feri dan timnya bahkan harus patungan memesan katrol untuk menderek bangkai kapal yang terjebak di laut dangkal.
Gerakan swadaya ini adalah tamparan keras bagi pemerintah daerah, otoritas pelabuhan, dan pemangku kepentingan di sektor pariwisata Labuan Bajo.
Warga mendesak pemerintah agar tidak lagi membiarkan pengusaha wisata menjadikan laut sebagai tong sampah raksasa.
Aturan harus ditegakkan, dan denda harus dijatuhkan bagi mereka yang membuang oli bekas serta membiarkan kapal membusuk di bibir pantai.
Feri menegaskan, aksi kelompok relawannya tidak akan berhenti di Pulau Bajo. Mereka ingin membuktikan bahwa masyarakat bisa turun tangan ketika negara absen.
“Jika ini sudah bersih, kami akan mendesak dan membantu pemerintah provinsi untuk segera membersihkan Pantai Pede dari bangkai kapal. Kalau memang Pantai Pede atau pesisir ini diperuntukkan bagi docking kapal, tolong aturannya diperjelas,” tantang Feri.
Sore itu, di tengah deburan ombak dan bau pesing oli bekas, Melki dan relawan lainnya masih terus menarik sisa-sisa kayu lapuk di Pulau Bajo.
Mereka sedang berupaya mengembalikan marwah Pulau Bajo, mencoba menyadarkan semua pihak bahwa wajah pariwisata yang bersih tidak boleh hanya berhenti di brosur-brosur mewah, melainkan harus nyata hingga ke halaman belakang tempat warga hidup dan bernapas.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







