LABUAN BAJO — Jalanan berkelok sejauh 188 kilometer menuju Reo, Kabupaten Manggarai, harus ditempuh Matheus Siagian dengan perasaan gundah.
Di dalam mobil pribadinya pada Kamis (14/05/2026) itu, teronggok puluhan tabung gas kosong.
Perjalanan ini bukanlah sebuah tur wisata. Ini adalah ekspedisi bertahan hidup.
Bagi Matheus, pelaku industri pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pilihan hari itu hanya dua: membiarkan restorannya mati, atau berdarah-darah mencari bahan bakar.
Di Reo, ia harus menelan kenyataan pahit. Harga satu tabung gas LPG 12 kilogram dibanderol Rp500 ribu. Padahal, harga normalnya hanya berada di kisaran Rp290 ribu.
Sepanjang April, ia terpaksa merogoh kocek lebih dari Rp15 juta hanya untuk menebus 25 tabung gas. Sebuah ongkos operasional yang membengkak luar biasa.
Namun, menaikkan harga makanan di menu bukanlah opsi.
“Kalau naikkan harga, takut langganan lari. Sehingga korban rugi,” ungkap Matheus dengan nada pasrah.
Kembali ke Era Minyak Tanah
Ada sebuah ironi yang mengiris hati di balik kisah Matheus.
Labuan Bajo telah disematkan mahkota sebagai “Destinasi Wisata Super Premium” oleh pemerintah pusat.
Triliunan rupiah digelontorkan untuk memoles wajah kota ini agar memukau mata dunia.
Namun di balik etalase yang megah itu, masyarakatnya tertatih-tatih hanya untuk menyalakan api kompor.
Saking parahnya kelangkaan energi ini, Matheus terpaksa menyingkirkan kompor gas di rumah pribadinya.
Ia kembali menggunakan bahan bakar masa lalu yang sudah lama ditinggalkan. “Kalau di rumah, saya pakai minyak tanah lagi sekarang,” tuturnya lirih.
Sebuah kemunduran peradaban yang rasanya tak pantas terjadi di sebuah kota kebanggaan negara.
Dengan suara bergetar, ia memohon kepada para pemangku kebijakan di Jakarta untuk melihat penderitaan ini.
“Saya mohon sekali sama pemerintah, tolong segera selesaikan masalah ini. Kami minta dengan sangat koordinasi dengan pusat,” tegasnya.
Keputusasaan di Pasar Ritel
Jeritan ini tidak hanya milik pengusaha besar. Warga lain di Labuan Bajo pun merasakan kepanikan yang sama.
Sepanjang April hingga Mei 2026, tabung gas nonsubsidi seolah lenyap ditelan bumi.
Toko-toko memasang tanda kosong.
Ichal Detrexs, seorang warga lokal, membagikan realita getir yang ia saksikan pada awal April 2026 lalu.
“Sudah satu minggu lebih tidak ada gas elpiji. Bahkan, pagi tadi semua toko kosong,” kisahnya.
Ketika ia berhasil menemukan satu toko yang masih memiliki stok saat itu, keputusasaan warga justru dimanfaatkan oleh oknum.
Tabung gas yang tersisa dijual dengan harga tak wajar, mencapai Rp360 ribu per tabung.
Krisis yang mencekik nadi ekonomi rumah tangga ini perlahan menjalar menjadi bencana sosial yang eskalatif selama berminggu-minggu.
Logistik yang Rapuh
Usut punya usut, akar dari malapetaka energi ini bermula dari pulau seberang.
Pertamina Patra Niaga menyebut bahwa pasokan tersendat murni karena perbaikan dermaga di Pelabuhan Surabaya, Jawa Timur.
Gas untuk NTT tidak dikirim dalam bentuk curah, melainkan telah dikemas dan diangkut kapal kontainer.
“Jumlah kapal yang bisa bersandar di Surabaya berkurang drastis karena ada perbaikan,” jelas Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi.
Sebagai solusi darurat, Pertamina kini berencana melipatgandakan jadwal pelayaran dari 2-3 kali menjadi 4-5 kali sebulan melalui dermaga alternatif.
Mereka juga memastikan bahwa pasokan BBM cair tetap aman. Namun, bagi warga yang tidak bisa memasak nasi hari ini, janji perbaikan logistik terasa sangat lambat.
Langkah Darurat dan Ilusi Kuota
Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, akhirnya harus turun tangan memecah kebuntuan.
Melalui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Gabriel Bagung, pemerintah daerah melayangkan desakan kepada distributor dan Pertamina sejak pertengahan April lalu.
Gabriel mencium adanya ketidakadilan. Ia takut gas yang tersisa hanya disedot oleh industri pariwisata raksasa, sementara UMKM kecil dibiarkan mati kelaparan energi.
“Penyaluran harus berjalan proporsional dan berkeadilan. Kebutuhan masyarakat umum harus tetap diperhatikan,” tulis Gabriel dalam surat resminya.
Pada akhirnya, secercah harapan datang menumpang kapal KM Express Mas pada awal Mei.
Kapal itu membawa ratusan tabung gas berbagai ukuran. Namun, jumlah ratusan tabung ini dipertanyakan kelayakannya untuk mengobati dahaga energi di seluruh pelosok Manggarai Barat.
Di tengah kepanikan warga dan langkah darurat pemda, pernyataan Pertamina justru terasa berjarak.
Pihak Pertamina membantah adanya pengurangan pasokan ke Labuan Bajo. Mereka menegaskan kuota aman dan menyebut pasokan dilayani oleh enam outlet resmi.
Namun, bagi Matheus yang baru saja pulang menyetir ratusan kilometer, dan bagi warga yang kembali menenggak asap minyak tanah, klaim kuota aman di atas kertas itu sama sekali tak bisa dipakai untuk memasak.
Di Labuan Bajo, kota super premium itu, kelangkaan gas telah mencerabut hal yang paling dasar dari kehidupan warganya: ketenangan di dalam dapur mereka sendiri.
Penulis : Tim Bajo Update
Editor : Fons Abun





