Badai, Kasta, dan Patah Hati: Sisi Lain Pariwisata Labuan Bajo dalam Novel Chelluz Pahun

- Redaksi

Selasa, 19 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ini adalah sebuah novel fiksi karya Chelluz Pahun, seorang jurnalis muda asal Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Ini adalah sebuah novel fiksi karya Chelluz Pahun, seorang jurnalis muda asal Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

LABUAN BAJO — Ada cerita yang tidak lahir dari ruang nyaman. Ia justru tumbuh dari kegelisahan, patah hati, perjalanan panjang, dan kesunyian yang dibiarkan matang oleh waktu.

Barangkali, itulah yang paling tepat untuk menggambarkan lahirnya Di Antara Kabut dan Samudera.

Ini adalah sebuah novel fiksi karya Chelluz Pahun, seorang jurnalis muda asal Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Buku ini baru saja resmi diterbitkan oleh Detak Pustaka. Kehadiran novel ini langsung memancing perhatian.

Ia tidak hanya menawarkan kisah cinta yang emosional, tetapi juga membawa pembacanya menyelami realitas sosial masyarakat Manggarai yang hidup dan pekat.

Kota Ruteng dan Labuan Bajo tidak hanya menjadi latar tempat, tetapi terasa ikut bernapas dalam setiap halamannya.

Namun, di balik terbitnya buku ini, ada perjalanan yang tidak sederhana. Chelluz mengaku naskah tersebut sempat terbengkalai.

Selama lebih dari setahun, cerita itu hanya mengendap diam di dalam folder laptopnya.
Alasannya bukan karena ia kehilangan semangat menulis. Ia justru merasa cerita yang ia bangun terlalu jujur dan kelewat dekat dengan kenyataan hidup yang ia saksikan sendiri sebagai seorang jurnalis.

Baca Juga:  Polres Mabar Evakuasi Ibu Hamil di Tengah Cuaca Ekstrem Perairan Komodo

“Kadang ada cerita yang memang harus didiamkan dulu supaya emosinya matang. Saya sempat berhenti karena merasa novel ini terlalu penuh luka,” ungkap Chelluz kepada bajoupdate.com, Selasa 19 Mei 2026.

Dalam kesehariannya sebagai wartawan di Manggarai Barat, Chelluz memang terbiasa berada di garis depan.

Ia kerap melihat langsung benturan antara tradisi adat, kekuasaan, dan kemiskinan. Ia menyaksikan pariwisata Labuan Bajo yang berubah begitu cepat, dan bagaimana manusia sering kali kalah di hadapan sistem sosial yang kaku.

Pengalaman jurnalistik itulah yang perlahan menyusup dan membentuk nyawa dalam novelnya.

Di Antara Kabut dan Samudera menyoroti kehidupan Pipin, seorang dosen di Ruteng, dan Tatek, wartawan muda dari Labuan Bajo.

Hubungan asmara yang mereka jalin bertahun-tahun harus berhadapan dengan tembok tebal.

Cinta mereka kandas akibat tekanan kasta sosial dan ketiadaan restu keluarga.
Pipin dipaksa menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya yang memiliki jabatan mapan.

Sementara Tatek perlahan tersingkir, dianggap sekadar lelaki biasa tanpa masa depan yang menjanjikan.

Baca Juga:  Curhat Bule dan Wisnus Tak Bisa Lihat Komodo Malah Dapat Fosil

Setelah patah hati itu, cerita bergerak liar menuju perairan Taman Nasional Komodo. Di titik inilah, novel berubah haluan menjadi lebih emosional dan penuh benturan batin.

Tatek memilih lari ke laut. Ia bertransformasi menjadi sosok penyelam tangguh yang keras karena ditempa oleh ombak dan kesepian.

Menariknya, evolusi karakter Tatek ini justru terjadi saat naskah tersebut mengalami “mati suri” selama satu tahun.

Saat Chelluz kembali membuka laptopnya, ia merasa tokoh ciptaannya telah tumbuh dengan sendirinya.

“Awalnya Tatek saya bayangkan sebagai wartawan muda yang rapuh. Tapi setelah setahun, dia berubah. Laut membuatnya lebih keras, lebih dingin, tapi juga lebih jujur,” tutur Chelluz.

Dalam buku ini, Chelluz menolak menjadikan Labuan Bajo sekadar etalase pariwisata yang cantik.

Ia menggambar kota pesisir itu sebagai ruang yang keras, panas, dan penuh persaingan.

Kapal wisata, badai laut, kehidupan nelayan, hingga ambisi pariwisata super prioritas menjadi denyut nadi cerita.

Di sisi lain, Ruteng hadir melalui simbol “kabut” yang dingin dan samar—mewakili tekanan adat dan hierarki sosial. Sementara “samudera” menjadi simbol Labuan Bajo yang telanjang dan jujur.

Baca Juga:  Mengapa Kuota 1.000 Wisatawan TNK Ditolak?

Meski menyimpan kritik sosial soal kasta, gengsi, dan makna kehormatan yang penuh topeng, narasi novel ini tetap mengalir ringan.

Puncak dramatis novel ini terjadi ketika Pipin dan Tatek tanpa sengaja dipertemukan kembali di atas kapal wisata. Saat itu, kapal mereka dihantam badai hebat di perairan Komodo.

Di tengah amukan alam tersebut, status sosial, pangkat, dan harta tiba-tiba kehilangan maknanya.

“Laut selalu punya cara untuk menelanjangi manusia. Saat badai datang, semua topeng sosial runtuh,” tulis Chelluz dalam salah satu bagian novelnya.

Bagi sang penulis, ini bukan sekadar buku fiksi biasa. Di Antara Kabut dan Samudera adalah muara dari kumpulan keresahannya sebagai anak pesisir Flores dan seorang jurnalis.

Kini, cerita yang lahir dari sunyi dan aroma garam laut itu telah resmi berlayar. Buku ini sudah bisa didapatkan oleh publik secara daring melalui Google Books, Tokopedia, dan Shopee.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Di Balik Status Wisata Pemium, Warga Labuan Bajo Tercekik Harga LPJ Mahal
Turis Telantar, Kapal Tak Datang: Borok Industri Travel Bodong yang Menghantui Labuan Bajo
Darurat Energi di Labuan Bajo: Saat Kota Turis Super Premium Dihantam Krisis BBM dan Gas
Darurat Gas di Labuan Bajo: Harga Meroket, Pemkab Bertindak, namun Pertamina Sebut Pasokan Aman
Tolak Upah Murah di Kota Mahal, Buruh Labuan Bajo Tuntut Regulasi UMK Sendiri
Mengapa Kuota 1.000 Wisatawan TNK Ditolak?
Kegagalan Sistemik atau Pembiaran: Mengapa Nasib Guru Swasta Terus Dianaktirikan?
Asa yang Kandas di Ujung Kebijakan: Cerita Eks Tenaga Kontrak yang Terlupakan

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:26

Badai, Kasta, dan Patah Hati: Sisi Lain Pariwisata Labuan Bajo dalam Novel Chelluz Pahun

Sabtu, 16 Mei 2026 - 20:35

Di Balik Status Wisata Pemium, Warga Labuan Bajo Tercekik Harga LPJ Mahal

Senin, 11 Mei 2026 - 01:37

Turis Telantar, Kapal Tak Datang: Borok Industri Travel Bodong yang Menghantui Labuan Bajo

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:26

Darurat Energi di Labuan Bajo: Saat Kota Turis Super Premium Dihantam Krisis BBM dan Gas

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:28

Darurat Gas di Labuan Bajo: Harga Meroket, Pemkab Bertindak, namun Pertamina Sebut Pasokan Aman

Berita Terbaru

Saat relawan mengunjungi rumah Salmawati
di Dusun Nanga Na'e, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat,  Kabupaten Manggarai Senin 18 Mei 2026. Mereka membawa bantuan sembako.

Suara Warga

Saat Solidaritas Membasuh Luka Keluarga Aco di Manggarai

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:39