RUTENG — Theresia Dium menatap kosong ke arah tumpukan batu bata yang kini berserakan di atas sebidang tanah rumah berukuran 7×9 meter.
Perempuan 44 tahun itu tak lagi bisa mengenali bentuk bangunan yang selama ini ia sebut sebagai rumah.
Hanya butuh hitungan detik bagi gempa berkekuatan 7,7 Magnitudo yang berpusat di Nagekeo pada Sabtu (15/8/2026) untuk meratakan tempat berlindungnya.
Di Desa Compang Cibal, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, debu reruntuhan belum sepenuhnya luruh. Ratapan warga masih bersahutan.
Pagi itu, saat bumi berguncang hebat, Theresia sedang berada di rumah keluarganya di Copu, Desa Wae Codi.
Ia luput dari maut, tetapi tidak dari kenyataan pahit yang menunggunya saat pulang.
“Semua barang hancur. Rumah tembok batu bata hancur lebur,” kata Theresia saat berbicara dengan bajoupdate, Selasa (18/8/2026) sore.

Bagi Theresia, rumah itu bukan sekadar tumpukan semen dan bata. Bangunan itu adalah satu-satunya peninggalan dan benteng pertahanan yang ia besarkan bersama sang suami, Aloisius Handoko Paju, yang telah berpulang pada 2022 silam.
Kini, sebagai ibu tunggal, beban hidup sepenuhnya menindih kedua pundak Theresia. Ia harus menghidupi kedua anaknya yang masih bersekolah.
“Anak saya yang sulung baru merantau ke Bali. Sementara Nesi dan adiknya, Vara, masih kelas 2 SMP,” tuturnya.
Di tengah himpitan ekonomi pasca-bencana, kondisi finansial Theresia terbilang sangat rapuh. Ia bekerja sebagai petani serabutan.
Upah hariannya jauh dari kata layak: hanya Rp35.000 per hari. Angka yang bahkan di situasi normal pun memaksanya memutar otak hanya untuk membuat dapur tetap mengepul.
“Dengan harian 35 ribu per hari saya tidak bisa mencukupi kebutuhan. Sekarang dengan hancurnya rumah, mau tinggal di mana lagi?” keluhnya.
Tidak ada tabungan yang bisa menyelamatkan Theresia dari krisis ini. Seluruh perlengkapan rumah tangga dan harta bendanya tertimbun puing tanpa sisa.
Malam-malam di Compang Cibal kini dihabiskannya bersama anak remajanya beralaskan tanah, berlindung di bawah tenda darurat.
Mereka harus melawan dinginnya angin yang menusuk dari celah-celah terpal.
Hingga saat ini, negara baru hadir dalam bentuk bantuan darurat yang serba terbatas.
“Saya bertahan di kamp terpal, makan apa adanya. Memang ada bantuan; beras lima kilo, mi instan, dan minyak goreng,” kata Theresia.
Bantuan logistik itu mungkin cukup untuk memperpanjang napas selama beberapa hari. Namun, ia tidak menyelesaikan masalah paling fundamental: hilangnya ruang hidup.
Theresia memiliki satu tuntutan tegas kepada negara. Sebuah tuntutan yang lahir dari beban ganda yang harus ia pikul pasca-kematian suaminya.
“Harapannya harus ada bantuan rumah. Saya ini di satu sisi harus berperan sebagai seorang ayah bagi anak-anak,” tegasnya.
Theresia tidak sendirian dalam keputusasaan ini. Skala kerusakan akibat gempa di kawasan tersebut sangat masif.
Berdasarkan laporan sementara dari Kepala Desa Compang Cibal, Kristian Gour, tercatat ada 178 rumah warga yang terdampak gempa di wilayahnya.
Rincian data tersebut menunjukkan skala destruksi yang merata. Puluhan rumah masuk dalam kategori rusak berat (rata dengan tanah), sementara sisanya mengalami rusak sedang dan ringan.
Hampir seluruh pemilik 178 rumah tersebut kini terpaksa tudur di tenda-tenda darurat.
Kondisi serupa, atau bahkan lebih parah, terjadi di desa tetangga. Di Desa Wae Codi, bencana ini juga melumpuhkan kehidupan warga.

Di Dusun Cekok saja, belasan kepala keluarga seperti Belasius Ngawal, Urbanus Darot, Kanis Dalus hingga Florianus Adi harus kehilangan tempat tinggal.
Sementara rumah yang mengalami retak paling parah seperti rumah milik Martinus Jajak dan ratusan lainnya.
Laporan resmi dari Kepala Desa Wae Codi, Bonefasius Sel, menegaskan betapa mengerikannya dampak gempa pertengahan Agustus ini.
Lebih dari seratus rumah di desanya hancur dengan klasifikasi rusak berat, sedang, hingga ringan.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update





