LABUAN BAJO — “Mereka sempat meminta saya, ‘Tolong ambil video kami dari belakang saat kami menyeberang jembatan ini, ya’.”
Permintaan itu menjadi kalimat terakhir yang didengar Muhamad Muhardin dari dua wisatawan asal Austria yang tengah dipandunya.
“Mereka berjalan beriringan sambil tersenyum hangat ke arah kamera,” tutur Muhardin mengenang saat-saat terakhir korban.
Namun, hanya sepuluh meter setelah mereka melangkah menyusuri jembatan gantung kayu tersebut, petaka datang tak terduga.
Struktur kayu jembatan tiba-tiba patah. Muhardin menggambarkan suara patahan itu sangat keras, layaknya dahan pohon besar yang tumbang.
Dalam hitungan detik, jembatan ambruk total. Dua turis berinisial J (54) dan A (56) itu jatuh terhempas dari ketinggian sekitar sepuluh meter pada Minggu (24/05/2026) pukul 10.00 Wita.
Keduanya tewas seketika di dasar sungai yang mengering di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Sekretaris Desa Cunca Wulang, Benediktus Hartono (40), membenarkan bahwa bagian penyangga bawah jembatan tiba-tiba patah dan menyeret korban.
“Korbannya langsung jatuh mengenai batu besar di bawah jembatan. Memang kondisi di lokasi dipenuhi bebatuan,” ujarnya.
Pertanyaan atas Standar Keselamatan
Menurut keterangan awal, rombongan wisatawan sebelumnya sempat melintas di jembatan yang sama tanpa kendala.
Namun, informasi yang dihimpun media ini menyebutkan bahwa jembatan kayu yang menjadi jalur utama menuju destinasi wisata itu dilaporkan telah rusak sejak tahun 2021.
Fakta ini memicu pertanyaan besar terkait standar keselamatan di kawasan wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Benediktus mengatakan bahwa kerusakan pada bagian penyangga tidak terlihat dari permukaan jembatan.
“Secara kasat mata jembatan masih layak dilintasi karena bagian penyangga yang usang tidak terlihat dari atas. Apalagi jembatan ini sudah pernah direnovasi pada tahun 2023,” katanya.
Ia menduga ada faktor lain yang memicu ambruknya struktur tersebut.
“Kemungkinan karena beban berlebihan sehingga penyangganya patah,” tambahnya.
Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, membenarkan bahwa jembatan maut itu adalah aset milik pemerintah daerah.
Meski demikian, ia mengaku belum pernah menerima keluhan mengenai kondisi jembatan yang tak layak pakai.
Saat ini, Yulianus menegaskan pemerintah memprioritaskan penanganan jenazah alih-alih mengusut sejarah pemeliharaan jembatan.
“Kalau yang tadi kita fokus saja mengurus korban, kita tangani cepat, jemput, bawa ke sini (rumah sakit), dan itu yang prioritas kita,” ujar Yulianus.
Kendati demikian, ia berjanji akan melakukan perombakan dan evaluasi menyeluruh pascainsiden.
“Nanti apanya kita akan pasti evaluasi terkait itu, ya. Prinsip bahwa kita tidak mau ke depan ada kejadian serupa,” tegasnya.
Polisi Usut Dugaan Kelalaian
Di sisi lain, Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat langsung bergerak mengusut dugaan kelalaian pihak pengelola.
“Kami tidak main-main dengan keselamatan wisatawan yang berkunjung ke wilayah Manggarai Barat,” tegas Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang.
Aparat kepolisian telah memasang garis polisi di pintu masuk wisata dan ujung jembatan untuk mengamankan tempat kejadian perkara.
Tim Identifikasi Sat Reskrim juga tengah melakukan olah TKP untuk memeriksa kelayakan teknis jembatan tersebut. Pihak aparat desa dan saksi-saksi mulai dimintai keterangan.
“Kami juga akan memanggil pihak pengelola destinasi wisata Cunca Wulang untuk dimintai keterangan secara intensif terkait standar keselamatan (SOP) dan pemeliharaan infrastruktur yang mereka terapkan selama ini,” tambah Christian.
Pemulangan Jenazah Dipercepat
Pihak imigrasi memastikan bahwa kedua korban masuk ke Indonesia pada 14 Mei melalui Bali dengan visa kunjungan wisata.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, meyakini kedua korban adalah sepasang suami istri berdasarkan kesamaan nama belakang.
Saat ini, proses repatriasi atau pemulangan jenazah tengah disiapkan.
“Kami sudah menghubungi Direktorat Jenderal Imigrasi dan pihak konsuler di Kementerian Luar Negeri. Mereka juga sudah terhubung dengan Kedutaan Austria,” jelas Charles.
Mengingat insiden terjadi pada hari libur, penerbitan notifikasi resmi dan komunikasi lanjutan dengan perwakilan keluarga dikebut pada hari kerja.
Saat ini jenazah korban telah dievakuasi oleh Tim SAR menuju RSUD Komodo Labuan Bajo.
Buntut dari tragedi mematikan ini, objek wisata Air Terjun Cunca Wulang resmi ditutup sementara untuk umum hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update





