LABUAN BAJO — Dampak perubahan iklim kian terasa dan nyata di depan mata. Masyarakat pesisir kini menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menghadapi ancaman tersebut.
Sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, rehabilitasi mangrove gencar dilakukan di Warloka Pesisir, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.
Penanaman bibit mangrove memang langkah awal yang penting. Namun, monitoring pasca-tanam jauh lebih krusial untuk memastikan pohon yang ditanam tetap hidup dan tumbuh.

Jumat (7/8/2026), pesisir bagian timur Kampung Warloka dipanggang terik matahari. Di atas hamparan pasang surut, Deisy N. Ayhuan (39) menatap lekat sehelai pucuk mangrove muda.
Perwakilan Langkah Ekologis Nusantara (LENTERA) itu menunjuk seekor hama kecil. “Ini ada satu. Dia nempel, terus dia makan daunnya,” kata Deisy kepada bajoupdate.com.
Hama pesisir adalah ancaman yang nyata. Di Warloka, bibit mangrove tak hanya diincar siput, tapi juga ulat, kepiting, hingga kambing yang doyan memakan pucuk muda.
Bagi sebagian pihak, menanam mangrove seringkali sebatas seremoni sehari. Datang, tancap bibit, foto-foto, lalu pulang.
Faktanya, program rehabilitasi di Warloka sudah berjalan sejak 2023 oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang programnya selesai di tahun 2025.
Sayangnya, sejak 2023, upaya di Warloka Pesisir sebatas penanaman massal. Belum pernah ada monitoring dan analisa mendalam terkait kondisi tanaman tersebut.

Melihat celah kritis itu, LENTERA mengambil langkah awal. Mereka bergerak memonitoring mangrove Warloka Pesisir bersama komunitas warga lokal, SEEMANGO (Selamatkan Ekosistem Mangrove).
Tujuannya jelas: memastikan upaya keras rehabilitasi mangrove yang sudah dilakukan sejak awal tidak berujung sia-sia.
“Bagaimana kita tahu mangrove yang ditanam tetap tumbuh dan hidup? Harus ada monitoring berkala 3 sampai 6 bulan sekali,” tegas Deisy.
Hingga Agustus 2026, mereka telah melakukan dua kali monitoring lapangan.
Monitoring pertama menyasar Area 1 di RT 7 pada 11 Juli 2026. Sementara monitoring kedua dilakukan di Area 3, RT 10 pada 4 Agustus 2026.
Dalam pelaksanaannya, LENTERA dan SEEMANGO tidak sendirian. Mereka dibantu oleh para mahasiswa KKN dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Warmadewa-Bali yang rela turun gelanggang ke dalam lumpur.
Hasil pantauan di lapangan terbilang cukup menohok. Banyak bibit yang kalah oleh seleksi alam dan serangan hama.
“Kemarin di Area 1, dari 600 pohon yang dicek, ada 92 yang mati. Yang mati itu harus disulam kembali, ditanam ulang,” papar Deisy.
Fakta di lapangan ini sekaligus meluruskan jargon instan “tanam mangrove, panen kepiting” yang kerap didengungkan banyak pihak.
Saat bibit mangrove masih kecil, kepiting justru mematikan tunas. Kepiting baru bisa dipanen jika pohon mangrove sudah besar dan membentuk akar tunjang sebagai habitat alami mereka.
Krusialnya perawatan ini sayangnya belum diimbangi oleh dukungan pihak eksternal, termasuk pemerintah.
Selama ini, dukungan dan pembiayaan acapkali hanya dialokasikan untuk kegiatan seremonial penanaman.
Padahal, fase pemeliharaan sangat membutuhkan biaya. Belum pernah ada pembiayaan atau support khusus yang ditujukan untuk operasional monitoring dan perawatan mangrove secara berkala.
“Pemerintah sudah pernah ikut menanam, dan itu langkah yang baik. Ke depan, dukungan pihak eksternal sangat kami harapkan, khususnya untuk biaya monitoring lanjutan,” harap Deisy.
Kini, LENTERA bergerak secara mandiri (self-funding) dengan budget yang ditekan seminim mungkin. Warga lokal pun mengambil peran vital, salah satunya Ibu Saripa yang konsisten mengawal pembibitan di kampung Warloka.
Di atas pekatnya lumpur Warloka, keringat komunitas lokal membuktikan satu hal. Napas konservasi butuh ketahanan dan kerja keras jangka panjang, bukan sekadar perayaan sehari.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update








