Melawan Ancaman Iklim: Tanam Mangrove Mudah, Merawatnya yang Susah

- Redaksi

Sabtu, 8 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Deisy N. Ayhuan, Perwakilan dari Langkah Ekologis Nusantara (LENTERA) tengah monitoring mangrove yang baru ditanam sebelumnya. (FOTO/Fons Abun).

Deisy N. Ayhuan, Perwakilan dari Langkah Ekologis Nusantara (LENTERA) tengah monitoring mangrove yang baru ditanam sebelumnya. (FOTO/Fons Abun).

LABUAN BAJO Dampak perubahan iklim kian terasa dan nyata di depan mata. Masyarakat pesisir kini menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menghadapi ancaman tersebut.

Sebagai upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, rehabilitasi mangrove gencar dilakukan di Warloka Pesisir, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.

Penanaman bibit mangrove memang langkah awal yang penting. Namun, monitoring pasca-tanam jauh lebih krusial untuk memastikan pohon yang ditanam tetap hidup dan tumbuh.

Di Warloka, bibit mangrove tak hanya diincar siput, tapi juga ulat, hingga kambing yang doyan memakan pucuk daun muda. (FOTO/Fons Abun).

Jumat (7/8/2026), pesisir bagian timur Kampung Warloka dipanggang terik matahari. Di atas hamparan pasang surut, Deisy N. Ayhuan (39) menatap lekat sehelai pucuk mangrove muda.

Perwakilan Langkah Ekologis Nusantara (LENTERA) itu menunjuk seekor hama kecil. “Ini ada satu. Dia nempel, terus dia makan daunnya,” kata Deisy kepada bajoupdate.com.

Hama pesisir adalah ancaman yang nyata. Di Warloka, bibit mangrove tak hanya diincar siput, tapi juga ulat, kepiting, hingga kambing yang doyan memakan pucuk muda.

Baca Juga:  Komodo Padar Tour Offers Rural Flores Itinerary as Island Trip Alternative

Bagi sebagian pihak, menanam mangrove seringkali sebatas seremoni sehari. Datang, tancap bibit, foto-foto, lalu pulang.

Faktanya, program rehabilitasi di Warloka sudah berjalan sejak 2023 oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang programnya selesai di tahun 2025.

Sayangnya, sejak 2023, upaya di Warloka Pesisir sebatas penanaman massal. Belum pernah ada monitoring dan analisa mendalam terkait kondisi tanaman tersebut.

Deisy N. Ayhuan, Perwakilan dari Langkah Ekologis Nusantara (LENTERA).

Melihat celah kritis itu, LENTERA mengambil langkah awal. Mereka bergerak memonitoring mangrove Warloka Pesisir bersama komunitas warga lokal, SEEMANGO (Selamatkan Ekosistem Mangrove).

Tujuannya jelas: memastikan upaya keras rehabilitasi mangrove yang sudah dilakukan sejak awal tidak berujung sia-sia.

Baca Juga:  Di Bawah Ketiak Labuan Bajo, Anak-Anak Boleng Bertaruh Nyawa pada Sebilah Bambu

“Bagaimana kita tahu mangrove yang ditanam tetap tumbuh dan hidup? Harus ada monitoring berkala 3 sampai 6 bulan sekali,” tegas Deisy.

Hingga Agustus 2026, mereka telah melakukan dua kali monitoring lapangan.
Monitoring pertama menyasar Area 1 di RT 7 pada 11 Juli 2026. Sementara monitoring kedua dilakukan di Area 3, RT 10 pada 4 Agustus 2026.

Dalam pelaksanaannya, LENTERA dan SEEMANGO tidak sendirian. Mereka dibantu oleh para mahasiswa KKN dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Warmadewa-Bali yang rela turun gelanggang ke dalam lumpur.

Hasil pantauan di lapangan terbilang cukup menohok. Banyak bibit yang kalah oleh seleksi alam dan serangan hama.

“Kemarin di Area 1, dari 600 pohon yang dicek, ada 92 yang mati. Yang mati itu harus disulam kembali, ditanam ulang,” papar Deisy.

Fakta di lapangan ini sekaligus meluruskan jargon instan “tanam mangrove, panen kepiting” yang kerap didengungkan banyak pihak.

Baca Juga:  BPN Mabar Disemprot Massa: Badan Pertanahan atau Badan Pertahanan Investor?

Saat bibit mangrove masih kecil, kepiting justru mematikan tunas. Kepiting baru bisa dipanen jika pohon mangrove sudah besar dan membentuk akar tunjang sebagai habitat alami mereka.

Krusialnya perawatan ini sayangnya belum diimbangi oleh dukungan pihak eksternal, termasuk pemerintah.

Selama ini, dukungan dan pembiayaan acapkali hanya dialokasikan untuk kegiatan seremonial penanaman.

Padahal, fase pemeliharaan sangat membutuhkan biaya. Belum pernah ada pembiayaan atau support khusus yang ditujukan untuk operasional monitoring dan perawatan mangrove secara berkala.

“Pemerintah sudah pernah ikut menanam, dan itu langkah yang baik. Ke depan, dukungan pihak eksternal sangat kami harapkan, khususnya untuk biaya monitoring lanjutan,” harap Deisy.

Kini, LENTERA bergerak secara mandiri (self-funding) dengan budget yang ditekan seminim mungkin. Warga lokal pun mengambil peran vital, salah satunya Ibu Saripa yang konsisten mengawal pembibitan di kampung Warloka.

Di atas pekatnya lumpur Warloka, keringat komunitas lokal membuktikan satu hal. Napas konservasi butuh ketahanan dan kerja keras jangka panjang, bukan sekadar perayaan sehari.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Rumah Rusak Berat, Warga Desa Tengku Lese Belum Tersentuh Bantuan
Krisis Air Bersih di Warloka Pesisir, Warga Tagih Janji Manis PDAM Wae Mbeliling
Jerit Warga Labuan Bajo Dikepung Bising Karaoke: Kami Punya Hak untuk Tidur
Kisah Pilu Nelayan Golo Mori: Tangkap Berlimpah Ikan Tanpa Fasilitas Dermaga Layak
Saat Solidaritas Membasuh Luka Keluarga Aco di Manggarai
Jembatan Vital di Boleng Putus, Wakil Rakyat Akui Anggaran Infrastruktur Anjlok
Ancam Keselamatan Siswa SD, Warga Tando Gotong Royong Perbaiki Jalan Curam dan Licin
Fatamorgana Kemajuan Labuan Bajo: Pariwisata Gemerlap, Hak Agraria Warga Terampas

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:40

Rumah Rusak Berat, Warga Desa Tengku Lese Belum Tersentuh Bantuan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 13:57

Krisis Air Bersih di Warloka Pesisir, Warga Tagih Janji Manis PDAM Wae Mbeliling

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:49

Melawan Ancaman Iklim: Tanam Mangrove Mudah, Merawatnya yang Susah

Senin, 27 Juli 2026 - 14:39

Jerit Warga Labuan Bajo Dikepung Bising Karaoke: Kami Punya Hak untuk Tidur

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:29

Kisah Pilu Nelayan Golo Mori: Tangkap Berlimpah Ikan Tanpa Fasilitas Dermaga Layak

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17