LABUAN BAJO – SENIN, 6 April 2026. Matahari di Desa Tanjung Boleng seolah tepat berada di pucuk ubun-ubun saat lonceng sekolah berdentang. Namun, bagi murid-murid SDN Nanga Boleng, bunyi besi itu bukan sekadar tanda pelajaran usai. Ia adalah lonceng peringatan: ritual bertahan hidup baru saja dimulai.
Satu per satu, anak-anak itu berjongkok di bibir teras. Tak ada tawa riang. Tangan-tangan kecil mereka dengan cekatan melepas sepatu—harta paling berharga agar tak lekas rusak dimakan zat garam. Di tangan kiri mereka menenteng sepatu usang, sementara tangan kanan bersiap meraba bilah-bilah bambu yang mulai melapuk dimakan usia.
Di bawah kaki mereka, air laut keruh sedang naik dengan angkuh.
“Kalau tidak dilepas, besok tidak bisa dipakai karena basah dan bau garam,” bisik seorang siswa. Matanya nanar menatap jembatan darurat sepanjang 100 meter yang membentang di depannya. Sebuah titian rapuh yang memisahkan antara ruang kelas dan jalan pulang.


SDN Nanga Boleng hanyalah titik kecil di peta Kecamatan Boleng. Secara geografis, ia hanya berjarak 30 menit berkendara dari Labuan Bajo—kota yang kini sedang bersolek dengan dana triliunan rupiah, didapuk sebagai destinasi wisata “Super Prioritas”. Di sana, hotel-hotel mewah berdiri tegak dengan kolam renang yang airnya tak pernah surut. Namun, di sekolah ini, air yang melimpah justru menjadi kutukan yang mengepung masa depan.
Setiap pukul 10.00 hingga 15.00 Wita, air laut pasang akan merayap masuk dari empat penjuru: utara, timur, barat, dan selatan. Dalam sekejap, SDN Nanga Boleng berubah menjadi pulau terisolasi di tengah kepungan lumpur dan amisnya air asin.
Monumen Pengabaian Setinggi Dua Meter
Untuk bisa kembali ke pelukan orang tua di Kampung Rungkam, Gerak, dan Merawang, para siswa harus meniti jembatan bambu setinggi dua meter. Ini bukan sekadar infrastruktur; ini adalah monumen hidup atas pengabaian negara.
Setiap langkah harus presisi. Salah sedikit, kaki-kaki mungil itu akan terperosok ke celah bambu yang sudah keropos. Tangan mereka mencengkeram erat bambu penyangga yang bergoyang setiap kali beban tubuh menapak. Pandangan mereka terkunci ke bawah, fokus pada pijakan, seolah hidup mereka hanya bergantung pada sebilah kayu yang digali dari kebun warga.
“Air pasang dimulai pukul 10.00 hingga 15.00, itu nanti baru perlahan surut hingga sore hari,” ujar Rusli, seorang warga setempat. Ia adalah saksi bisu bagaimana rasa takut telah menjadi menu harian anak-anak di sana.

Rusli menunjuk halaman barat sekolah yang kini mulai berubah menjadi rawa. Ia memperlihatkan batas air di dinding rumahnya yang kian tinggi meski fondasi sudah ditinggikan berkali-kali. “Kadang sampai ke bibir pintu, sampai ke teras,” tambahnya getir.
Krisis ini bukan bencana alam murni, melainkan kegagalan struktural. Tanggul sepanjang 500 meter yang seharusnya menjadi benteng terakhir pemukiman kini hanya menyisakan tumpukan batu yang tercerai-berai. Materialnya roboh dihantam ombak dan dibiarkan tanpa perbaikan selama bertahun-tahun. Akibatnya, air laut masuk tanpa izin, membawa lumpur ke halaman sekolah dan merayapi dinding-dinding kelas.
Jika Anda menyentuh dinding kelas itu, semennya akan terkelupas di tangan. Zat garam telah menyusup ke pori-pori bangunan, merapuhkan tiang-tiang beton yang seharusnya menyangga mimpi anak-anak Boleng.

Guru yang Menjelma Tukang, Negara yang Absen
Di tengah absennya peran pemerintah, para guru dan orang tua murid dipaksa mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya dipanggul negara.
Karlin, salah satu guru di sekolah itu, menceritakan bagaimana rekan-rekan sejawatnya kerap beralih profesi menjadi tukang bangunan dadakan. Setiap kali jembatan bambu itu mulai bergoyang atau ada bilah yang patah, mereka yang akan turun tangan.
“Yang paling sering melakukan perbaikan itu bapak-bapak guru. Tapi kalau sudah terlalu rusak, berarti kami harus gotong-royong dengan orang tua murid,” tutur Karlin.
Bagi mereka, melihat siswa terperosok ke dalam air laut adalah luka kolektif yang berulang. Bambu yang dipanggang matahari dan direndam air laut akan cepat melapuk. “Paling yang kami takut itu kalau hujan, jembatan jadi sangat licin,” ujar seorang siswa dengan nada cemas yang tak semestinya dimiliki anak seusianya.

Bagi siswa dari Kampung Boleng, nasib mereka jauh lebih berat. Tak ada jembatan alternatif. Mereka dipaksa menerjang air laut, membiarkan seragam mereka basah kuyup, dan kulit mereka bersentuhan langsung dengan pekatnya lumpur laut setiap berangkat dan pulang sekolah.
Ironi di Gerbang Etalase Dunia
Ironi di Nanga Boleng terasa mencekik leher. Di saat pemerintah pusat dan daerah sibuk memoles Labuan Bajo sebagai etalase kemewahan dunia, anak-anak di Nanga Boleng harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan hak dasar mereka: pendidikan yang aman.
Triliunan rupiah mengalir untuk aspal mulus menuju pelabuhan dan dermaga mewah, namun tak ada sisa recehan untuk memperbaiki tanggul 500 meter yang menghancurkan satu sekolah.

Harapan warga sebenarnya sederhana, jauh dari ambisi megaproyek pariwisata. Mereka hanya ingin tanggul itu tegak kembali. Mereka ingin anak-anak mereka bisa berjalan menuju kelas dengan sepatu yang tetap terpasang, tanpa tangan yang gemetar mencengkeram bambu lapuk.
Hingga sore itu, ketika air laut mulai surut meninggalkan kerak lumpur di halaman sekolah, harapan itu masih menggantung di sela-sela tiang jembatan yang reyot.
Bagi siswa SDN Nanga Boleng, sekolah bukan lagi sekadar tempat mengejar cita-cita, melainkan medan juang melawan dinginnya sikap penguasa. Besok, mereka akan kembali lagi: melepas sepatu, memanjat bambu, dan berdoa agar hari ini mereka tidak terperosok ke dalam asinnya janji-janji yang tak kunjung tunai.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi






