RUTENG — Di balik dinding sederhana sebuah rumah di Dusun Nanga Na’e, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Salmawati telah menghabiskan lebih dari dua dekade hidupnya dalam kesunyian yang berat.
Selama 26 tahun, ia merawat putra tunggalnya, Aco, yang lahir dengan keterbatasan fisik. Pemuda itu tak pernah mampu berjalan tegak layaknya anak muda seusianya.
Setiap harinya bagi sang ibu adalah perjuangan bertahan hidup yang nyaris tanpa suara. Namun, pada Senin (18/05/2026), keheningan yang membelenggu keluarga itu akhirnya pecah oleh tangis bahagia.
Sekelompok relawan dari Gerakan Rakyat Peduli Desa (GRPD) melangkah masuk ke rumah Salmawati.
Mereka tidak datang sendirian. Turut serta perwakilan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Revolusi Demokratik (GRD) Manggarai, dan aparat desa setempat.
Kehadiran mereka membawa sesuatu yang selama ini terasa asing bagi Salmawati dan Aco: perhatian dan kepedulian.
Tangan keriput Salmawati gemetar saat menerima paket bantuan siang itu.
Paket tersebut berisi kebutuhan dasar yang amat berharga—beras, minyak goreng, susu, telur, perlengkapan mandi, hingga sejumlah uang tunai.
Bagi banyak orang, deretan barang itu mungkin tampak biasa. Namun bagi ibu dan anak ini, bantuan itu ibarat jangkar penyelamat di tengah badai kehidupan.
Air mata luruh membasahi wajah Salmawati. Dengan suara yang tertahan di tenggorokan, ia menggenggam erat tangan para relawan.
“Ya Tuhan… saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Terima kasih, terima kasih banyak,” isaknya, seolah enggan melepaskan rasa hangat yang baru saja ia rasakan.
“Anak saya lahir dalam keadaan tidak bisa apa-apa, tidak bisa berjalan, tidak bisa bekerja,” tutur Salmawati getir.
Ia mengisahkan bagaimana selama bertahun-tahun merawat Aco sendirian. Mereka hidup pas-pasan, dan sering kali berjuang keras hanya untuk sekadar bisa makan.
“Bantuan ini rasanya seperti mimpi. Kalian datang membawa kasih sayang yang begitu besar. Ini sangat berarti bagi kami, lebih dari apa pun,” tambahnya dengan rasa syukur yang meluap.
Bantuan tersebut bukan turun dari langit, melainkan hasil urunan masyarakat luas yang digalang oleh GRPD melalui media sosial.
Ketua GRPD, Sebastianus Jaya, menatap haru pertemuan tersebut. Hatinya ikut teriris melihat langsung realitas hidup Aco dan ibunya yang selama ini tersembunyi.
Ia menegaskan, kedatangan mereka jauh dari sekadar urusan membagikan barang secara karitatif.
“Kami datang bukan untuk memberi amal, tapi untuk menyampaikan kasih sayang,” ujar Sebastianus.
“Melihat kondisi Aco dan ibunya, hati kami terasa teriris. Mereka hidup dalam keterbatasan, namun tetap sabar dan tabah.”
Menurutnya, sembako dan uang tunai tak akan serta-merta mengubah seluruh realitas hidup keluarga tersebut secara instan.
“Tapi kami berharap ini bisa menjadi penyejuk hati, bukti bahwa di luar sana masih banyak orang yang peduli, masih banyak yang menganggap mereka saudara,” tegasnya.
Lebih dari sekadar kisah Aco, Sebastianus mengingatkan bahwa ini adalah cermin dari fenomena yang lebih besar.
Ada banyak warga di pelosok desa yang menanggung derita dalam diam, seolah terlupakan dan luput dari perhatian bersama.
“Setiap sumbangan, sekecil apa pun, adalah harapan bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan,” kata Sebastianus.
“Kehadiran para dermawan mengajarkan kami satu hal: bahwa kebahagiaan terbesar adalah saat kita mampu membuat orang lain berhenti bersedih, walau hanya sedikit.”
Hari itu di Desa Paralando ditutup dengan senyum tipis yang terbit di bibir Aco dan ibunya, berbaur dengan sisa air mata.
Beban di pundak Salmawati mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tahu bahwa ia tak lagi memikulnya sendirian.
GRPD kini masih terus membuka pintu donasi. Mereka berharap lebih banyak tangan yang bersedia merengkuh Aco, memastikan hari-hari dengan sang ibu berjalan lebih layak, lebih ringan, dan penuh kasih sayang.
Penulis : Ofantri Nero
Editor : Fons Abun






