LABUAN BAJO — Sore itu, Selasa 26 Mei 2026 sekitar pukul 16.30 WITA, angin berembus pelan di pesisir Kampung Soknar, Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat.
Di tepi pantai, Muhamad Said tampak menunduk, sibuk merapikan jala ikannya yang koyak.
Tangan rentanya telaten menjahit kembali tali-tali pukat yang telah putus.
Di belakangnya, membentang sebuah dermaga kayu yang kondisinya memprihatinkan—lapuk, keropos, dan sebagian besar kayunya telah terlepas dari tiang penyangga.
Bagi Said dan ratusan nelayan di sana, dermaga itu dulunya adalah jantung kehidupan. Namun kini, bangunan itu tak lebih dari sekadar monumen usang.
“Dulu, setelah dibangun, perahu nelayan bersandar pakai dermaga ini. Sekarang kondisinya sudah rusak begini, tidak bisa sandar lagi,” tutur Said, Selasa sore.
Kekecewaannya tak berhenti pada kondisi fisik dermaga. Ia juga menyoroti bantuan perlengkapan alat tangkap dari pemerintah yang dinilainya kerap salah sasaran.
“Bantuan ada, tapi tidak tepat sasaran,” tambahnya lirih.
Rasa frustrasi Said kian menebal setiap kali masa pemilihan umum tiba.
Rentetan politisi silih berganti datang ke Golo Mori, menebar janji manis untuk menyuarakan perbaikan dermaga.
“Pas kampanye, banyak yang bilang mau bantu teruskan suara kita dari bawah ini. Tapi praktiknya, tidak ada realisasi,” keluhnya.
Harapan Said sebenarnya sangat sederhana. “Pokoknya hanya ini saja dermaganya tempat nelayan sandar perahu. Maunya ya dibangun,” ujarnya penuh harap.
Harapan Said adalah cerminan suara mayoritas warga Kampung Soknar. Dari sekitar 120 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di wilayah tersebut, 95 persen di antaranya menggantungkan hidup sebagai nelayan.

Nelayan Soknar Mampu Kumpulkan Hingga 1 Ton Ikan Per Hari
Para nelayan di wilayah Soknar tengah merasakan berkah dari melimpahnya hasil tangkapan laut. Dalam sehari, nelayan setempat rata-rata mampu mengumpulkan ratusan kilogram hingga lebih dari satu ton berbagai jenis ikan.
Muhammad Nasir, salah satu nelayan Soknar, mengungkapkan bahwa standar tangkapan harian biasanya berada di kisaran 200 kilogram.
Namun, belakangan ini jumlah tangkapan mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
“Kisarannya, standar di atas sekitar 200 kilo satu hari. Bahkan kalau hari ini, ikan masuk sejenis Kombong itu kurang lebih 400 kilo. Kemarin hampir satu ton, bahkan lebih,” ujar Nasir saat diwawancarai.
Nasir merinci, tingginya volume tangkapan terlihat dari jumlah boks yang berhasil dikumpulkan. Pada hari sebelumnya, ia berhasil mendapatkan 16 boks ikan Kombong, di mana masing-masing boks memiliki berat sekitar 42 kilogram.
Total tangkapan jenis ikan Kombong tersebut diperkirakan hampir mencapai satu ton. Sementara itu, untuk hari ini, Nasir mencatat hasil tangkapan bervariasi.
“Hari ini ikan Lure ada 200 kilo, sedangkan ikan Kombong ada hampir 300 kilo,” jelasnya.
Jika diakumulasikan dari berbagai jenis ikan tangkapan, Nasir mengonfirmasi bahwa kisaran total tangkapan nelayan Soknar per harinya sangat melimpah.
“Dari berbagai jenis ikan, kisarannya di atas setengah ton (500 kilo), minimal hampir satu ton, bahkan lebih dari satu ton,” pungkas Nasir menutup data tangkapannya.
Melimpahnya hasil tangkapan ini tentu menjadi angin segar bagi perputaran ekonomi para nelayan dan masyarakat pesisir di Soknar.

Dibangun Sejak Bupati Fidelis Pranda
Kepala Desa Golo Mori, Samaila, membenarkan betapa krusialnya peran infrastruktur tersebut.
“Jika berbicara terkait Dermaga Soknar, ini sebenarnya urat nadi masyarakat nelayan,” jelasnya.
Dermaga sepanjang 270 meter itu dibangun pada tahun 2010. Pembangunannya dikerjakan pada masa akhir transisi jabatan Bupati Manggarai Barat saat itu, Fidelis Pranda.
Samaila menjelaskan, perairan di sekitar Soknar memiliki arus yang cukup deras.
Kondisi ini memaksa kapal dan perahu nelayan untuk menambat agak ke arah lautan, menjadikan dermaga sebagai fasilitas yang mutlak dibutuhkan.
Namun, kerusakan parah selama empat tahun terakhir mengubah rutinitas warga yang meletihkan.
“Tiap hari nelayan melakukan pembongkaran ikan. Karena dermaga rusak, sekarang mereka langsung ke bibir pantai,” kata Samaila.
Pemerintah desa sebenarnya tidak tinggal diam. Samaila mengaku telah berupaya mencari jalan keluar dengan mengajukan proposal kepada Dinas Perikanan tingkat kabupaten.
Sayangnya, upaya tersebut membentur tembok birokrasi. “Dari Dinas Perikanan menyampaikan bahwa itu sudah bukan tanggung jawab mereka, melainkan wewenang pemerintah provinsi,” tuturnya.
Sejak saat itu, pihak desa seolah kehilangan akses. Perbaikan dermaga terbengkalai, membiarkan para nelayan berjuang sendiri di tengah meningkatnya kebutuhan pasokan ikan seiring ramainya kunjungan tamu ke kawasan Golo Mori.
Selain Dermaga Rusak, Nelayan Kesulitan Mendapatkan BBM
Ketua RT Soknar, Abdul Gani, mengatakan kerusakan dermaga sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.
Menurutnya, dermaga tersebut adalah fasilitas vital yang juga berfungsi sebagai terminal transit bagi warga yang akan menuju pulau seberang, seperti Rinca dan Kerora.
“Dermaga ini sudah sangat parah. Kami tidak bosan-bosan menyampaikan keluhan kepada pemerintah terkait agar senantiasa melihat kondisi dermaga, kemudian memperbaikinya demi kebutuhan masyarakat nelayan,” kata Abdul Gani.
Sebagai penampung ikan nelayan, Abdul sangat bergantung pada infrastruktur tersebut. Saat musim panen tiba, ia bisa mengirim 150 hingga 200 kilogram ikan per pengiriman ke Labuan Bajo, hingga tiga kali dalam sepekan, untuk diteruskan ke Bali dan Makassar.
Namun, tantangan pesisir tidak berhenti pada infrastruktur. Harga dan kelangkaan BBM, khususnya jenis Solar dan Pertalite, menjadi masalah kronis yang terus menjerat nelayan.
“BBM ini keluhan permanen masyarakat nelayan. Solar itu sangat mahal. Kadang-kadang kita siapkan uangnya, tapi solarnya tidak dapat,” ungkap Abdul.
Ia menambahkan, kelangkaan ini memaksa nelayan membeli bahan bakar dengan harga tak masuk akal demi bisa melaut.
“Mau harga berapa pun, kalau nelayan sudah butuh sampai Rp300.000 untuk satu jerigen 20 liter, tetap dia beli. Tapi kalau [barangnya] tidak ada, mau bagaimana?” keluhnya.
Beban warga kian berat saat memasuki musim angin Tenggara seperti saat ini. Cuaca buruk dan tangkapan yang anjlok membuat pendapatan nelayan menurun drastis, memaksa sebagian dari mereka menyandarkan perahu dan mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup.
Secercah Harapan dari Kampung Lenteng
Meski asa di Soknar tampak redup, secercah terang muncul dari Kampung Lenteng. Permukiman nelayan ini berjarak hanya sekitar setengah kilometer dari Soknar.
Di Dusun Lenteng yang dihuni sekitar 35 KK tersebut, pemerintah pusat melalui kementerian terkait tengah mewacanakan pembangunan Kampung Nelayan Modern Merah Putih.
“Orang kementerian sudah datang untuk survei, dan saya langsung berdialog dengan mereka,” ungkap Samaila.
Saat ini, rencana tersebut telah mengerucut dan hanya tinggal menunggu keputusan final dari menteri. Jika terealisasi, proyek ini akan mencakup pembangunan berbagai infrastruktur vital bagi nelayan.
Salah satu yang diusulkan adalah dermaga baru sepanjang 250 meter. Jalurnya didesain membelah rimbunnya hutan mangrove yang teduh dan tak bergelombang, menjamin keamanan kapal nelayan yang keluar masuk.
Kehadiran Kampung Nelayan Modern ini nantinya tidak hanya akan memperbaiki kualitas hidup warga, tetapi juga menjaga denyut nadi ekonomi historis di poros selatan Manggarai Barat.
Lenteng bukanlah kampung sembarangan. Di sana, beroperasi sebuah pasar tradisional yang diyakini sebagai pasar barter tertua di wilayah tersebut.
“Lenteng itu, dari zaman kami belum lahir saja pasarnya sudah ada,” kenang Samaila.
Dahulu, pasar ini menjadi pusat pertukaran antara hasil pertanian dari darat dengan hasil tangkapan laut dari pulau-pulau sekitar.
Tradisi pertukaran barang atau barter itu ternyata masih bertahan teguh hingga hari ini.
Meski sebagian transaksi perlahan mulai menggunakan uang konvensional, ruh pasar barter tidak hilang.
“Hasil pertanian ditukar dengan ikan. Masalah harga, dikonversikan saja nilainya. Itu masih berjalan,” jelasnya.
Pasar Lenteng berdenyut setiap hari Sabtu. Geliatnya sangat singkat, dimulai pukul 06.00 pagi dan langsung berakhir sekitar pukul 08.00 WITA.
Namun, daya tariknya tak pernah pudar bagi masyarakat pulau maupun desa-desa tetangga. Apalagi seiring dengan akses jalan aspal yang kini kian mulus menuju Golo Mori.
“Di Pasar Lenteng, orang sekarang lebih ramai berkunjung. Selain jalannya sudah bagus, ikannya masih segar semua karena belum disentuh es,” tutup Samaila, menyimpan optimisme bahwa masa depan nelayannya perlahan akan membaik.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update





