Hilirisasi Mineral: Mengapa RI terancam ‘kutukan sumber daya’ jika hanya fokus ekstraksi?

- Redaksi

Selasa, 4 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu (01/08).

Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu (01/08).

JAKARTA Hilirisasi mineral kritis di Indonesia dinilai terancam gagal memberikan manfaat ekonomi maksimal jika pemerintah hanya berfokus pada aktivitas ekstraksi sumber daya alam.

Indonesia didorong untuk segera membangun ekosistem industri yang mampu menciptakan nilai tambah serta menarik investasi jangka panjang.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Direktur Angin Dampak Jaya, Saskia Tjokro, dalam ajang Indonesia Net Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu (01/08).

Saskia menegaskan, keberhasilan kebijakan hilirisasi tidak bisa diukur semata dari banyaknya tambang atau pabrik pemurnian (smelter) yang dibangun.

Menurutnya, pemerintah harus menciptakan ekosistem industri yang mampu mendorong inovasi, transfer teknologi, dan membuka lapangan kerja berkualitas.

Ia mencontohkan kawasan Weda Bay yang kini menjadi percontohan ekosistem industri pemerintah dan menarik perhatian negara berkembang lain seperti Ghana, Uganda, dan Kolombia.

Baca Juga:  Demi Minimarket, Trotoar Proyek 'Triliunan' Era Jokowi di Labuan Bajo Dibongkar Paksa

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan industri membawa konsekuensi sosial dan lingkungan yang memerlukan pengawasan ketat.

“Ketika berinvestasi, kami tidak melakukannya secara ekstraktif. Tujuan investasi harus memiliki manfaat yang baik secara inheren, bukan hanya mengejar keuntungan ekonomi semata,” ujar Saskia.

Saskia mendesak pemerintah untuk menetapkan regulasi yang tegas terkait standar keberlanjutan, mencakup indikator ketenagakerjaan, keselamatan kerja, hingga dampak lingkungan.

Standar tersebut, tegasnya, harus menjadi aturan wajib bagi perusahaan dan bukan sekadar bahan negosiasi antara investor dan pelaku usaha.

Apalagi, Saskia menyoroti fakta bahwa lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini masih bergantung pada ekstraksi sumber daya alam.

Baca Juga:  Edi Endi Sebut Protes Terhadap Tempo Hari Ini Baru Aksi Pertama

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi Indonesia menuju ekonomi berbasis industri bernilai tambah masih membutuhkan jalan panjang.

Jika terus bergantung pada ekspor komoditas mentah, Indonesia berisiko terkena fenomena ‘kutukan sumber daya alam’ (resource curse).

Ia merujuk pada Kolombia, produsen tembaga besar dunia yang puluhan tahun belum sepenuhnya berhasil melakukan industrialisasi.

Untuk mendukung transisi ini, selain mengandalkan kekayaan alam, Indonesia dituntut memaksimalkan potensi sumber daya manusia.

Saskia menyebut jutaan mahasiswa yang lulus setiap tahun adalah modal besar bagi inovasi nasional, asalkan didukung ekosistem riset dan perlindungan hak kekayaan intelektual.

Lebih lanjut, ia menekankan peran krusial organisasi masyarakat sipil (CSO) dalam mengawal investasi hijau di Indonesia.

Baca Juga:  Rakyat Ogah Hak Suaranya Dirampas! 95% Warga Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD

Laporan dan temuan CSO terkait praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini menjadi informasi penting yang dipertimbangkan oleh para investor global.

“CSO memiliki peran penting menyuarakan berbagai persoalan yang tidak terlihat di permukaan. Informasi tersebut menjadi bagian dari mekanisme whistleblowing yang turut memengaruhi keputusan investasi,” katanya.

Saskia berharap partisipasi aktif masyarakat sipil dapat memastikan hilirisasi di Indonesia tidak hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membawa dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.

Diskusi panel mengenai masa depan rantai pasok hijau ini turut dihadiri oleh Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto, Direktur Eksekutif CERAH Agung Budiono, dan Direktur Energy Shift Indonesia Putra Adhiguna.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Mendes Yandri Susanto Klaim Dana Desa Tak Dipotong
Menko Pangan Zulhas: Nelayan Kita Miskin karena Tengkulak, Bukan karena Malas
Kesbangpol Manggarai Barat Kirim Dua Wakil Paskibraka ke Kupang, Ini Tahapannya
Alasan Naniek Deyang Mundur dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional
Ketua Forum Peduli Manggarai Barat Dukung Penuh Kodam Mandiri di Kupang: “Ini Bukan Hanya Soal Kedaulatan”
Cegah Konflik, Mario Pranda Ingatkan Pusat Tak Bebankan Lahan Koperasi ke Desa
Nombok Belasan Juta demi Gas, Pengusaha Labuan Bajo Menjerit
Krisis Gas Labuan Bajo: Pengusaha Pariwisata Menjerit, Terpaksa Tempuh 376 Km Demi Sebiji LPG

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 08:51

Hilirisasi Mineral: Mengapa RI terancam ‘kutukan sumber daya’ jika hanya fokus ekstraksi?

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:18

Mendes Yandri Susanto Klaim Dana Desa Tak Dipotong

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:05

Menko Pangan Zulhas: Nelayan Kita Miskin karena Tengkulak, Bukan karena Malas

Senin, 27 Juli 2026 - 12:55

Kesbangpol Manggarai Barat Kirim Dua Wakil Paskibraka ke Kupang, Ini Tahapannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:54

Alasan Naniek Deyang Mundur dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional

Berita Terbaru

Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) tengah menginisiasi proyek wisata religi Katolik bertajuk

Pariwisata

Mengadaptasi Camino de Santiago di Tanah Flores

Senin, 3 Agu 2026 - 12:28