JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek Sudaryati Deyang, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan ini diambil lantaran ia harus fokus menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri.
Kabar pengunduran diri tersebut disampaikan langsung oleh Naniek. Hal ini dikutip Bajo Update dari unggahan di akun Facebook pribadi Naniek Sudaryati Deyang pada Rabu (22/7).
“Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya, rencananya hari ini, Rabu (22/7) saya berangkat,” tulis Naniek dalam unggahannya, dikutip Jumat (24/7).
Ia menegaskan, kepergiannya ke luar negeri bukan karena krisis kepercayaan terhadap kemampuan dokter di Indonesia.
Naniek mengaku hanya ingin mencari pendapat medis kedua (second opinion) di tempat yang direkomendasikan oleh rekannya.
Dalam unggahan yang sama, Naniek menyebut Presiden telah menyetujui pengunduran dirinya. Namun, Presiden memintanya untuk tidak sepenuhnya lepas tangan dari BGN.
Naniek mengungkapkan bahwa Presiden berencana membentuk dewan pengawas BGN. Ia pun diminta untuk mengisi posisi sebagai ketua dewan pengawas tersebut ke depannya.
“Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut,” ungkapnya.
Selain mengumumkan pengunduran diri, Naniek juga menepis tudingan miring terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia secara tegas membantah bahwa program tersebut memiliki muatan politis untuk kepentingan Pemilu 2029.
Menurutnya, mayoritas dari 82 juta penerima manfaat saat ini adalah kelompok balita hingga anak sekolah dasar. Mereka dipastikan belum memiliki hak pilih pada 2029 mendatang.
“Ini sebagai program untuk benar-benar intervensi gizi anak-anak agar tumbuh menjadi generasi emas dan juga untuk menjaga kesehatan mereka,” terang Naniek yang mengaku telah mendampingi Presiden selama 14 tahun.
Ia menyoroti efek ganda (multiplier effect) dari program MBG yang terbukti mampu menggerakkan ekonomi masyarakat bawah.
Naniek mencontohkan, saat libur sekolah selama tiga minggu dan program MBG terhenti, banyak petani dan peternak yang mengeluh karena hasil panen mereka tidak terserap sehingga harganya anjlok di pasaran.
Meski menjabat dalam waktu terbilang singkat, Naniek mengklaim telah meletakkan dasar-dasar perbaikan untuk BGN.
Ia baru saja mengganti lima pejabat eselon I yang direkrut dari berbagai institusi, yakni Kemenkes, Kemendikdasmen, Kemenkeu, BPKP, dan Kejaksaan.
Langkah ini diambil agar ke depannya BGN diisi oleh orang-orang yang profesional di bidangnya masing-masing.
Selain itu, Naniek telah membentuk 11 tim khusus untuk mereformasi BGN secara menyeluruh. Salah satunya adalah tim refocusing yang bertugas memastikan program tersebut tepat sasaran.
Atas persetujuan Presiden, program MBG kini akan lebih difokuskan pada kelompok 3B (balita, ibu menyusui, dan ibu hamil), siswa SD hingga SMP, serta sekolah-sekolah di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Terdapat pula tim evaluasi untuk meninjau 27.877 Satuan Pelayanan Pendidikan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi. Evaluasi ini diperlukan karena belum semua SPPG memenuhi syarat sesuai petunjuk teknis.
Ia menyebut penggantinya adalah sosok yang ia anggap sebagai “adik” sehingga ia tetap bisa ikut mengawasi secara personal.
Kini, Naniek memilih untuk beristirahat dan mematuhi anjuran keluarganya untuk memperbaiki pola makan serta menghindari stres demi kesehatannya.
“Mari kita dukung program MBG. Bismillah, ini akan membawa kebaikan untuk anak-anak Indonesia dan juga perekonomian di daerah,” pungkasnya.
Penulis : Ofantri Nero
Editor : Fons Abun







