LABUAN BAJO — Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas menyoroti rendahnya kesejahteraan nelayan di Indonesia yang kerap menjadi korban ketidakadilan harga oleh tengkulak.
Untuk memutus praktik kotor tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas Kampung Nelayan Merah Putih di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan Zulhas saat meninjau langsung Kampung Nelayan Merah Putih Warloka di Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Kamis (30/7/2026) sore.
Dalam kunjungan tersebut, Zulhas didampingi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, serta Anggota DPR RI Ahmad Yohan.
Zulhas membeberkan, sepanjang sejarah Indonesia merdeka, Nilai Tukar Nelayan (NTN) selalu berada di posisi paling bawah dibandingkan sektor lain.
Saat ini, NTN baru menyentuh angka 103, tertinggal jauh dari Nilai Tukar Petani (NTP) padi yang sudah mencapai 127.
“Kenapa nelayan kita miskin? Nelayan kita ini rajin, ulet, dan pekerja keras. Tapi waktu dapat ikan dan dibawa ke darat, mereka bertemu tengkulak yang menawar dengan harga sangat murah,” ujar Zulhas.
Menurut Zulhas, nelayan kerap tidak memiliki daya tawar (bargaining power). Jika ikan tidak segera dijual, hasil tangkapan tersebut akan membusuk dan tidak bernilai sama sekali.
Ia mencontohkan hasil blusukannya ke Pasar di Kupang bulan lalu. Di sana, satu ember ikan kombong seberat tiga hingga empat kilogram hanya dihargai Rp20 ribu.
Nelayan terpaksa melepas tangkapannya karena tak punya fasilitas penyimpanan yang memadai.
Sebagai solusi, pemerintah melalui Kementerian KKP membangun Kampung Nelayan Merah Putih. Fasilitas ini dilengkapi dengan balai lelang, pabrik es, hingga mesin pendingin (cold storage) berskala besar.
“Kalau ikannya ditawar murah, nelayan tidak usah jual. Kalau mau dibekukan, masuk cold storage, ikannya jadi awet dan tidak busuk. Besok-besok bisa dipasarkan lagi,” tegas Ketua Umum PAN tersebut.
Pemerintah juga menerapkan sistem close loop economy (ekonomi sirkular). Jika ikan tak laku di pasaran, Koperasi Nelayan Merah Putih yang akan menyerap hasil tangkapan tersebut dengan harga wajar, untuk kemudian disalurkan ke pasar yang lebih luas.
Fasilitas ini diharapkan perlahan meningkatkan daya beli nelayan. Zulhas memproyeksikan nelayan nantinya bisa mencicil perahu yang lebih layak, menyekolahkan anak, dan melaut lebih jauh untuk menjaga perairan Nusantara.
Pasalnya, kelemahan armada nelayan lokal selama ini menjadi celah bagi kapal asing dari Thailand, Vietnam, dan Tiongkok untuk melakukan pencurian ikan (IUU Fishing) di perairan Indonesia. Kerugian negara akibat pencurian ini ditaksir mencapai ratusan triliun rupiah per tahun.
Tolak Impor, Targetkan Swasembada
Dalam kesempatan yang sama, Zulhas juga menegaskan komitmen Presiden terkait swasembada karbohidrat dan protein. Ia menolak keras kebijakan impor pangan yang serampangan.
“Kalau kita impor terus, yang senang orang dari luar negeri. Kalau kita beli beras Thailand dan Vietnam, yang senang petani di sana. Begitu juga kalau kita impor garam dan ikan, bukan nelayan dan pembudidaya kita yang sejahtera,” paparnya.
Demi mewujudkan kedaulatan pangan, pemerintah tengah membangun tambak udang raksasa seluas 2.150 hektare di Waingapu, Sumba Timur.
Proyek ini ditargetkan mampu menghasilkan 52.800 ton udang, menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir protein laut terbesar di dunia.
Sementara itu, Menteri KKP Wahyu Trenggono menambahkan, pembangunan fasilitas bagi nelayan akan terus dikebut. Pada tahun 2026 ini, pemerintah menargetkan penyelesaian ribuan titik fasilitas cold storage.
“Yang sudah (selesai) ada 100 titik. Yang akan dibangun lagi 1.269 tahun ini, jadi total 1.369 fasilitas. Tahun depan kita bangun 1.000 lagi se-Indonesia. Target sampai periode ini mencapai 5.000 titik dengan kapasitas 10 ton ikan per hari,” jelas Trenggono.
Zulhas juga menepis kekhawatiran publik terkait ancaman krisis pangan akibat anomali cuaca El Nino.
Ia mengklaim cadangan pangan nasional dalam kondisi sangat aman.
“Pangan aman. Kita punya stok beras 5,2 juta ton. Telur, ayam, dan ikan kita luar biasa melimpah. Tahun 2026 hingga 2027 untuk urusan makan kita aman, insyaallah,” pungkas Zulhas.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







