LABUAN BAJO — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) tengah menginisiasi proyek wisata religi Katolik bertajuk “Camino Flores”. Rute ziarah lintas wilayah ini diadaptasi dari jalur peziarahan legendaris dunia, Camino de Santiago de Compostela di Spanyol.
Camino Flores dirancang bukan sekadar kunjungan singkat ke satu tempat ibadah. Inisiatif ini menawarkan perjalanan spiritual yang menghubungkan berbagai situs religi dan jejak sejarah misionaris di Pulau Flores.
Selama menyusuri rute, peziarah tidak hanya sekadar berdoa. Mereka akan berinteraksi dengan warga lokal, menikmati kekayaan budaya, mendukung UMKM, dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial di titik-titik tertentu.
Proyek ini didukung oleh basis demografi yang sangat kuat. Berdasarkan data Disdukcapil Kementerian Dalam Negeri tahun 2025, sekitar 2 juta dari 3 juta umat Katolik di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bermukim di Pulau Flores.
Angka tersebut menjadikan Pulau Flores sebagai rumah bagi 22,6 persen dari total 8,86 juta penganut Katolik di Indonesia. Ini merupakan modal strategis untuk mengembangkan pariwisata berbasis spiritual.
Selain faktor demografi, Flores memiliki sejarah panjang penyebaran agama Katolik. Warisan tersebut tampak dari keberadaan gereja bersejarah, gua Maria, biara, seminari, hingga tradisi liturgi yang membaur erat dengan budaya lokal.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung, menyebut proyek Camino Flores bertujuan untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat akar rumput.
”Pulau Flores memiliki modal yang sangat kuat untuk menghadirkan Camino Flores sebagai ikon wisata religi Katolik Indonesia,” kata Andhy dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/7/2026).
Andhy menegaskan, perpaduan situs religi yang tersebar dari barat hingga timur, tradisi iman yang masih hidup, dan bentang alam adalah fondasi ideal. Ia meyakini potensi tersebut cukup untuk menciptakan jalur ziarah kelas dunia.
Pihak BPOLBF menargetkan penyelenggaraan Camino Flores dapat mulai direalisasikan pada tahun ini.
Meski terinspirasi dari Spanyol, Andhy menggarisbawahi bahwa proyek ini akan menonjolkan identitas lokal.
“Camino Flores ini tidak dimaksudkan untuk meniru Camino de Santiago, namun gagasan filosofis dari perjalanan spiritual ini dapat kita adaptasi menyesuaikan dengan karakter, budaya, sejarah, dan identitas Pulau Flores,” jelas Andhy.
Secara teknis, rute Camino Flores akan dibagi menjadi tiga etape utama. Masing-masing etape memiliki jarak tempuh sekitar 70 kilometer, yang dirancang agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan peziarah.
Etape Barat akan membentang di wilayah Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Kemudian Etape Tengah meliputi wilayah Bajawa, Nagekeo, dan Ende.
Sementara itu, Etape Timur akan mencakup rangkaian wilayah Maumere dan Flores Timur.
Sebagai fondasi awal, BPOLBF sejak tahun 2024 telah menyusun pola perjalanan (Travel Pattern) Wisata Religi Katolik di Pulau Flores.
Langkah-langkah promosi digital, pertemuan bisnis, hingga kolaborasi dengan berbagai Keuskupan dan komunitas lokal juga telah dilakukan demi mematangkan proyek ini.
Kehadiran Camino Flores diharapkan dapat mendongkrak kualitas pengalaman wisatawan, sekaligus memperkuat posisi Pulau Flores sebagai destinasi pariwisata spiritual global yang inklusif.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







