LABUAN BAJO — Pelaku usaha pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak berani menaikkan harga makanan di restoran mereka di tengah krisis dan meroketnya harga gas LPG. Harga LPG 12 kg yang sebelumnya berada di kisaran Rp290 ribuan, kini melonjak drastis hingga Rp500 ribu per tabung. Keputusan pahit untuk tidak menaikkan harga ini terpaksa diambil agar pelanggan setia tidak lari, meski pengusaha harus menelan kerugian.
Kondisi memprihatinkan ini dialami langsung oleh Matheus Siagian, salah satu pelaku industri pariwisata di kota super premium tersebut.
Demi menjaga napas bisnis restorannya, ia terpaksa menempuh perjalanan darat sejauh 188 kilometer untuk satu kali jalan, atau 376 kilometer pulang-pergi, menuju Reo, Kabupaten Manggarai, akibat stok gas di Labuan Bajo habis total.
Pada Kamis (14/04/2026), dengan menggunakan mobil pribadi, Matheus mengangkut tabung-tabung kosong demi berburu pasokan gas. Di Reo, ia harus merogoh kocek Rp500 ribu untuk satu tabung LPG.
Ongkos operasional usahanya pun membengkak parah. Sepanjang bulan ini saja, ia telah menghabiskan lebih dari Rp15 juta hanya untuk membeli sekitar 25 tabung gas LPG.
“Sedangkan (kalau) naikkan harga, takut langganan lari. Sehingga korban rugi,” ungkap Matheus kepada Bajoupdate.com, Jumat (15/04/2026).
Bahkan, saking parahnya kelangkaan energi ini, Matheus terpaksa kembali menggunakan bahan bakar masa lalu untuk kebutuhan dapur rumah pribadinya.
“Kalau di rumah, saya pakai minyak tanah lagi sekarang,” tuturnya.
Situasi ini membuatnya mendesak pemerintah agar segera turun tangan menyelamatkan pelaku pariwisata yang tengah tercekik krisis.
“Saya mohon sekali sama pemerintah, tolong segera selesaikan masalah ini. Kami minta dengan sangat koordinasi dengan pusat, mungkin saatnya kuota LPG Labuan Bajo diperbesar lagi,” tegasnya.
Usut punya usut, kelangkaan ekstrem di Labuan Bajo dan wilayah NTT ini berakar dari masalah logistik pengiriman dari Pulau Jawa.
Sebelumnya, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyebutkan bahwa pasokan tersendat akibat adanya perbaikan dermaga di Pelabuhan Surabaya, Jawa Timur.
Gas untuk NTT tidak dikirim dalam bentuk curah, melainkan sudah dikemas dalam tabung dan diangkut menggunakan kapal kontainer.
“Jumlah kapal yang bisa bersandar di Surabaya itu berkurang drastis karena ada perbaikan,” jelas Ahad, Kamis (07/05/2026).
Sebagai solusi darurat, Pertamina kini memindahkan titik suplai ke dermaga alternatif terdekat dan melipatgandakan frekuensi pengiriman kapal.
Jika biasanya kapal pembawa kontainer LPG dikirim 2-3 kali sebulan, Pertamina kini menargetkan pelayaran hingga 4-5 kali dalam sebulan agar pasokan kembali stabil.
Berbeda dengan krisis LPG yang memukul telak para pelaku usaha, Pertamina memastikan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) cair ke wilayah kepulauan NTT saat ini tetap aman tanpa kendala.
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Fons Abun




