LABUAN BAJO — Kelangkaan tabung gas elpiji yang melanda wilayah Labuan Bajo selama satu bulan terakhir dinilai mulai melumpuhkan sendi-sendi ekonomi daerah tersebut.
Krisis energi ini memaksa para pelaku industri pariwisata menempuh perjalanan ratusan kilometer demi mendapatkan pasokan gas dengan harga yang melonjak tajam.
Salah satunya dialami oleh Matheus Siagian, seorang pengusaha restoran yang terpaksa berkendara sejauh 188 kilometer menuju Reo, Kabupaten Manggarai.
Di sana, ia harus membayar Rp500.000 untuk satu tabung elpiji 12 kilogram, jauh di atas harga normal yang berada di kisaran Rp290.000.
Menanggapi keputusasaan pelaku wisata yang harus mencari elpiji lintas kabupaten, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Barat dari Fraksi Partai NasDem, Martinus Mitar atau Marten, angkat bicara.
Marten mendesak pemerintah pusat untuk segera turun tangan karena pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan dan kemampuan strategis terkait pasokan energi nasional.
“Kita mendesak kebijakan pemerintah pusat untuk bisa secepat mungkin mengendalikan kekurangan elpiji yang sudah menjadi keresahan setiap daerah,” kata Marten, Selasa 19 Mei 2026.
Ia menegaskan bahwa kelangkaan energi ini telah membunuh produktivitas ekonomi rakyat berskala kecil di Labuan Bajo.
“Stok elpiji semakin kurang, bahkan sampai tidak ada, itu melumpuhkan seluruh aktivitas UMKM. Karena itu persoalan kekurangan elpiji ini merupakan persoalan serius,” tambahnya.
Marten juga menyoroti dampak fatal kelangkaan elpiji terhadap citra pariwisata Labuan Bajo, khususnya operasional UMKM, hotel, restoran dan kapal wisata.
“Hampir semua kapal phinisi itu kan terpakai elpiji. Sehingga memang saya katakan tadi, kelangkaan elpiji itu berdampak pada memutuskan sendi-sendi ekonomi. Bahkan berdampak pada tidak berjalannya kepariwisataan kita,” ujarnya.
Menurut politisi NasDem tersebut, lumpuhnya sektor pariwisata secara otomatis akan memukul omzet penerimaan daerah secara drastis.
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah pusat dan DPR RI tidak memandang sebelah mata persoalan ini.
“Makanya kan jangan dianggap elpiji itu barang kecil, tapi dia barang mempengaruhi sendi ekonomi. Jangan dianggap enteng persoalan kekurangan elpiji oleh pemerintah pusat. Itu akan berdampak pada matinya sendi ekonomi rakyat,” tegas Marten.
Di sisi lain, kelangkaan yang berlarut-larut ini membuat warga lokal di Labuan Bajo terpaksa menyingkirkan kompor gas mereka dan kembali menggunakan minyak tanah.
Pihak Pertamina Patra Niaga sebelumnya menyatakan bahwa tersendatnya pasokan gas ke wilayah NTT murni disebabkan oleh perbaikan dermaga di Pelabuhan Surabaya, Jawa Timur.
Kondisi tersebut membuat jumlah kapal kontainer pengangkut elpiji yang bisa bersandar menjadi berkurang drastis.
Mengantisipasi krisis yang semakin liar, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat telah menyurati pihak distributor agar penyaluran sisa stok gas dilakukan secara proporsional, demi mencegah kelaparan energi pada level masyarakat bawah.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update






