BORONG – Di sebuah sudut Kampung Bugis, Kelurahan Rana Loba, Kabupaten Manggarai Timur, sebuah gubuk berdiri dengan sisa-sisa kekuatan. Atap sengnya sudah berkarat, dindingnya anyaman bambu yang mulai rapuh.
Di sanalah Kornelia Jemanu, perempuan 55 tahun, menghabiskan hari-harinya dalam sunyi.
Sejak suaminya berpulang pada 2022, hidupnya berubah menjadi rangkaian ujian yang seolah tak kunjung usai.
Kornelia tidak hanya berjuang melawan kemiskinan. Di dalam tubuhnya, diabetes menggerogoti. Penyakit itu merenggut kekuatannya untuk bekerja mencari nafkah.
“Saya sebenarnya mau ke Dinas Sosial mau tanya apa saja persyaratannya mau dapat bantuan PKH dan lain-lain itu. Tapi tunggu agak sehat,” tuturnya pelan, pada Selasa (17/2/2026).
Untuk menyambung nyawa, Kornelia kini hanya bergantung pada uluran tangan keluarga.
Anak sulungnya memang sudah bekerja di sebuah minimarket di Borong, namun upahnya habis tertelan kebutuhan pokok.
Padahal, dua anaknya yang lain masih meniti jalan di dunia pendidikan. Satu duduk di bangku SMP, dan satu lagi tengah berjuang menyelesaikan kuliah.
Kesenjangan bantuan pun terasa menyesakkan. Si bungsu yang bersekolah di SMPN 1 Borong justru tak terdaftar sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP).
“Dia tidak menerima Program Indonesia Pintar (PIP). Kemarin dia bilang, tidak ada namanya di daftar nama penerima PIP yang ditempel di papan pengumuman sekolah,” kata Kornelia dengan tatapan kosong.
Sementara untuk si anak tengah yang sedang kuliah, Kornelia harus memeras otak. Meski ada beasiswa dari kementerian, biaya hidup tetap jadi beban berat.
“Biar beasiswa, saya tetap kirim dia uang kos karena dia ada kebutuhan lain. Kalau dia minta uang ada saja keluarga yang bantu saya,” ungkapnya.
Kenangan paling pedih bagi Kornelia adalah ketika dapur mereka benar-benar mati. Tidak ada butiran beras, tidak ada uang di kantong.
Saat itu, ia dan anaknya yang baru pulang sekolah hanya memiliki satu bungkus mie instan. Itulah satu-satunya makanan yang mereka bagi berdua untuk bertahan hingga malam.
“Waktu itu anak baru pulang sekolah. Kami makan satu bungkus mie. Besoknya, beras dari kampung baru tiba. Itu pengalaman yang paling saya ingat,” kenang Kornelia sembari menahan sesak di dada.
Ironi hidup Kornelia kian lengkap jika melihat bagaimana ia “luput” dari radar pemerintah. Sebagai single parent yang sakit-sakitan di rumah tak layak huni, ia justru tak tersentuh bantuan sosial apa pun.
Padahal, dokumen kependudukan seperti KK dan KTP sudah berkali-kali ia serahkan kepada Ketua RT. Namun, hasilnya tetap nihil.
“Tidak pernah dapat bantuan. Dari dulu dan sejak suami meninggal juga belum. Padahal ada orang yang ekonomi mampu dapat bantuan,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Langkah kaki Kornelia sudah berulang kali menuju kantor kelurahan. Ia memohon agar namanya dimasukkan dalam data penerima bantuan, namun jawabannya tetap menggantung tanpa kepastian.
Kekecewaannya kian menumpuk saat mengingat janji petugas PLN beberapa tahun lalu yang menjanjikan meteran listrik gratis setelah memotret rumahnya.
“Sampai saat ini tidak muncul itu meteran. Makanya sekarang saya tidak mau kasih lagi KK dan KTP kalau ada pegawai yang datang foto-foto rumah. Habis dengan foto saja, tidak ada tindak lanjut,” keluhnya.
Kini, listrik di rumahnya pun masih menumpang dari rumah kerabat di sebelah. Tidak ada kemewahan, hanya ada keinginan untuk melihat anak-anaknya lulus sekolah.
Di tengah ketidakadilan yang ia rasakan, Kornelia memilih untuk tidak menuntut terlalu banyak. Ia hanya mengetuk pintu nurani para penguasa.
“Saya hanya minta keadilan. Kalau pemerintah ingat saya, pemerintah kasih bantuan, saya terima. Kalau tidak juga, tidak apa-apa,” pungkasnya pasrah.
Di Kampung Bugis, suara Kornelia mungkin terdengar lirih. Namun, kemiskinannya adalah potret nyata tentang bantuan yang seringkali salah alamat.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Bacerita.id








