LABUAN BAJO — Monika Setia tersenyum semringah siang itu, Kamis, 17 September 2026. Wakil Ketua Kelompok Mose Dite sekaligus Kepala Produksi Produk Krino ini baru saja merampungkan sebuah hajatan penting bagi kelompoknya.
Dengan nada bangga, Monika mengabari bahwa hingga pertengahan September ini, kelompok mereka baru saja mengirimkan puluhan bungkus keripik kelapa olahan mereka ke Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.
“Saat ini KRINO sudah dipasarkan di sekitar Labuan Bajo dan Manggarai Barat, dan mulai mendapat pesanan dari luar daerah. Termasuk Bandung dan Jakarta,” kata Monika kepada Bajoupdate.com, Kamis siang.
Namun, pencapaian itu tak datang dalam semalam. Mose Dite, kelompok usaha yang digawangi para perempuan di Kelurahan Wae Kelambu, Manggarai Barat, ini sempat melewati fase merangkak.

Sebelum ada pendampingan dari Konsorsium ASLI: Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) dan Amal Ilmu Manfaat (ALIFA), Monika menjalankan usahanya secara sederhana dan mandiri.
“Tantangan yang saya hadapi saat itu adalah bagaimana mengembangkan usaha, meningkatkan kualitas, memperbaiki kemasan, serta memperluas pemasaran,” tuturnya.
Angin segar datang ketika Konsorsium ASLI masuk. Kelompok Mose Dite resmi terbentuk. Mereka dilatih menyusun strategi, menata legalitas, hingga memoles kemasan.
Produk unggulan mereka, KRINO—keripik dari buah kelapa lokal bercita rasa khas—kini tampil lebih meyakinkan. Monika dan kawan-kawan tak lagi minder menawarkan produknya ke luar daerah.
“Kami menjadi lebih percaya diri untuk mengembangkan produk,” ucapnya. Meski begitu, ia mengaku masih punya satu pekerjaan rumah: meningkatkan kapasitas produksi untuk menjawab tingginya permintaan pasar.

Dapur Pemberdayaan Konsorsium ASLI
Di balik geliat Mose Dite, ada tangan dingin para pendamping lapangan dari Konsorsium ASLI. Konsorsium ini merupakan gabungan dua lembaga: ASPPUK dan ALIFA.
Klementinus Elenora, salah satu Field Officer (FO) pendamping, menjelaskan bahwa program ini berada di bawah payung Urban Futures (Masa Depan Perkotaan).
Program global yang diurus oleh lembaga Humanis ini hanya hadir di dua kota di Indonesia, yakni Bandung dan Manggarai Barat.
“Dalam program Urban Futures, Konsorsium ASLI (ASPUK & ALIFA) melakukan pemberdayan kepada orang muda (lebih ke perempuan) yang fokus pada pegembangan usaha dan penerapan Participatory Guarantee System (PGS),” kata Klementinus.

Klementinus bercerita, formasi pendamping lapangan sempat dirombak pada Agustus 2025. Ia bersama dua rekannya, Endak dan Juna, ditunjuk meneruskan tongkat estafet pendampingan di 9 desa dan kelurahan yang tersebar di Kecamatan Komodo dan Sano Nggoang.
Langkah awal mereka adalah menggelar Pelatihan Kewirausahaan Responsif Gender. Kelompok diajarkan materi SMART dan Analisis SWOT. Targetnya jelas: setiap kelompok harus mampu menyusun proposal pengajuan dana usaha berbasis pangan lokal.
Kemasan Menepis Gengsi
Dari 9 kelompok dampingan, lahir berbagai produk inovatif. Ada Stik Cumi dari Kelompok Meteor Pesisir, Reman dari Pioner Muda Batu Cermin, hingga tempe dan olahan Kunyit Aren dari pedalaman Sano Nggoang.
Untuk modal awal, Konsorsium ASLI tidak memberikan uang tunai. Mereka membelikan peralatan produksi dan bahan baku untuk batch pertama sesuai proposal kelompok.
Namun, menghasilkan produk enak saja tak cukup. Di kota pariwisata premium seperti Labuan Bajo, penampilan adalah segalanya.
Klementinus menyadari hal ini. Ia dan tim ngotot mendampingi kelompok agar beralih dari plastik bening ke kemasan standing pouch komposit.
“Di Labuan Bajo, anak-anak muda itu jaga gengsi. Kalau jajan pakai kemasan transparan, mereka kurang percaya diri. Kemasan sangat berpengaruh pada nilai jual,” ujar Klementinus.

Strategi itu terbukti ampuh. Produk Krino milik Mose Dite bahkan berhasil lolos kurasi untuk masuk ke pameran pasar premium lokal bernama “Parara”.
Bukan hanya soal kemasan, konsorsium juga mengawal legalitas usaha mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga PIRT.
Untuk urusan keamanan pangan, lembaga ALIFA turun tangan membina lewat sistem PGS (Participatory Guarantee System). Sistem ini menjamin bahwa seluruh proses penanaman hingga pengolahan bebas dari bahan kimia dan pengawet.
Tameng Anti-Rentenir
Pemberdayaan ini tak berhenti pada urusan dapur dan etalase toko. Klementinus membeberkan rencana panjang konsorsium untuk mendirikan Lembaga Keuangan Perempuan (LKP) semacam pra-koperasi.
Bukan rahasia lagi, para pelaku usaha kecil kerap tercekik utang rentenir ketika membutuhkan uang cepat. LKP dirancang menjadi tameng perlindungan bagi kas para perempuan ini.
“Tujuannya, ketika anggota kelompok butuh uang mendadak, mereka tidak lari ke rentenir yang bunganya tinggi,” ucapnya menegaskan.
Meski program berjalan mulus, tantangan di lapangan tetap ada. Dari jatah 30 orang per kelompok, rata-rata hanya belasan yang aktif penuh.
Penyebabnya adalah jam kerja. Sebagian besar anggota kelompok berprofesi sebagai pekerja di sektor HoReKa (Hotel, Restoran, Kafe) yang memiliki sistem kerja shift.
Mengumpulkan puluhan orang di satu waktu yang sama adalah kemewahan yang langka. Namun, Klementinus menyimpan harapan besar.
Ia ingin program ini mengubah pola pikir masyarakat Manggarai Barat. Ia tak ingin melihat fenomena klasik: program lembaga donor selesai, kelompok pun bubar jalan.
“Harapan saya, kelompok ini kelak menjadi tempat utama anggota bekerja. Mereka tak perlu lagi cari kerja di hotel atau kafe. Cukup fokus pada produksi olahan pangan lokal ini, setiap hari produksi, setiap hari dapat uang,” pungkasnya.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate





