KAMIS (13/8/2026) pagi, suara gergaji dan palu mendominasi sebuah area di muara sungai yang berbatasan langsung dengan laut Borong, Manggarai Timur. Lokasi pembuatan kapal ini berjarak sekitar 500 meter dari kediaman Ramli di Kampung Ende. Di tempat itulah Ramli sedang sibuk mengawasi pembuatan lambung kapal pesanan kliennya yang berkapasitas 30 Gross Tonnage (GT).
Khusus untuk lambung kapal 30 GT ini, sang klien sengaja mendatangkan material kayu besi langsung dari Kalimantan. Pemilihan kayu tersebut murni untuk alasan teknis jangka panjang; kayu besi diyakini memiliki daya tahan mutlak agar bagian dasar kapal lebih solid menahan hantaman ombak dan tidak mudah lapuk dimakan air laut.

Ramli kini menetap di Kampung Ende bersama istri dan anaknya. Jauh dari hiruk-pikuk industri pariwisata Labuan Bajo, pria ini adalah anomali. Ia tidak memegang ijazah teknik perkapalan, apalagi cetak biru (blueprint) desain dari biro arsitek. Namun, di tangannya, paduan kayu besi dari seberang pulau dan kayu-kayu lokal seperti Pampas, Sandi, Nara, serta Lere, presisi disulap menjadi kapal penjelajah lautan.
Bagi Ramli, ingatan dan pengalaman lapangan jauh lebih presisi daripada hitungan di atas kertas. “Saya bilang, saya tidak butuh gambar. Nanti lihat reaksinya, kasih saja contoh maunya bagaimana. Itu saja,” kata Ramli sambil mengecek presisi lengkungan kayu kapalnya.
“Saya punya memori tersendiri. Berarti dari pengalaman.”

Debat Material Melawan Arsitek Bersertifikat
Keyakinan Ramli bukan gertakan kosong. Ia pernah berdebat keras dengan seorang arsitek kapal terkait perhitungan kebutuhan material kayu. Tanpa rumus rumit, hitungan di kepala Ramli justru terbukti lebih akurat saat eksekusi di lapangan.
Ia mengingat momen perdebatan itu dengan rinci. “Tinggi sekian, panjang sekian, lebar sekian. Saya bilang butuh 2.349 lembar kayu,” ujar Ramli.
Sementara sang arsitek, dengan segala rumus akademisnya, menghitung angka yang lebih kecil. “Dia cakar-cakar di sekolahnya dia. Ternyata kurang 34 lembar. Di saya ini pas-pas. Berarti kalah sekolahnya dia,” ucap Ramli terkekeh.
Kelakar soal pendidikan formal ini kerap ia lontarkan. Saat ada yang bertanya gelar sarjananya, Ramli merespons dengan jenaka. “Saya bilang, saya bukan fakultas, tapi fiktultas (fisik dan berkualitas). Kita ketawa ramai-ramai. Kasih tahu, sampai di mana sekolah? Saya bilang, saya tidak sekolah, saya buta huruf. Tapi kalau matematika dengan hafal, saya bisa,” tambahnya lugas.

Meski begitu, ia menegaskan tidak anti-pendidikan formal. Menurutnya, sekolah maupun otodidak memiliki tujuan akhir yang sama, hanya jalurnya yang berbeda. “Ada juga pengalaman yang dari sekolah, dia tidak boleh melebihi gambar. Harus pas-pas. Tapi kalau yang berpengalaman di lapangan, dia bisa tiru di atas gambar,” tegasnya.
Petaka ‘Model Jerigen’ dan Tragedi Kapal Tenggelam
Obrolan beralih ke isu yang lebih kritis: mengapa kapal wisata (Pinisi) di perairan Flores, khususnya Labuan Bajo, kerap tenggelam. Sebagai pembuat kapal yang wilayah kerjanya membentang dari Pura Longos, Labuan Bajo, Larantuka, Alor, Nanga Lili-Lembor hingga Sorong, Papua, Ramli mengantongi analisis teknis yang mematikan. Akar masalahnya, menurut Ramli, ada pada pemaksaan desain.
Pemilik kapal sering menuntut modifikasi bentuk demi mengakomodasi turis asing (bule) yang postur tubuhnya tinggi besar, tanpa memikirkan keseimbangan lambung (bagian bawah) kapal.
“Kamar kapal tamu ini kan setinggi bule, beda dengan pribumi. Bule ini tingginya dua meter. Kena kepala mereka kalau pendek, makanya atap harus dilebihkan 20 sentimeter. Standar kita satu meter lebih, mereka minta tiga tingkat,” jelas Ramli.
Tuntutan kabin bertingkat yang tinggi ini menjadi fatal jika tidak diimbangi dengan pelebaran lambung kapal. Ramli mengibaratkan bentuk lambung yang benar harus seperti “payung” (lebar ke bawah menahan air), bukan “jerigen” (menyempit dan datar).
“Besar lambungnya hanya 4 meter, tapi ketinggian kamarnya dua tingkat. Tidak seimbang. Berat atas, ringan bawah. Kalau arus gawat, angin kencang, sedikit oleng langsung terbalik,” paparnya.
Penambahan ‘sayap’ di lambung sebagai penyeimbang pun dianggap percuma jika dasarnya menyalahi proporsi. “Sayap itu hanya tahan lari seimbang, bukan tahan oleng.”
Ramli menyamakan kapal bertingkat tanpa lambung lebar layaknya rumah bertingkat tanpa fondasi cakar ayam. “Datang dorongan angin sedikit saja, langsung banting (terbalik).”
Analisis ini terbukti pada tragedi tenggelamnya sejumlah kapal wisata di perairan Labuan Bajo belum lama ini. Ramli mengaku khawatir jika kapal direnovasi, misalnya, kata dia, lambungnya 5 meter, tapi kamarnya tingkat 3.
“Apalagi muatan manusia ini bukan seperti batu. Manusia bergerak, miring ke kiri mereka kumpul semua di kiri. Model yang begini bisa makan nyawa,” ungkapnya datar.
Faktor lainnya adalah maraknya perombakan (renovasi) kapal nelayan menjadi kapal Pinisi wisata. Pembuatan kapal baru dengan memodifikasi kapal lama adalah dua hal berbeda. Merenovasi jauh lebih sulit dan berbahaya karena bentuk dasar kapal sudah terkunci. “Dari kapal nelayan dibuat paksa untuk kapal Pinisi, tidak bisa,” tambahnya.
Ekonomi Labuan Bajo dan Warisan Ilmu
Meski pasar industri kapal wisata terpusat di Labuan Bajo, Ramli memilih memusatkan hidup dan kerjanya di Borong. Alasan ekonominya sederhana: biaya hidup dan operasional di ibu kota Manggarai Barat itu terlalu mencekik.
“Kalau secara ekonomi, di Labuan Bajo itu serba air (harus beli). Sistem di sana, kalau uang 10 ribu dianggap 1.000. Kalau di pelosok begini, masih agak dapat sedikit (keuntungan) karena barang murah,” kata pria yang memasang tarif lebih dari Rp200 juta untuk ongkos pengerjaan satu unit kapal berukuran 30 GT (dengan estimasi pengerjaan tunggal selama 4 bulan).

Kapal Pinisi besar yang memakan waktu pembuatan 1-2 tahun bahkan bisa menghabiskan biaya total hingga Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.
Pagi menjelang siang di Borong. Ramli menatap saudarinya yang bekerja bersamanya mulai merapikan perkakas. Ia juga menceritkan putranya bernama Lan yang kini sudah lincah membuat perahu hingga kapal berkapasitas besar. Lan adalah bukti dari prinsip hidup Ramli: mencari ilmu harus lebih dulu daripada mencari uang.

Ramli ingat betul petuah gurunya 13 tahun lalu saat ia masih berstatus kuli tanpa bayaran pasti. “Kamu mau ilmunya atau mau uang? Saya jawab, mau ilmunya. Kalau mau uang, cepat habis. Tapi kalau punya ilmu, uang yang datang,” kenangnya.
Prinsip itu ia turunkan pada Lan. Dulu, ia hanya menyuruh anaknya berlatih di perairan dangkal. Kini, Lan sudah mampu membuat kapal nelayan 3 GT, bahkan ikut membantu Ramli mengerjakan proyek besar 30 GT.
“Sekarang orang kasih dia kerjakan sampan 3 GT, dia kerjakan sendiri. Silakan. Uang dari mana dapat sebegitu kalau hanya turun memancing?” tutup Ramli sambil tersenyum mengingat putranya.
Di tepian muara sungai pesisir Borong itu, arsitek seperti Ramli ini terus bekerja. Tanpa cetak biru di kertas, namun dengan cetak biru ingatan yang menolak tenggelam.
Catatan : Ramli memberitahukan kepada kami saat wawancara, bahwa dirinya tidak banyak menyimpan dokumentasi saat proses pembuatan kapal tradisional. Namun, selama belasan tahun terakhir dirinya terus mengerjakan kapal-kapal tradisional, baik untuk kapal nelayan maupun kapal pinisi.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update









