LABUAN BAJO — Pertumbuhan pesat industri pariwisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menuntut kesiapan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok utama perhotelan dan resor.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menggelar tahap pendampingan intensif atau mentoring melalui program Floratama Academy 2026.
Program yang diikuti oleh 60 pelaku usaha pangan lokal ini berlangsung secara bauran (hybrid) sejak Selasa (23/06).
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, mengatakan status Labuan Bajo sebagai destinasi prioritas nasional membawa peluang ekonomi yang besar, namun berisiko tak terserap jika UMKM lokal tidak siap.
“Kondisi ini menuntut kesiapan dari sisi kualitas produk, kontinuitas pasokan, standar keamanan pangan, pengemasan, hingga kemampuan distribusi dan pemasaran,” ujar Andhy.
Melalui pendampingan ini, BPOLBF berharap para pelaku usaha lokal tidak hanya sebatas memahami peluang pasar, tetapi bersiap menjadi bagian dari rantai pasok pangan yang berkelanjutan.
Pentingnya pelibatan masyarakat lokal di tengah pembangunan pesat Labuan Bajo juga ditekankan oleh Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Chrispin Mesima.
“Perkembangan ini harus menjadi peluang bagi masyarakat lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi pariwisata,” kata Chrispin.
Menurut Chrispin, peran tersebut bisa diwujudkan melalui skema kemitraan langsung antara hotel, resor, dan kapal wisata dengan kelompok tani maupun nelayan lokal.
Namun, ia menegaskan bahwa pendampingan terhadap standar mutu produk menjadi kunci utama agar UMKM dilirik oleh industri pariwisata.
Sementara itu, Asisten Deputi Sistem Distribusi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Muhamad Mawardi, menyoroti akar permasalahan yang lebih mendasar di Manggarai Barat.
“Tantangan utama Kabupaten Manggarai Barat bukan pada menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi bagaimana membangun rantai pasok pangan yang lebih terintegrasi dan bernilai tinggi,” papar Mawardi.
Ia menilai, Labuan Bajo memiliki peluang besar untuk menjadi etalase nasional dalam pengembangan ekosistem pangan lokal yang menggabungkan sektor pertanian, wirausaha, logistik, dan kepariwisataan.
Selama dua hari, peserta Floratama Academy dibekali berbagai materi krusial.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan gambaran riil mengenai kebutuhan pangan dan layanan gizi langsung dari perwakilan industri perhotelan, hingga strategi akses pembiayaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selanjutnya pada hari kedua, pembelajaran difokuskan pada strategi peningkatan kualitas dan daya saing produk agar benar-benar mampu menembus rantai pasok pariwisata Labuan Bajo.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







