RUTENG — Papan-papan kayu yang melapisi dinding ruangan itu nampak kusam, beberapa sudutnya memperlihatkan celah retakan akibat guncangan hebat berkekuatan M7,7 pertengahan Agustus lalu. Di sudut ruangan, sebuah kasur lipat disandarkan begitu saja ke dinding–menjadi saksi bisu betapa mendesaknya situasi pelayanan medis di Kampung Gurung, Desa Golo Lanak.
Namun, di atas meja kayu yang sempit, deretan dus obat, botol sirup, stetoskop, dan tas medis merah berlogo darurat tersusun rapi.
Bagi masyarakat Golo Lanak, gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang menghantam pada 15 Agustus bukan sekadar menyisakan trauma fisik dan reruntuhan bangunan. Ia membongkar kembali dahaga panjang warga akan akses kesehatan dasar di titik paling parah terdampak bencana tersebut. Ketika kabar kedatangan tim nakes Puskesmas Wae Codi beserta dokter relawan tersiar, warga berbondong-bondong datang. Pertolongan cepat menjadi pertimbangan utama pergerakan tim.
“Pasca gempa 7,7 tanggal 15 Agustus, Desa Golo Lanak merupakan desa dengan jumlah korban terdampak paling banyak. Pertolongan cepat bagi korban luka-luka akibat reruntuhan bangunan atau kepanikan saat gempa bagi masyarakat merupakan komitmen utama bagi nakes Puskesmas Wae Codi untuk memberikan bantuan medis,” kata Kepala Puskesmas Wae Codi, Heribertus Jeli Jefri, saat dihubungi, Rabu (26/8/2026).
Perjalanan menuju Gurung sendiri bak melintasi medan yang luluh lantak. Jalanan hancur terbelah, sementara material longsor menutupi rute-rute utama. Tim medis harus mengandalkan kendaraan khusus untuk menerobos jalur ekstrem demi bisa menginjakkan kaki di lokasi.
“Kondisi rute dan jarak menuju Desa Golo Lanak memang sangat rusak parah pascagempa, banyak jalur yang longsor, yang membuat akses cukup terhambat dalam perjalanan menuju lokasi. Kendaraan yang menuju lokasi harus kendaraan khusus,” kata Heribertus.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa semangat tim nakes dan relawan tidak pernah surut untuk mengulurkan tangan. Sebanyak 230 pasien tercatat mengantre hari itu – rekor tertinggi pelayanan medis keliling yang pernah dilakukan Puskesmas Wae Codi pascaguncangan.
Angka yang fantastis ini sejatinya cermin dari kerinduan yang memendam: sejak 2023, Puskesmas Wae Codi tak lagi memiliki dokter tetap.
“Pada hari ini warga yang datang berobat sangat banyak, jumlahnya 230 orang. Ini karena antusias warga menemui dokter sangat tinggi, karena sejak tahun 2023 Puskesmas Wae Codi tidak ada dokter. Dan harapan warga semoga secepatnya ada dokter yang bertugas di Puskesmas Wae Codi,” ungkap Heribertus.
Selama ini, asa kesehatan warga hanya ditopang oleh perawat lokal berstatus PPPK Paruh Waktu. Dedikasi sang perawat memang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, namun dahaga warga akan sentuhan diagnosis seorang dokter tak bisa dimungkiri.
Di meja pemeriksaan, keluhan warga seragam. Mialgia atau nyeri otot mendominasi tubuh-tubuh yang kelelahan dan ketakutan. Selain itu, serangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengepung anak-anak dan lansia.
“ISPA paling banyak karena musim kemarau dan kekeringan, angin yang membuat debu halus beterbangan dengan bebas di udara dan terhirup oleh masyarakat. Sehingga kondisi ini semakin memperparah kesehatan bagi anak-anak dan lansia di wilayah Golo Lanak, karena sistem kekebalan tubuh mereka lebih sensitif terhadap perubahan cuaca ekstrem dan kualitas udara yang buruk,” jelas Heribertus.
Beruntung, pasokan logistik tak sampai lumpuh. Heribertus memastikan bahwa stok obat-obatan darurat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) berada dalam kondisi aman berkat respons cepat Dinas Kesehatan yang mengalirkan buffer stock, ditopang uluran bantuan dari berbagai tim relawan.
Ketika hari mulai sore dan tumpukan kertas resep berganti menjadi bungkusan obat di tangan warga, ada satu riak harapan yang tertinggal di ruangan beratap papan tersebut. Di balik tatapan lelah para lansia dan ibu yang menggendong balitanya, tersirat pesan tunggal bagi penentu kebijakan: Golo Lanak tak hanya butuh bantuan pascabencana, mereka butuh dokter yang menetap.
Penulis : Rian
Editor : Fons Abun








