RUTENG — Ratusan siswa SMP Negeri 8 di Desa Ladur, Kecamatan Cibal Kabupaten Manggarai terpaksa akan melangsungkan kegiatan belajar mengajar di dalam tenda darurat setelah gedung sekolah mereka roboh akibat gempa bermagnitudo 7,7.
Gempa kuat yang mengguncang kawasan Flores pada Sabtu (15/08) itu memicu kerusakan parah pada struktur bangunan sekolah. Sejumlah ruang kelas dilaporkan runtuh dan tak lagi aman digunakan.
Kepala SMPN 8 Cibal, Marselinus Dahus, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai untuk menyelamatkan proses belajar siswa.
“Dari koordinasi tersebut, kami mendapatkan bantuan berupa tenda darurat yang akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak,” ujar Marselinus.
Tenda tersebut menjadi satu-satunya solusi agar hak pendidikan siswa tidak terputus setelah masa liburan usai. Rencananya, aktivitas belajar mengajar di tenda akan dimulai pada Sabtu (29/08).
Meski proses pendidikan tetap berjalan, Marselinus menegaskan bahwa tenda darurat bukanlah solusi jangka panjang bagi para siswa dan tenaga pendidik.
Ia menuntut perhatian serius dari pemerintah untuk menuntaskan masalah infrastruktur ini secara permanen, bukan sekadar penanganan sementara.
“Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi sekolah kami dan membangun kembali sekolah ini secara utuh dan menyeluruh,” tegas Marselinus.
“Kami ingin anak-anak kami mendapatkan tempat belajar yang layak dan aman,” tambahnya.
Pihak sekolah kini menanti pemerintah dan pihak berwenang untuk segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap kerusakan gedung.
Langkah ini diperlukan guna memetakan sisa struktur bangunan yang masih bisa diselamatkan maupun yang harus diratakan dengan tanah.
Bagi SMPN 8 Cibal, pembangunan kembali gedung secara utuh adalah harga mati untuk memastikan para siswa dapat menuntut ilmu dengan nyaman dan terbebas dari ancaman bahaya bangunan pascagempa.
Penulis : Nalljehaut
Editor : Fons Abun








