LABUAN BAJO — Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, resmi membuka Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di Kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin (10/8/2026).
Festival ini menjadi upaya merawat identitas kultural masyarakat di tengah pesatnya pembangunan pariwisata Labuan Bajo.
Ajang yang telah memasuki tahun kelima ini masuk dalam daftar Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Acara dijadwalkan berlangsung selama enam hari hingga 15 Agustus mendatang.
Saat membuka acara, Widiyanti menyinggung kekhawatiran Keuskupan Ruteng pada lima tahun silam terkait masa depan Labuan Bajo.
Ia menyoroti tantangan mendasar destinasi wisata tersebut: bagaimana Labuan Bajo bisa berkembang tanpa mencabut akar kehidupan masyarakat lokal.
“Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja,” ujar Widiyanti.
Menurut Widiyanti, festival ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama kepariwisataan. Wisatawan tidak sekadar datang melihat alam, tetapi turut menyelami identitas dan keseharian warga setempat.
Dampak ekonomi dari pergelaran ini terbilang cukup signifikan. Pada edisi 2025 lalu, perayaan Golo Koe menyedot lebih dari 45.000 wisatawan dan menghasilkan perputaran uang hingga Rp2,82 miliar.
“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” tutur Widiyanti.
Peringatan Ekologis dan Kesenjangan Sosial
Di sisi lain, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memberikan penekanan khusus pada aspek ekologis dan sosial. Ia mengingatkan bahwa pariwisata tidak boleh mengancam kelestarian lingkungan.
“Bagi kami, Festival Golo Koe merupakan bagian dari promosi kepariwisataan daerah, sekaligus menjadi motor penggerak bagi nilai-nilai keberlanjutan ekologis,” tegas Maksimus.
Maksimus mengingatkan semua pemangku kepentingan agar berhati-hati merumuskan kebijakan. Ia menyebut setiap aktivitas yang mengancam alam harus menjadi perhatian serius bersama.
Ia juga menyoroti pentingnya keadilan sosial dan pemerataan ekonomi bagi kelompok masyarakat rentan.
“Mudah-mudahan perjalanan kolaboratif ini melahirkan inspirasi kegiatan yang berdampak positif, terutama bagi masyarakat yang mungkin tertinggal dari laju pembangunan pariwisata,” kata Maksimus.
Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, menyebut Festival Golo Koe merupakan hasil kerja kolaborasi lintas sektor. Rangkaian acaranya merangkum dimensi agama, ekologi, pendidikan, amal, dan budaya.
Pada gelaran tahun 2026 ini, panitia mencatat ada 160 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dilibatkan secara langsung untuk menjajakan produk lokal dan kuliner.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy M.T. Marpaung, menyatakan ajang ini memperluas portofolio wisata Labuan Bajo agar tidak hanya bergantung pada pesona alam.
Kehadiran ratusan UMKM tersebut, kata Andhy, menjadi jalur paling langsung agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata bisa dirasakan oleh masyarakat akar rumput.
“Event ini menjadi salah satu ruang yang mempertemukan wisatawan dengan kehidupan masyarakat, budaya, seni, dan nilai-nilai lokal yang menjadi bagian penting dari Labuan Bajo,” pungkas Andhy.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update








