Menpar Widiyanti: Warga Harus Jadi Aktor Utama Pariwisata Labuan Bajo

- Redaksi

Selasa, 11 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, resmi membuka Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di Kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin (10/8/2026).

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, resmi membuka Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di Kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin (10/8/2026).

LABUAN BAJO Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, resmi membuka Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026 di Kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin (10/8/2026).

Festival ini menjadi upaya merawat identitas kultural masyarakat di tengah pesatnya pembangunan pariwisata Labuan Bajo.

Ajang yang telah memasuki tahun kelima ini masuk dalam daftar Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Acara dijadwalkan berlangsung selama enam hari hingga 15 Agustus mendatang.

Saat membuka acara, Widiyanti menyinggung kekhawatiran Keuskupan Ruteng pada lima tahun silam terkait masa depan Labuan Bajo.

Ia menyoroti tantangan mendasar destinasi wisata tersebut: bagaimana Labuan Bajo bisa berkembang tanpa mencabut akar kehidupan masyarakat lokal.

“Golo Koe menghadirkan jawabannya melalui sebuah perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja,” ujar Widiyanti.

Baca Juga:  Mengadaptasi Camino de Santiago di Tanah Flores

Menurut Widiyanti, festival ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama kepariwisataan. Wisatawan tidak sekadar datang melihat alam, tetapi turut menyelami identitas dan keseharian warga setempat.

Dampak ekonomi dari pergelaran ini terbilang cukup signifikan. Pada edisi 2025 lalu, perayaan Golo Koe menyedot lebih dari 45.000 wisatawan dan menghasilkan perputaran uang hingga Rp2,82 miliar.

“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” tutur Widiyanti.

Peringatan Ekologis dan Kesenjangan Sosial

Di sisi lain, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memberikan penekanan khusus pada aspek ekologis dan sosial. Ia mengingatkan bahwa pariwisata tidak boleh mengancam kelestarian lingkungan.

Baca Juga:  BPOLBF Fokus Kembangkan Wisata Budaya, Atasi Tren One Day Tour yang Meningkat

“Bagi kami, Festival Golo Koe merupakan bagian dari promosi kepariwisataan daerah, sekaligus menjadi motor penggerak bagi nilai-nilai keberlanjutan ekologis,” tegas Maksimus.

Maksimus mengingatkan semua pemangku kepentingan agar berhati-hati merumuskan kebijakan. Ia menyebut setiap aktivitas yang mengancam alam harus menjadi perhatian serius bersama.

Ia juga menyoroti pentingnya keadilan sosial dan pemerataan ekonomi bagi kelompok masyarakat rentan.

“Mudah-mudahan perjalanan kolaboratif ini melahirkan inspirasi kegiatan yang berdampak positif, terutama bagi masyarakat yang mungkin tertinggal dari laju pembangunan pariwisata,” kata Maksimus.

Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Barat, Yulianus Weng, menyebut Festival Golo Koe merupakan hasil kerja kolaborasi lintas sektor. Rangkaian acaranya merangkum dimensi agama, ekologi, pendidikan, amal, dan budaya.

Baca Juga:  “Sonde, Bersih Murni”: Dalih Guru SD di Manggarai Bantah Bunga Pinjaman Usai Dipolisikan

Pada gelaran tahun 2026 ini, panitia mencatat ada 160 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dilibatkan secara langsung untuk menjajakan produk lokal dan kuliner.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy M.T. Marpaung, menyatakan ajang ini memperluas portofolio wisata Labuan Bajo agar tidak hanya bergantung pada pesona alam.

Kehadiran ratusan UMKM tersebut, kata Andhy, menjadi jalur paling langsung agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata bisa dirasakan oleh masyarakat akar rumput.

“Event ini menjadi salah satu ruang yang mempertemukan wisatawan dengan kehidupan masyarakat, budaya, seni, dan nilai-nilai lokal yang menjadi bagian penting dari Labuan Bajo,” pungkas Andhy.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

BKH Pimpin Penyaluran Bantuan Demokrat untuk Korban Gempa Flores
Evakuasi Berlanjut, Korban Tewas Gempa Nagekeo Capai 40 Orang
Polisi Cari Itok Aman, Usai Menipu Wisatawan Italia di Labuan Bajo hingga Telantar
Tipu Bule Ratusan Juta, Calo Wisata Bikin 22 Turis Telantar di Labuan Bajo
Festival Golo Koe 2026 Digelar, Labuan Bajo Dorong Wisata Religi dan Ekologi
Rute Ekstrem Berbalut Sunset: Tantangan Tersendiri di Golo Mori Run 2026
Agen Travel Labuan Bajo ‘Bungkam’ Usai Batal Berlayar, Uang Rp 14 Juta Turis Asing Nyaris Raib
Mengadaptasi Camino de Santiago di Tanah Flores

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 18:23

BKH Pimpin Penyaluran Bantuan Demokrat untuk Korban Gempa Flores

Minggu, 16 Agustus 2026 - 01:17

Evakuasi Berlanjut, Korban Tewas Gempa Nagekeo Capai 40 Orang

Jumat, 14 Agustus 2026 - 10:33

Polisi Cari Itok Aman, Usai Menipu Wisatawan Italia di Labuan Bajo hingga Telantar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 22:44

Tipu Bule Ratusan Juta, Calo Wisata Bikin 22 Turis Telantar di Labuan Bajo

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:02

Menpar Widiyanti: Warga Harus Jadi Aktor Utama Pariwisata Labuan Bajo

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17