LABUAN BAJO — Ajang lari yang memadukan olahraga dan pariwisata, Golo Mori Sunset Run 2026, kembali digelar. Perhelatan tahun ini menjanjikan pengalaman berbeda dari edisi sebelumnya dengan rute berbukit yang diselimuti panorama matahari terbenam.
General Manager The Golo Mori, Aji Munarwiyanto, menyatakan pihaknya telah banyak belajar dari evaluasi tahun lalu.
Salah satu perubahan terbesar adalah penyediaan medali bagi para penamat lari (finisher) dan penyesuaian waktu start.
“Tahun ini insyaallah ada medalinya, sebagai bukti bahwa sudah lulus melewati tantangan bukit Golo Mori saat sunset. Kita juga akan lebih mundur waktu start-nya agar peserta berlari lebih nyaman dan tidak terlalu panas,” ujar Aji dalam konferensi pers di Wela Bajo Sky Rooftop, Labuan Bajo, Jumat (7/8/2026) sore.
Ajang ini menargetkan 500 peserta, sedikit lebih konservatif dibanding tahun lalu yang mencapai 1.200 pendaftar.
Hingga akhir Juli, tercatat 460 peserta telah mendaftar. Pendaftaran masih dibuka hingga 17 Agustus 2026.
Golo Mori Sunset Run 2026 akan mempertandingkan tiga kategori, yakni Pelajar, Umum, dan Master (di atas 35 tahun).
Kategori ini dibuat agar persaingan antarpelari tetap adil dan menyenangkan.
Kawasan The Golo Mori sendiri menawarkan rute lari yang tidak biasa. Perwakilan Komodo Runners, Febria Lazuardi, menyebut rute di sana layaknya roller coaster.
“Konturnya naik turun. Dalam jarak 5 kilometer, kita start di titik 98 meter di atas permukaan laut (mdpl), lalu turun 20 meter, dan naik lagi hingga titik tertinggi di 164 mdpl. Jalurnya keriting seperti huruf W,” papar Febria.
Meski menguras tenaga, Febria memastikan rasa lelah pelari akan terbayar lunas. Kehadiran laut dan perbukitan di sisi lintasan pada saat golden hour menjadi daya tarik utama yang tidak ditemukan di jalanan perkotaan.
Untuk menaklukkan rute tersebut, Febria menyarankan peserta menggunakan strategi smart pace.
Pelari diimbau tidak langsung memforsir tenaga di lintasan menanjak dan memanfaatkan lintasan menurun untuk menambah kecepatan.
Dari kacamata pelari, rute perbukitan ini memang membutuhkan persiapan matang. Etha Djemali, salah satu running enthusiast dan peraih podium pada edisi sebelumnya, menyarankan peserta agar rutin melakukan latihan angkat beban.
“Sebagai pelari, tidak cukup hanya berlari. Tubuh kita perlu istirahat dan butuh latihan beban (strength training),” kata Etha.
Namun, Etha mengingatkan bahwa lari bukan semata soal catatan waktu. Ia memiliki prinsip ganda dalam setiap ajang lari, yakni mengejar “PB”.
“PB itu ada dua: PB 1 Personal Best, PB 2 Foto Banyak. Kalau tidak ada foto atau video, olahraganya berasa tidak lari. Biar feed Instagram juga cantik,” selorohnya.
Di luar lintasan lari, Golo Mori Sunset Run 2026 turut membawa misi perputaran roda ekonomi lokal. Acara ini secara khusus melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan lokal.
Perwakilan Bank NTT Cabang Labuan Bajo, Roy Nalle, menegaskan komitmen pihaknya selaku salah satu sponsor.
Bank NTT melihat ajang ini sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Manggarai Barat.
“Kami berharap ajang ini bukan hanya menaikkan transaksi pada hari H. Produk UMKM mereka harus bisa menjadi promosi, dibeli sebagai oleh-oleh, dan dikenal lebih luas hingga ke tingkat internasional oleh para peserta yang datang,” tegas Roy.
Lewat ajang berkelanjutan ini, penyelenggara berharap The Golo Mori tidak hanya dikenal sebagai lokasi pameran atau konvensi (MICE), tetapi juga sebagai destinasi sport tourism unggulan yang mampu menghidupkan ekosistem pariwisata Labuan Bajo secara menyeluruh.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update








