LABUAN BAJO — Selasa, 28 Juli 2026, kami menyambangi sebuah restoran yang mencoba mendobrak hegemoni harga kuliner kelas atas di destinasi wisata premium Labuan Bajo.
Bernama “Dago di Bajo“, restoran ini berlokasi sangat strategis di Jalan Pantai Pede, tepat di pintu masuk menuju kawasan Pantai Pede.
Kesan pertama saat melangkahkan kaki ke dalam restoran ini adalah tata ruang yang sangat rapi dan bersih.
Atmosfernya dirancang sedemikian rupa sehingga sangat cocok dan nyaman, baik untuk tempat makan keluarga lokal maupun bagi wisatawan yang hendak pelesir ke Labuan Bajo.
Di balik berdirinya Dago di Bajo, ada kegelisahan panjang. Tikki Capriati dan Fitriyatul Jannah, pemilik restoran ini, merekam betul ketimpangan yang terjadi di salah satu surga pariwisata Indonesia tersebut.
Tikki, yang awalnya datang ke Labuan Bajo mengikuti sang suami bekerja di kapal wisata, merasakan betul sulitnya mencari makanan enak, berporsi besar, namun dengan harga terjangkau.
“Kebayang UMR-nya lumayan kecil di sini, terus dengan harga makanan yang fantastis. Warteg di sini tidak ada. Kalaupun ada, rasanya biasa saja,” kenangnya.

Kondisi inilah yang memicu munculnya ada moment bagi Tikki. Berbekal pertemanannya dengan warga lokal dan rekan kerja suaminya, ia ingin membagikan cita rasa kampung halamannya, Bandung, kepada masyarakat Labuan Bajo.
Dago di Bajo hadir bukan untuk bersaing memperebutkan dompet tebal para turis mancanegara.
Fokus pasar mereka justru menukik pada segmen yang selama ini kerap terpinggirkan oleh laju pariwisata mewah: warga lokal dan pekerja perantau.
“Kalau turis sudah banyak resor yang provide, restoran mahal sudah banyak. Fokusku di sini marketnya adalah warga lokal dan perantau,” tegasnya.
Di restoran yang buka mulai pukul 11.00 WITA hingga 21.00 WITA ini, dengan uang Rp100 ribu, lima orang pengunjung sudah bisa makan kenyang. Angka ini merupakan anomali di Labuan Bajo, di mana nominal tersebut seringkali kurang cukup untuk makan satu orang di restoran standar.
Konsep tempatnya pun dibuat relevan dengan kebutuhan pekerja modern. Dago di Bajo menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis yang menjadikannya tempat ideal untuk bekerja, rapat, kumpul arisan, perayaan ulang tahun, hingga menjamu klien tanpa perlu takut kantong jebol.
Secara menu, Dago di Bajo memadukan keautentikan Nusantara dan Western food.
Pemilihan nama “Dago” bukan tanpa alasan. Layaknya Jalan Dago di Bandung yang menjadi pusat kuliner dan fesyen yang ikonik, restoran ini ingin menjadi pusat bertemunya berbagai cita rasa bagi warga Labuan Bajo.
Menu andalan mereka adalah Ayam Basah. Berbeda dengan ayam goreng biasa, mereka menggunakan ayam pejantan yang diolah dengan air kelapa, menghasilkan tekstur daging dada yang selembut paha. Hidangan ini disajikan bersama sambal terasi khas Bandung yang diracik khusus.
Menu primadona lainnya adalah Nasi Pedas dan Jukut Goreng—selada air yang digoreng krispi dan disantap dengan racikan rempah serta cabai.
Menariknya, Dago di Bajo juga menghadirkan menu Barat dengan harga yang sangat membumi. Beef Tenderloin Steak, Chicken Steak, hingga beraneka ragam Spageti dijual mulai dari harga Rp30 ribuan saja.
Bagi sang pemilik, menyajikan steak dan ayam dengan harga murah di NTT adalah sebuah misi sosial.
Mereka ingin mendemokratisasi akses terhadap makanan bergizi dan berprotein tinggi, yang selama ini dianggap sebagai barang mewah bagi kalangan menengah ke bawah di Labuan Bajo.
“Harusnya semua orang lokal, semua orang NTT di sini bisa mendapatkan (makanan bergizi) itu secara daily dengan harga terjangkau,” tutur sang pemilik.
Tentu bukan hal mudah menjaga harga tetap murah di tengah sulitnya rantai distribusi logistik di Labuan Bajo.
Strategi Dago di Bajo adalah menekan margin keuntungan seminimal mungkin, namun mengejar perputaran volume pengunjung yang maksimal. Cash flow yang terus berputar menjadi urat nadi restoran ini.
Meski begitu, kendala supplier bahan baku masih menjadi tantangan utama. Ke depannya, jika pasokan bahan sudah stabil, Dago di Bajo bersiap berekspansi menu dengan menghadirkan jajanan asli Sunda seperti siomay, batagor, cireng, lotek, gado-gado, karedok, hingga mi yamin.
Lebih dari sekadar bisnis kuliner, Dago di Bajo memegang prinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Hal ini dibuktikan dengan komitmen pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) lokal.
Dari total 20 karyawan yang dipekerjakan, seratus persen adalah penduduk asli Manggarai. Restoran ini bahkan memberangkatkan dua orang manajer lokal mereka ke Yogyakarta dan Jakarta untuk menjalani pelatihan profesional.
Pada akhirnya, Dago di Bajo membuktikan bahwa industri pariwisata yang premium tidak selalu harus meninggalkan masyarakat lokalnya.
Lewat sepiring Ayam Basah dan Steak harga terjangkau, mereka merawat perut warga lokal dan pekerja rantau agar tak terusik oleh kejamnya inflasi pariwisata.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







