Sidang KM Putri Sakinah, Andrea Ortuno: Kami Tidak Pernah Diberi Tahu Soal Cuaca Buruk

- Redaksi

Rabu, 1 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Andrea Ortuno, istri dari pelatih klub Valencia, Fernando, memberikan kesaksian memilukan dalam sidang lanjutan kasus tenggelamnya Kapal Putri Sakinah di Pengadilan Negeri Labuan Bajo, Selasa, 31 Maret 2026.

Andrea Ortuno, istri dari pelatih klub Valencia, Fernando, memberikan kesaksian memilukan dalam sidang lanjutan kasus tenggelamnya Kapal Putri Sakinah di Pengadilan Negeri Labuan Bajo, Selasa, 31 Maret 2026.

LABUAN BAJO – Andrea Ortuno, istri dari pelatih klub Valencia, Fernando, memberikan kesaksian memilukan dalam sidang lanjutan kasus tenggelamnya Kapal Putri Sakinah di Pengadilan Negeri Labuan Bajo, Selasa, 31 Maret 2026.

Dari Spanyol, Andrea hadir secara virtual melalui sambungan Zoom. Ia merupakan salah satu korban selamat dalam tragedi yang merenggut nyawa suami dan anaknya, sementara satu anggota keluarga lainnya masih dinyatakan hilang.

Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Putu Dima Indra ini dimulai pukul 10.24 WITA. Jaksa Penuntut Umum, Farisal Kurniawan Akbar dan Gede Romy Askara, mencecar Andrea mengenai awal mula perjalanan maut tersebut.

Andrea berkisah, perjalanan wisata ke Taman Nasional Komodo itu dimulai pada 26 Desember 2025. Sejak awal menjejakkan kaki di kapal, ia mengaku sudah merasakan kejanggalan terkait fasilitas keselamatan.

“Saat itu kondisi life jacket-nya kecil dan dalam kondisi kurang baik. Sampai di kapal, kami tidak memakai life jacket lagi,” ujar Andrea melalui penerjemah dari Kedutaan Besar Spanyol di ruang sidang.

Baca Juga:  Dokumen Jaminan Diduga Dipalsukan, KPKNL Didesak Batalkan Lelang Aset Bank NTT

Tragedi bermula saat kapal yang sempat singgah di Pulau Kalong itu melanjutkan perjalanan menuju Pulau Padar.

Saat malam tiba, Andrea bersama keluarganya sedang beristirahat di dalam kamar masing-masing.

Ketenangan malam pecah saat sebuah hantaman keras mengguncang badan kapal. Andrea yang saat itu tidur bersama anaknya, Amanda, langsung terjaga.

“Kami tidur dan saya sadar karena merasakan hantaman. Lalu saya membantu anak saya Amanda untuk keluar,” kata Andrea dengan nada bergetar.

Sementara itu, suaminya, Fernando, dan anak mereka yang lain tidur di kamar terpisah, tak tertolong saat kapal mulai terisap laut.

Dalam kesaksiannya, Andrea menyoroti sikap kru kapal yang dianggapnya tidak melakukan upaya penyelamatan terhadap para penumpang.

Baca Juga:  BMKG Beberkan Dua Fenomena Alam Pemicu Hujan Deras di Manggarai Barat

Kapal disebutnya tenggelam dengan sangat cepat, hanya dalam hitungan sekitar 15 menit.

“Saat itu awak kapal sudah ada di kapal lain yang menyelamatkan mereka dan dalam keadaan kering, lalu saya dan anak saya menyusul,” ungkap Andrea.

Ia menegaskan tidak ada satu pun kru yang menolong saat ia berteriak histeris meminta bantuan. Andrea mengaku baru bisa selamat setelah berhasil menaiki kapal lain yang datang mengevakuasi.

Ketidaksiapan awak kapal juga terungkap saat jaksa menanyakan perihal prosedur keselamatan (safety briefing) sebelum berlayar. Andrea menyebut pihak kapal sama sekali tidak memberikan informasi apa pun.

“Jadi begitu kami mulai embarkasi tidak ada penjelasan, rekomendasi, atau informasi mengenai keselamatan,” tuturnya.

Bahkan, Andrea menyatakan tidak pernah mengenal atau berkomunikasi dengan nakhoda kapal, terdakwa Lukman. Ia mengaku hanya berkomunikasi dengan pihak agen wisata saat memulai perjalanan.

Baca Juga:  Bencana Alam Flores: Bantuan Mengalir dari Kaltim, Bali, NTB, hingga Masyarakat Umum

Terkait kondisi cuaca, Andrea bersaksi bahwa pihak kapal tidak pernah memberikan peringatan soal cuaca buruk.

“Tidak pada suatu kesempatan pun (informasi dari kru kapal) mengenai keselamatan,” tegasnya.

Andrea menceritakan detik-detik terakhir sebelum kapal hilang ditelan ombak. Ia merasakan dua kali hantaman besar yang membuat kapal miring dan tenggelam.

“Waktu saya merasakan adanya hantaman kami terbangun dan pada hantaman kedua lalu saya menyelamatkan anak saya Marta Amanda,” kata Andrea dalam kesaksiannya.

Sidang yang berlangsung hingga malam hari ini juga menghadirkan sejumlah saksi kunci lainnya.

Di antaranya Kepala KSOP Labuan Bajo Stephanus Risdiyanto dan Kepala BMKG Komodo Maria Patrycia Christin.

Dalam perkara ini, dua terdakwa, yakni Lukman selaku nakhoda dan Muhamad Alif Latifa Djudje.

Keduanya didampingi oleh kuasa hukum untuk menghadapi dakwaan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Buntut Status FB, EH Jadi Tersangka tapi Cuma Wajib Lapor
Cakades 04 Minta Coblos Ulang, Panitia Pilkades Lewat Heran: Saat Pleno Lancar-lancar Saja
Kalah Tipis 3 Suara, Cakades Lewat Mabar Gugat Hasil Pilkades dan Minta Coblos Ulang
Pemkab Manggarai Barat ke PLN: Jangan Alergi Kritik!
Bakar 832 Ribu Rokok Ilegal, Kepala Bea Cukai Labuan Bajo Soroti Kerugian Pajak dan Cukai
Menang Tipis 19 Suara, Sukarman Resmi Nakhodai Desa Golo Mori
Wabup Matim Pantau Pengerjaan Lapen Simpang Nantal-Kawit- Laing Rana Mese, Ingatkan Soal Kualitas
Kawal Hak Suara Warga Sakit, Panitia Pilkades Desa Gorontalo Mabar Datangi Rumah ke Rumah

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:03

Buntut Status FB, EH Jadi Tersangka tapi Cuma Wajib Lapor

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:57

Kalah Tipis 3 Suara, Cakades Lewat Mabar Gugat Hasil Pilkades dan Minta Coblos Ulang

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:31

Pemkab Manggarai Barat ke PLN: Jangan Alergi Kritik!

Rabu, 30 September 2026 - 12:47

Bakar 832 Ribu Rokok Ilegal, Kepala Bea Cukai Labuan Bajo Soroti Kerugian Pajak dan Cukai

Rabu, 30 September 2026 - 11:55

Menang Tipis 19 Suara, Sukarman Resmi Nakhodai Desa Golo Mori

Berita Terbaru