Invasi Grab di Tanah Komodo, Sopir Lokal Teriak: “Kami Jadi Kuli di Negeri Sendiri”

- Redaksi

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Labuan Bajo terus bersolek dengan dana triliunan rupiah mengalir untuk pembangunan infrastruktur pendukung.

Kota Labuan Bajo terus bersolek dengan dana triliunan rupiah mengalir untuk pembangunan infrastruktur pendukung.

LABUAN BAJO — Keadilan ekonomi menjadi barang langka bagi para sopir angkutan wisata lokal di Labuan Bajo. Sejak kehadiran aplikasi Grab, para pengemudi yang tergabung dalam Asosiasi Angkutan Wisata Darat (AWSTAR) merasa tersisih dan diperlakukan tidak adil di tanah kelahiran mereka sendiri.

Perlawanan mereka bukan tanpa alasan. AWSTAR, yang didirikan pada 2018, lahir dari keresahan atas dominasi armada transportasi dari luar daerah yang mengancam mata pencaharian mereka. Asosiasi ini menjadi benteng pertahanan terakhir bagi ratusan putra daerah yang menggantungkan hidup dari sektor transportasi wisata.

Namun, lawan yang mereka hadapi kini jauh lebih besar. Masuknya Grab mengubah total lanskap persaingan. Aplikasi raksasa ini menawarkan sistem yang dianggap merugikan, mengubah sopir mandiri menjadi “pekerja platform” dengan sistem bagi hasil yang mencekik.

Baca Juga:  Krisis BBM Guncang Labuan Bajo, Harga Eceran Mencekik hingga Respons Cepat Pertamina

Aktivis sosial Labuan Bajo sekaligus salah satu pendiri organisasi pelaku wisata, Rafael Taher, menyebut kehadiran Grab dan kebijakan pemerintah daerah telah menciptakan ketidakadilan struktural.

“Kami, putra daerah, membangun pariwisata ini dengan keringat. Tiba-tiba datang aplikasi raksasa dan pemerintah seolah memberi karpet merah. Kami tidak menolak kemajuan, tapi kami menolak diperlakukan seperti kuli di tanah leluhur kami sendiri,” ujar Rafael dengan nada tegas, kepada media ini, Senin, 27 April 2026

Negosiasi antara AWSTAR dan Grab menemui jalan buntu. Pihak sopir lokal mengajukan syarat berat: penghasilan setara UMP DKI Jakarta serta biaya kredit dan operasional kendaraan ditanggung aplikasi. Tuntutan itu ditolak mentah-mentah oleh Grab.

Baca Juga:  TNK Dinobatkan Jadi Runner-Up Terindah di Dunia, Meruorah Siapkan 'Luxury Getaway' Kelas Kakap

Situasi memanas ketika Grab diduga kuat melobi pemerintah daerah untuk memuluskan jalannya, mengabaikan aspirasi para sopir lokal yang sejak awal menolak sistem kemitraan tersebut.

Awalnya, ada kompromi. Grab diizinkan beroperasi terbatas, hanya untuk layanan pesan-antar makanan. Namun, kesepakatan itu hanya manis di bibir. Di lapangan, Grab menjalankan layanan transportasi penumpang secara penuh, bahkan merangsek ke zona-zona terlarang.

“Kesepakatan zona itu hanya di atas kertas. Di lapangan, mereka seperti bermain kucing-kucingan, mencuri penumpang di depan mata kami. Di mana wibawa pemerintah dan aparat saat aturan yang dibuat bersama dilanggar terang-terangan?” kata Rafael.

Mediasi di kantor polisi dan Dinas Perhubungan Manggarai Barat sempat menghasilkan kesepakatan pembagian zona penjemputan di Bandara Komodo.

Baca Juga:  PWMB Sebut Aturan Media Pemda Mabar Amburadul, Desak Bupati Pecat Kadis Pariwisata

Namun, menurut AWSTAR, pelanggaran terus terjadi. Area seperti Bandara, Hotel Ayana, hingga Gardena menjadi titik panas konflik yang tak berkesudahan.

Adu mulut di lapangan kini menjadi pemandangan biasa. Ketegangan antara pengemudi lokal dan mitra Grab tak terhindarkan, bahkan beberapa kasus dilaporkan berujung ke ranah hukum.

Bagi para sopir AWSTAR, perjuangan ini bukan lagi sekadar soal rebutan penumpang. Ini adalah pertaruhan harga diri dan masa depan ekonomi keluarga mereka di tengah kepungan korporasi besar.

“Ini bukan lagi soal persaingan bisnis, ini soal harkat dan martabat. Pemerintah Daerah Manggarai Barat harus memilih, berpihak pada investor besar atau pada rakyatnya sendiri,” tutup Rafael. “AWSTAR hanya butuh satu hal: keadilan ekonomi.”

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

19 Hektar Kawasan Bukit Silvia Ludes Dilalap Api
Deklarasikan Zona Integritas Bebas Korupsi, Bawaslu NTT Tuntut Perubahan Nyata Pengawasan Pemilu
Tingkatkan Kapasitas Mitigasi, Tiga Kecamatan Manggarai Barat Resmi Terdaftar Sistem KENCANA Nasional
“Kakak Kita Kurang Turun ke Lapangan,” Balasan Menohok Mario Pranda Pada Kanisius
KOPEARAD Peringatkan Bahaya Mikroplastik Bagi Ekosistem Laut
Debat Panas KDMP: Mario Pranda Tantang Kanisius Turun ke Lapangan, Dibalas ‘Pahami Regulasi’
BPN Manggarai Barat Dituding Abaikan Putusan Mahkamah Agung Soal Lahan 11 Hektare
Tampilkan Justy Aldrin, BPOLBF Gelar Festival Musik di Parapuar Labuan Bajo

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 19:35

19 Hektar Kawasan Bukit Silvia Ludes Dilalap Api

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:05

Deklarasikan Zona Integritas Bebas Korupsi, Bawaslu NTT Tuntut Perubahan Nyata Pengawasan Pemilu

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:38

Tingkatkan Kapasitas Mitigasi, Tiga Kecamatan Manggarai Barat Resmi Terdaftar Sistem KENCANA Nasional

Minggu, 7 Juni 2026 - 12:36

KOPEARAD Peringatkan Bahaya Mikroplastik Bagi Ekosistem Laut

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:50

Debat Panas KDMP: Mario Pranda Tantang Kanisius Turun ke Lapangan, Dibalas ‘Pahami Regulasi’

Berita Terbaru

Lahan terbuka seluas kurang lebih 19 hektar di kawasan Bukit Silvia, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ludes terbakar pada Kamis (11/06/2026).

News

19 Hektar Kawasan Bukit Silvia Ludes Dilalap Api

Kamis, 11 Jun 2026 - 19:35