LABUAN BAJO – Langit di atas Dusun Soknar Lenteng, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, tampak lebih pekat pada Jumat malam, 20 Maret 2026. Namun, kegelapan itu segera pecah oleh lidah-lidah api yang menari di ujung bilah bambu.
Usai kumandang Isya, suara Abdul Rajak memecah udara melalui pengeras suara Masjid At-Taqwa. Ketua Badan Kepengurusan Masjid (BKM) itu meminta anak-anak berbaris rapi di tepi jalan raya yang menghubungkan Labuan Bajo dan Golo Mori.
Ratusan bocah dengan wajah berseri mulai menyulut obor. Api memerah, asap tipis membubung, membawa aroma minyak tanah yang khas ke udara malam yang sejuk.
Mereka berjalan kaki sejauh 500 meter. Di belakang mereka, sebuah miniatur masjid karya pemuda Soknar nangkring dengan gagah di atas kendaraan, menjadi primadona pawai malam itu.
Tak lama, suasana kian pecah. Ratusan warga tumpah ruah ke jalanan aspal mulus yang dibangun di masa Presiden Jokowi tersebut. Mereka tak hanya berdiam di kampung sendiri.
Tahun ini, warga Soknar melakukan “hijrah” kecil. Dengan kendaraan bermotor dan mobil, mereka bergerak menuju kampung tetangga, Dusun Jarak, menempuh jarak dua kilometer demi menyambung silaturahmi.

“Ke depannya, kita tidak tahu generasi ini akan seperti apa karena zaman terus berubah,” ujar Abdul Rajak di sela keriuhan pawai kepada wartawan.
Bagi Rajak, kemeriahan malam takbiran ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah benteng untuk menjaga moral anak muda dari pengaruh luar yang kian sulit dikontrol di tengah terbukanya akses wisata.
“Kami membuat kegiatan ini untuk mematahkan sifat generasi yang sering kita lihat di luar kontrol. Melalui kegiatan keagamaan, muncul kesadaran bagi remaja masjid,” kata Rajak penuh harap.
Senada dengan Rajak, Kepala Desa Golo Mori, Samaila, memandang malam itu sebagai simbol kelahiran kembali. Golo Mori yang dulu tertutup, kini telah menjadi panggung dunia yang terbuka lebar.
“Golo Mori sekarang sudah tidak seperti dulu. Momen seperti ini perlu dipertahankan karena kita kembali kepada kesucian, seperti baru dilahirkan lagi,” tutur Samaila.
Di tengah arus modernisasi yang menderas, Samaila bersyukur kearifan lokal tetap tegak berdiri. Ia menekankan bahwa meski kawasan mereka menjadi pusat perhatian turis, nilai agama tak boleh luntur.
“Modernisasi susah kita bendung, tetapi kepedulian terhadap nilai keagamaan dan kearifan lokal tetap kami pertahankan,” tegasnya.
Keajaiban malam itu tak hanya datang dari gema takbir. Ada aroma toleransi yang kuat di balik layar. Samaila mengungkapkan, kesuksesan acara ini juga berkat tangan-tangan non-muslim yang ikut membantu.
Para donatur, mulai dari ITDC, PT Autore, hingga warga non-muslim, bahu-membahu menyukseskan malam kemenangan ini. Sebuah potret kerukunan yang nyata di ujung barat Pulau Flores.
M. Nasir, salah satu tokoh warga dan anggota BKM, tak kuasa menyembunyikan rasa bangganya. Matanya berbinar melihat antusiasme warga yang mencapai 90 persen.
“Kami merasa bersyukur dan bangga. Antusiasme bapak-bapak, ibu-ibu, hingga pemuda luar biasa dalam merayakan hari kemenangan 1 Syawal 1447 Hijriah ini,” ungkap Nasir.
Bagi Nasir, Golo Mori yang kini mendunia harus tetap memegang teguh warisan leluhur. Toleransi adalah kunci utama agar kemajuan daerah tidak menggerus kedamaian jiwa masyarakatnya.
“Warisan leluhur tetap kita jaga. Harapan kami, kita rawat sepanjang usia untuk menjaga toleransi dan kerukunan bersama,” pungkas Nasir.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalan dan binar obor, Golo Mori menunjukkan wajah aslinya. Sebuah desa yang meski kakinya melangkah menuju kemajuan dunia, hatinya tetap tertambat pada sujud dan doa.
Takbir terus berkumandang, bersahutan di jalanan panjang, merayakan kemenangan di tanah yang kian bersinar.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi








