LABUAN BAJO — Sebanyak 100 anak usia dini dari 10 sekolah di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, bersiap menggelar atraksi budaya Caci di Batu Cermin.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program workshop dan atraksi yang didukung oleh Dana Abadi Indonesia serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Peserta berasal dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Luar Biasa (SLB).
Inisiator program, Mardaniyanti, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan kesenian tradisional Manggarai sejak dini kepada generasi muda.
“Program ini kami rancang agar kesenian tradisional, khususnya caci, dipelajari sejak dini,” ujar Mardani kepada media, Minggu (22/2/2026).
Menurutnya, seni adalah ruang yang terbuka bagi siapa saja tanpa terkecuali.
“Berkesenian menjadi ruang kreasi tanpa sekat, karena itu siswa SLB juga kami libatkan,” tambahnya.
Sepuluh sekolah yang berpartisipasi meliputi TK Bajo, TK Kanawa, TK Pembina, SD Lancang 1, SD Familia, SD Baru Cermin, SD Waemata, serta satu sekolah inklusi SLB.
Masing-masing sekolah mengirimkan 10 perwakilan siswa. Peserta TK berusia 4–5 tahun, sementara siswa SD berusia 6–7 tahun.
Rangkaian kegiatan telah dimulai dengan workshop di masing-masing sekolah sejak 23 Maret lalu.
Selama tujuh hari, para mentor mengunjungi sekolah untuk melatih pola gerakan dan durasi penampilan kepada anak-anak.
Puncak acara direncanakan berlangsung pada 7 Maret 2026 mendatang di objek wisata Batu Cermin, Labuan Bajo.
Nantinya, 100 anak tersebut akan tampil dalam satu kolaborasi besar yang terdiri dari 40 pemain caci, 40 penari, dan 20 pemain musik.
“Ini menjadi daya tarik tersendiri anak-anak usia dini akan tampil bermain caci, tarian dan bermain musik yang selama ini dilakukan oleh orang dewasa,” jelas Mardani.
Ia mengakui bahwa melatih anak usia dini memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan pendekatan yang sangat khusus.
“Memilih anak usia dini memang tidak mudah. Butuh kesabaran dan metode yang disesuaikan dengan dunia anak-anak,” katanya.
Meski sulit, langkah ini dinilai krusial sebagai fondasi untuk menjaga keberlangsungan budaya Manggarai di masa depan.
“Kami ingin nilai-nilai budaya Manggarai, termasuk caci, musik, dan tarian tradisional, ditanamkan sejak awal sebagai bentuk mempersiapkan generasi mendatang dan memastikan ada penerus budaya,” tegas Mardani.
Pihak penyelenggara kini tengah mengupayakan agar Direktur Jenderal Kebudayaan dapat hadir menyaksikan langsung bakat luar biasa anak-anak tersebut pada acara puncak nanti.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi






