LABUAN BAJO — Deru arus Kali Wae Songkang di perbatasan Kecamatan Kuwus Barat dan Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), tak lagi menjadi penghalang tunggal bagi anak-anak sekolah dari Desa Golo Lajang.
Pada Senin, 2 Februari 2026, ratusan warga bersama aparat TNI dan Polri bahu-membahu merajut bambu demi membangun jembatan darurat bagi para penerus bangsa.
Ermelinda Damul, warga Desa Golo Lajang, menyampaikan bahwa inisiatif pembangunan jembatan ini lahir dari rasa iba terhadap anak-anak sekolah yang harus bertaruh nyawa menyeberangi arus kali yang deras.
“Jalan kaki jauh sekali setiap hari, akhirnya kami inisiatif bikin jembatan darurat,” ujar Ermelinda saat ditemui di lokasi pembangunan, Senin sore.
Ia menuturkan, pembangunan jembatan tersebut murni hasil swadaya masyarakat tanpa adanya campur tangan dari Pemerintah Daerah Mabar.
“Ini keadaannya dari dulu sampai sekarang. Tidak ada akses lain lagi bagi para pelajar untuk ke sekolah selain melewati kali Wae Songkang ini,” ungkapnya ketir.
Menurut Ermelinda, setidaknya ada 21 pelajar dari Desa Golo Lajang yang setiap hari menggantungkan nasib pada kondisi kali tersebut untuk mencapai sekolah mereka di SDK Wetik dan SMP Negeri 1 Kuwus Barat.
“Siswa SMP ada 11 orang, sedangkan untuk tingkat SD ada 10 orang,” rincinya.
Senada dengan Ermelinda, Rafael Hendrikus Remi, warga lainnya yang berada di lokasi, menyampaikan apresiasi mendalam atas keterlibatan aparat keamanan dalam aksi sosial ini.
“Kami berterima kasih kepada TNI dan Polri yang telah hadir membantu warga dalam pembangunan jembatan gantung ini,” kata Rafael.
Ia menjelaskan, jika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut, para siswa terpaksa harus absen dari kegiatan belajar karena luapan air yang membahayakan keselamatan.
Sejak pagi pukul 09.00 WITA, masyarakat mulai mengumpulkan Betong atau bambu berukuran besar dan panjang sebagai material utama konstruksi.
Para pria dengan terampil mengikat simpul bambu menggunakan Wahe Oleh, sebutan lokal untuk tali ijuk berwarna hitam yang dikenal sangat kuat.
Konstruksi jembatan ini terbilang unik; di tepi bagian Golo Lajang, warga memanfaatkan pohon waru sebagai tumpuan jembatan, sementara di sisi Desa Golo Riwu, dua tiang penyangga dibangun dengan kokoh.
Di bagian dasar, potongan bambu pendek dipasang berjarak sebagai lapisan awal, kemudian ditumpuk dengan bambu-bambu panjang yang melengkung membentuk badan jembatan.
Semangat gotong royong ini semakin kental dengan kehadiran personel Polsek Kuwus dan Koramil 1630/03 Macang Pacar yang terjun langsung ke tengah sungai.
Di sisi lain, para ibu tak mau ketinggalan mengambil peran dengan mendirikan tungku api tidak jauh dari lokasi pengerjaan jembatan.
Aroma masakan sayur daun ubi, daging ayam, hingga hidangan lokal seperti daging anjing dan katak sawah, menyerbak di udara, disiapkan khusus untuk memulihkan tenaga para pekerja.
Dua tenda sederhana beratapkan terpal oranye dengan alas biru-hijau didirikan di petak sawah yang kering sebagai tempat beristirahat dan makan siang bersama.
Pekerjaan yang berlangsung hingga pukul 16.00 WITA ini menunjukkan progres yang signifikan, mencapai sekitar 60 persen pada hari pertama.
Meski jembatan mulai terbentuk, pengerjaan pagar samping dan alas jembatan masih harus dilanjutkan guna memastikan keamanan saat dilalui nantinya.
Mengingat cuaca yang sangat mendukung, pengerjaan dijadwalkan akan kembali dilanjutkan pada Selasa esok agar jembatan segera dapat difungsikan.
Malam ini, personel Polsek Kuwus dan Babinsa memilih untuk beristirahat di Kampung Lesem agar tetap sigap melanjutkan kegiatan di hari kedua.
Kehadiran sinergi antara Polri, TNI, dan masyarakat ini patut diberikan apresiasi setinggi-tingginya sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap pendidikan di pelosok NTT.
Besar harapan masyarakat agar aksi swadaya ini mampu mengetuk pintu hati para pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Barat maupun tingkat pusat.
Warga memimpikan suatu saat nanti jembatan darurat dari bambu ini dapat digantikan dengan jembatan permanen yang memiliki tingkat keamanan jauh lebih baik bagi masa depan anak-anak Golo Lajang.
Catatan : Petrus G. N berkontribusi dalam menulis artikel ini
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Fons Abun








