LABUAN BAJO — Masa tanggap darurat pascagempa bumi magnitudo 7,7 di kawasan Flores resmi diperpanjang selama 14 hari ke depan. Keputusan strategis ini diambil sebagai langkah antisipatif dan mitigasi berkelanjutan pascabencana di Kabupaten Manggarai Barat.
Langkah tersebut diputuskan setelah pemerintah daerah menggelar rapat evaluasi penanganan dampak gempa pada malam sebelumnya, melibatkan BMKG, BNPB, Basarnas, hingga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Terkait indikator dan aspek pertimbangan yang melatarbelakangi perpanjangan kebijakan tersebut, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi memilih memberikan penegasan yang singkat kepada wartawan.
“Dengan mempertimbangkan berbagai aspek ya, maka kami putuskan untuk perpanjang. Titik ya, titik. Aspeknya titik,” ujar Edi Endi usai Rapat Koordinasi (Rakor) Pemulihan Pariwisata Flores dan Isu Kepariwisataan Labuan Bajo di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat, Jumat (28/8/2026).
Sejalan dengan perpanjangan status darurat, penanganan terhadap para penyintas gempa di wilayah Manggarai Barat ini terus dipacu secara optimal.
Edi Endi memberikan apresiasi khusus kepada seluruh tenaga kesehatan yang telah turun langsung melayani warga terdampak sejak tanggal 15 lalu.
Menurutnya, para tenaga medis tak kenal lelah menjangkau belasan ribu jiwa yang tersebar di berbagai wilayah dengan medan sulit, termasuk di balik gunung dan di bawah lembah.
“Mereka pergi ke kamp-kamp, baik yang dibangun mandiri maupun komunal, mereka kunjungi. Puji Tuhan sudah belasan ribu jiwa yang terlayani,” ungkapnya.
Selain memperpanjang status tanggap darurat, Pemkab Manggarai Barat juga memutuskan memperpanjang masa belajar dari rumah bagi para siswa sekolah.
Kebijakan perpanjangan ini berlaku selama 12 hari ke depan, melanjutkan ketetapan sebelumnya yang terhitung sejak tanggal 15.
Edi Endi menyatakan, perpanjangan kebijakan belajar dari rumah ini diambil semata-mata demi alasan keamanan guna mencegah risiko susulan pascagempa.
“Lagi-lagi kami tidak khawatir. Tapi, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.
Terkait kebijakan tersebut, ia juga meluruskan persepsi publik agar tidak menganggap siswa sedang dalam masa libur sekolah. Proses belajar mengajar dipastikan tetap berjalan meski formatnya menyesuaikan kondisi darurat.
“Tidak masuk kelas. Tapi mereka tidak pernah libur. Anak sekolah tidak pernah libur. Hanya yang semula itu ada di kelas, sekarang tidak ada di kelas,” terang Edi Endi.
Sementara itu, untuk sektor pariwisata yang selama ini sebagai salah satu urat nadi perekonomian Kabupaten Manggarai Barat, dampaknya dipastikan tidak terlalu parah.
Edi Endi menyebut akses transportasi maupun kondisi destinasi pariwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya secara umum tidak mengalami kerusakan fatal akibat gempa M 7,7 tersebut.
“Aksesnya kemudian relatif aman. Relatif aman,” tutupnya.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update






