LABUAN BAJO – Penerapan teknologi Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik kini menjadi pilihan strategis dalam upaya meningkatkan populasi dan produktivitas ternak di Kabupaten Manggarai Barat.
Inseminasi Buatan merupakan teknik memasukkan semen atau sperma dari ternak jantan unggul ke dalam saluran reproduksi betina. Proses ini dilakukan oleh tenaga ahli saat hewan betina dalam masa berahi.
Praktisi Inseminasi Buatan di Kabupaten Manggarai Barat, drh. Anicetus Savio Mutu, M.Si., menjelaskan bahwa metode ini sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas peternakan di wilayah tersebut.
“Keuntungannya lebih praktis, murah, dan efisien,” ujar drh. Savio saat dihubungi media ini melalui pesan WhatsApp pada Kamis malam, 19 Februari 2026.

Menurut lulusan Universitas Airlangga ini, keunggulan lain dari IB adalah kemampuannya dalam memperbaiki mutu genetik ternak.
Selain itu, metode ini mampu mencegah penularan penyakit akibat kontak langsung antarhewan.
Di Kabupaten Manggarai Barat, praktik kawin suntik telah diterapkan pada beberapa jenis ternak, yakni kerbau, sapi, dan babi. Sejauh ini, penggunaan IB paling tinggi ditemukan pada ternak babi.
Savio mengungkapkan bahwa tingkat keberhasilan inseminasi pada ternak babi tergolong sangat tinggi dan memberikan hasil yang memuaskan bagi para peternak lokal.
“IB babi keberhasilannya sampai 95 persen. Faktornya praktis, efisien, murah, peternaknya peduli, dan inseminatornya handal,” jelas Savio menambahkan.
Ia merinci bahwa sebelum proses kawin suntik dilakukan, sperma terlebih dahulu melalui proses pengenceran dan pengamatan di bawah mikroskop untuk memastikan kualitasnya.
Hasil dari penerapan teknologi ini pun cukup signifikan. Dalam satu kali masa kawin, peternak babi rata-rata mampu menghasilkan 10 hingga 11 ekor anak.
Savio berharap para peternak di Manggarai Barat terus konsisten mempraktikkan Inseminasi Buatan. Hal ini penting demi meningkatkan kuantitas dan kualitas usaha peternakan rakyat.
“Harapannya peternak bisa menggunakan IB untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas dari usaha peternakannya,” pungkas Savio menutup keterangannya.
Penulis : Bofas
Editor : Fons Abun








