“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB

- Redaksi

Jumat, 21 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Camat Lamba Leda Utara, Agus Supratman, meninggi. Telunjuknya mengarah tajam ke wajah seorang petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di sebuah posko bantuan gempa Flores. (Sumber gambar, tangkapan layar video yang beredar di media sosial).

Camat Lamba Leda Utara, Agus Supratman, meninggi. Telunjuknya mengarah tajam ke wajah seorang petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di sebuah posko bantuan gempa Flores. (Sumber gambar, tangkapan layar video yang beredar di media sosial).

BORONG — Suara Camat Lamba Leda Utara, Agus Supratman, meninggi. Telunjuknya mengarah tajam ke wajah seorang petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di sebuah posko bantuan gempa Flores.

“Pak keterlaluan. Bapak jual saya!” teriak Agus dengan nada bergetar, seperti terekam dalam video yang viral di media sosial.

Agus lantas memungut sebuah kantong sembako dan membeberkannya ke arah petugas tersebut.

“Ini bapak punya bantuan, ini bapak punya bantuan. Saya stres. Bagi rata, ya!” cecarnya penuh amarah.

Di depannya, sang petugas BNPB tampak kewalahan. Ia mencoba meredakan ketegangan dengan nada pelan. “Sama-sama kita bantu, ya,” balas petugas itu.

Namun, emosi Agus telanjur memuncak. Ia merasa pihak kecamatan dipermainkan oleh klaim sepihak pemerintah pusat.

“Semua bantuan yang datang dari kemarin, saya hargai bapak dari kemarin seperti Tuhan. Saya sudah tidak tahan, Pak,” tukas Agus.

Baca Juga:  Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Di latar belakang video, terdengar teriakan riuh warga terdampak gempa yang mendesak agar tumpukan bantuan tersebut segera dibagikan.

Insiden adu mulut itu terjadi di posko pengungsian Kecamatan Lamba Leda Utara pada Jumat (21/8/2026). Kemarahan Agus bukan tanpa alasan.

Agus memprotes keras klaim BNPB yang menyebut bahwa bantuan logistik pasca-gempa magnitudo 7,7 di Flores telah mengalir deras ke wilayahnya.

Ia menegaskan, informasi yang disebarkan BNPB ke publik sangat kontras dengan realitas di lapangan.

Menurut data resmi kecamatan, bantuan pangan dari pemerintah pusat yang tiba di lokasi hanya berjumlah 300 tas “Paket Inpres”.

Isi paket tersebut jauh dari kata melimpah untuk skala bencana besar. “Kenyataan bantuan yang diterima saat ini [hanya] 300 tas paket Inpres,” ujar Agus kepada wartawan di lokasi.

Baca Juga:  Sebut Kebijakan Tak Matang, PMKRI Labuan Bajo Kritisi Wacana Pembatasan Wisatawan di Kawasan TNK

Setiap tas hanya berisi 1 kilogram gula, satu kotak teh, satu kotak susu Indomilk, dua bungkus margarin, 350 gram kopi Kapal Api, satu kaleng sarden, dan sekitar 2 kilogram beras merek Boneka Sawah.

Sementara untuk logistik non-pangan, posko kecamatan menerima 5 karung selimut (3.375 lembar), 5 koli matras (1.250 lembar), 20 buah tenda keluarga, dan 50 paket hygiene kit.

Tambahan pasokan lain hanya berupa 16 ikat telur dan 20 dus air mineral.

Ketegangan dalam video tersebut memuncak ketika pihak BNPB terus mendesak Agus untuk menandatangani berita acara penyerahan barang.

Petugas ngotot menyebut bahwa bantuan yang disalurkan ke Lamba Leda Utara sudah sangat banyak.

Baca Juga:  "Kalau Pemerintah Ingat, Saya Terima": Kepasrahan Mama Kornelia yang Luput dari Keadilan

Agus merespons dengan menarik tangan petugas tersebut untuk melihat langsung tumpukan logistik yang minim di posko.

Agus secara tegas menolak meneken dokumen negara tersebut. Alasannya jelas: jumlah fisik barang di posko jauh lebih sedikit dibandingkan deretan angka yang tertera di atas kertas administrasi BNPB.

Seluruh bantuan minim yang masuk itu dipastikan akan langsung didistribusikan secara transparan ke 11 desa di Kecamatan Lamba Leda Utara.

Hingga Jumat (21/8/2026) siang, warga terdampak gempa di wilayah tersebut dilaporkan masih sangat kekurangan pasokan logistik.

Pihak kecamatan menuntut pemerintah pusat segera menyelaraskan data di atas kertas dengan realitas distribusi di lapangan agar penanganan korban gempa tidak menjadi sekadar klaim kosong.

Penulis : Nalljehaut

Editor : Fons Abun

Berita Terkait

Buntut Status FB, EH Jadi Tersangka tapi Cuma Wajib Lapor
Cakades 04 Minta Coblos Ulang, Panitia Pilkades Lewat Heran: Saat Pleno Lancar-lancar Saja
Kalah Tipis 3 Suara, Cakades Lewat Mabar Gugat Hasil Pilkades dan Minta Coblos Ulang
Pemkab Manggarai Barat ke PLN: Jangan Alergi Kritik!
Bakar 832 Ribu Rokok Ilegal, Kepala Bea Cukai Labuan Bajo Soroti Kerugian Pajak dan Cukai
Menang Tipis 19 Suara, Sukarman Resmi Nakhodai Desa Golo Mori
Wabup Matim Pantau Pengerjaan Lapen Simpang Nantal-Kawit- Laing Rana Mese, Ingatkan Soal Kualitas
Kawal Hak Suara Warga Sakit, Panitia Pilkades Desa Gorontalo Mabar Datangi Rumah ke Rumah

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:03

Buntut Status FB, EH Jadi Tersangka tapi Cuma Wajib Lapor

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04

Cakades 04 Minta Coblos Ulang, Panitia Pilkades Lewat Heran: Saat Pleno Lancar-lancar Saja

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:31

Pemkab Manggarai Barat ke PLN: Jangan Alergi Kritik!

Rabu, 30 September 2026 - 12:47

Bakar 832 Ribu Rokok Ilegal, Kepala Bea Cukai Labuan Bajo Soroti Kerugian Pajak dan Cukai

Rabu, 30 September 2026 - 11:55

Menang Tipis 19 Suara, Sukarman Resmi Nakhodai Desa Golo Mori

Berita Terbaru