Kepala BTNK Bongkar Urgensi Pembatasan Wisatawan di TN Komodo

- Redaksi

Minggu, 12 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BTNK, Hendrikus Rani Siga, usai menghadiri RDP dengan DPRD Manggarai Barat, Rabu 8 April 2026. (Foto/Fons Abun).

Kepala BTNK, Hendrikus Rani Siga, usai menghadiri RDP dengan DPRD Manggarai Barat, Rabu 8 April 2026. (Foto/Fons Abun).

LABUAN BAJO – Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) angkat bicara terkait banyaknya keluhan wisatawan yang gagal mendaki puncak Pulau Padar sejak diterapkannya kebijakan pembatasan kuota pada 1 April lalu. BTNK menegaskan langkah pahit ini diambil demi menyelamatkan ekosistem dari kerusakan permanen.

Kepala BTNK, Hendrikus Rani Siga, mengungkapkan bahwa kebijakan ini merujuk pada hasil kajian daya tampung lingkungan. Berdasarkan data tahun 2018, kuota optimum kunjungan hanya berada di angka 366.000 orang per tahun. Namun, kenyataannya angka kunjungan terus meroket hingga melebihi batas.

Baca Juga:  Respons Cepat Gempa Flores, PT Mandiri Inti Perkasa Turunkan Bantuan Logistik

“Ya, yang jelas kan kawasan itukan punya keterbatasan ya, punya daya tampung gitu. Itu menjadi latar belakang. Artinya hasil kajian di 2018 itu menyebutkan kuota optimum itu adalah 366.000 sekian per tahun,” ujar Hendrikus usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Manggarai Barat, Rabu (8/4/2026).

Hendrikus menjelaskan, urgensi pembatasan ini kian mendesak karena dampak kerusakan lingkungan mulai terlihat secara kasat mata. Tingginya aktivitas manusia membawa konsekuensi buruk bagi kelestarian Taman Nasional (TN) Komodo.

“Yang jelas dari kunjungan itu sampah itu sudah pasti, limbah itu pasti, kan kapal itu kan bergerak terus ya. Itu paling tidak yang secara kasat mata kita bisa melihat itu,” tegasnya.

Baca Juga:  Jaga Identitas Daerah, Tiga Mahasiswa Unika Ruteng Jadi Finalis Putra Putri Budaya NTT

Ia menambahkan, pembatasan kuota bukan sekadar soal angka, melainkan upaya preventif sebelum kerusakan menjadi tak terkendali. Hendrikus bahkan membawa-bawa nama Taman Nasional Bunaken sebagai cermin buruk yang tidak boleh terulang di Komodo.

“Jadi pembatasan kuota ini tidak hanya semata-mata dalam rangka mengobati ekosistem, tetapi juga mengantisipasi supaya kerusakan itu jangan sampai lebih besar gitu,” kata Hendrikus.

Baca Juga:  KM Feronia: Jejak Tumpahan Minyak Ditemukan, Satu Korban Masih Hilang

“Dan kita sudah punya pengalaman-pengalaman di taman nasional lain yang seperti Bunaken itu kan sekarang sudah mulai menurun kualitasnya, sehingga kita tidak ingin itu terjadi (di Komodo),” pungkasnya.

Untuk diketahui, sejak kebijakan baru ini resmi berlaku, banyak wisatawan yang telah tiba di Labuan Bajo terpaksa gigit jari karena tidak bisa mengakses puncak Pulau Padar akibat kuota harian yang sudah terpenuhi. BTNK mengimbau wisatawan untuk melakukan perencanaan perjalanan lebih awal dan mematuhi aturan demi keberlanjutan pariwisata super prioritas tersebut.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Viral Penjaga Lahan Usir Warga di Pantai Labuan Bajo: Sampeyan Duduk di Pasirnya Ini
Gandeng FORKOMA, Forum Peduli Mabar Gelar Pelatihan Jurnalistik Dua Hari
Bawa Pesan Edi Endi, NasDem Bagikan 100 Terpal untuk Warga Welak Terdampak Gempa
Cerita Mari Elka Pangestu Terpikat Keramahan Warga Flores Usai Jalan Kaki 25,5 Km
Jalan Kaki 25,5 Km, Peziarah Flores Ulurkan Tangan untuk Seminari Terdampak Gempa
Bukan Cuma Bali, Kadispar Mabar Dorong Labuan Bajo Jadi Primadona Baru Turis Tiongkok
Bidik Turis Tiongkok, Kemenpar-BPOLBF Boyong 7 Agen Perjalanan ke Labuan Bajo
Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:13

Viral Penjaga Lahan Usir Warga di Pantai Labuan Bajo: Sampeyan Duduk di Pasirnya Ini

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:21

Gandeng FORKOMA, Forum Peduli Mabar Gelar Pelatihan Jurnalistik Dua Hari

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:36

Bawa Pesan Edi Endi, NasDem Bagikan 100 Terpal untuk Warga Welak Terdampak Gempa

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:54

Cerita Mari Elka Pangestu Terpikat Keramahan Warga Flores Usai Jalan Kaki 25,5 Km

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:00

Jalan Kaki 25,5 Km, Peziarah Flores Ulurkan Tangan untuk Seminari Terdampak Gempa

Berita Terbaru

FOTO saat pengkuran jalan. Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memfokuskan pengerjaan Jalan Sola–Watu Ata pada titik-titik kerusakan terparah pada 2026 ini.

Infrastruktur

Dinas PUPR Matim Prioritaskan Segmen Rusak Parah Sola-Watu Ata

Jumat, 30 Okt 2026 - 09:34