LABUAN BAJO — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) kembali mematangkan persiapan penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 yang akan digelar pada Agustus mendatang.
Persiapan ini diwujudkan melalui forum Diskusi Kolaborasi bersama Media (DISKORIA) dan Bincang Kepariwisataan di Kantor BPOLBF, Labuan Bajo, Selasa (21/7/2026).
Forum antarunsur Pentahelix ini melibatkan perwakilan pemerintah, pelaku industri pariwisata, aparat keamanan, media, hingga komunitas lokal.
Mengusung tema kolaborasi produk dan tata kelola destinasi, BPOLBF mendorong tiga agenda utama dalam pertemuan ini.
Ketiga agenda tersebut meliputi penguatan koordinasi lintas sektor, penyusunan promosi paket wisata terintegrasi, dan penyediaan data agen perjalanan resmi guna menjamin keamanan wisatawan.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung, menegaskan bahwa acara berkualitas harus mampu memberikan dampak berganda bagi daerah.
“Berdasarkan kajian Kementerian Pariwisata, event berkualitas adalah event yang mampu memperkuat citra destinasi, mendorong investasi, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Andhy.
Menurutnya, Festival Golo Koe menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menghadirkan pengalaman wisata yang aman dan berkualitas.
Festival Golo Koe 2026 telah memasuki tahun kelima penyelenggaraan. Hebatnya, acara ini berhasil masuk dalam 10 besar Katalog Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Andhy menjelaskan, festival ini juga menjadi jangkar untuk mendorong wisata religi Katolik di Labuan Bajo Flores.
Wisata religi ini mulai dikembangkan terintegrasi dalam pola perjalanan (travel pattern) yang menghubungkan 54 destinasi ziarah dan budaya Katolik di Pulau Flores.
“Pengembangan wisata religi Katolik diharapkan dapat memperkaya produk wisata, memperluas manfaat ekonomi, serta memperkuat citra destinasi yang memadukan keindahan alam, budaya, dan spiritualitas,” tegasnya.
Sementara itu, Anggota Tim Publikasi Festival Golo Koe yang juga perwakilan KOMSOS Keuskupan Labuan Bajo, Romo Heribertus Ratu, memaparkan makna spiritual di balik festival ini.
Romo Heribertus menjelaskan, ikon utama festival adalah Bunda Maria Assumpta yang menjadi simbol pengharapan dan ziarah komunal yang inklusif.
“Mengusung tema ‘Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan’, Festival Golo Koe 2026 akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026,” jelas Romo Heribertus.
Ia menambahkan, pusat kegiatan akan berlokasi di Waterfront Kawasan Marina Labuan Bajo dan Gua Maria Golo Koe.
Rangkaian acara akan diisi dengan pameran ekonomi kreatif, pentas budaya Nusantara, Kebangunan Rohani Katolik (KRK), aksi ekologis, hingga Ekaristi Akbar dan konser penutup.
Dari sisi tata kelola dan keamanan destinasi, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) turut mengambil langkah tegas.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Manggarai Barat, Petrus Antonius Rasyid, memaparkan inovasi aplikasi “Gendang Mabar”.
Aplikasi milik Pemda ini akan diintegrasikan dengan aplikasi “SI ORA” yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Komodo (BTNK).
Langkah ini bertujuan untuk memberantas praktik agen perjalanan ilegal yang kerap merugikan wisatawan.
“Gendang Mabar akan menjadi pusat informasi resmi bagi wisatawan mengenai daya tarik wisata, travel agent, tour operator, hingga pemandu wisata yang telah terverifikasi,” ungkap Petrus.
Petrus berharap, platform ini akan memudahkan wisatawan mendapat informasi akurat, sekaligus menjamin kenyamanan dan kualitas layanan pariwisata di Manggarai Barat.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







