Ardha Handoko Ungkap Bahaya AI yang Tidak Disadari Banyak Jurnalis

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi yang digelar Jumat  (12/06) itu menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua AJI Kupang Djemi Amnifu, Jurnalis Bajo Update Alfonsius Abun, Editor Floresa Ryan Dagur, dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Ardha Handoko. Acara dimoderatori Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut.

Diskusi yang digelar Jumat (12/06) itu menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua AJI Kupang Djemi Amnifu, Jurnalis Bajo Update Alfonsius Abun, Editor Floresa Ryan Dagur, dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Ardha Handoko. Acara dimoderatori Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut.

LABUAN BAJO Penggunaan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dalam praktik jurnalistik perlu disikapi secara hati-hati karena berpotensi mengubah cara berpikir dan cara kerja jurnalis secara perlahan.

Peringatan itu disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ardha Handoko, dalam diskusi terbuka bertajuk “Jurnalis di Tengah Tantangan dan Tekanan di NTT” yang digelar media Floresa.co di Rumah Kopi Kebun Kota, Labuan Bajo, Jumat (12/6/2026) malam.

Menurut Ardha, perkembangan platform digital dan AI selalu menghadirkan dua sisi sekaligus.

Di satu sisi, teknologi tersebut membantu pekerjaan manusia. Namun di sisi lain, AI dapat menjadi instrumen dominasi yang bekerja secara halus dan sering kali tidak disadari penggunanya.

“Ada banyak pandangan terhadap platform digital. Satu sisi dia bisa membantu, tetapi di sisi lain bisa jadi sebetulnya sedang menjebak kita. Cara yang dilakukan sangat halus, tidak terasa bahwa kita sebetulnya sedang dikontrol,” kata Ardha.

Baca Juga:  Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?

Ia menilai AI berbeda dengan bentuk-bentuk kontrol konvensional yang lebih mudah dikenali.

Menurutnya, platform digital hadir bukan sebagai pihak yang memaksa, melainkan sebagai mitra yang menawarkan kemudahan.

“Mereka datang sebagai partner kita. Datang untuk menolong kita. Bahasanya mempermudah kerja kita, “Silakan dipakai secara gratis”. Tetapi logika kita sedang dibangun sehingga kita terbiasa menggunakan tools itu,” ujarnya.

Ardha mengatakan ketergantungan terhadap AI dapat membuat seseorang merasa kesulitan bekerja ketika teknologi tersebut tidak tersedia.

Padahal, kata dia, banyak pekerjaan yang sebelumnya dapat dilakukan tanpa bantuan AI.

Ia menjelaskan perusahaan-perusahaan teknologi global memiliki modal, infrastruktur, dan kemampuan teknologi yang sangat besar untuk membangun ketergantungan tersebut.

Baca Juga:  Bencana Alam Flores: Bantuan Mengalir dari Kaltim, Bali, NTB, hingga Masyarakat Umum

Menurut Ardha, pengaruh AI tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga mengubah budaya kerja.

Ia mencontohkan proses kreatif yang sebelumnya melibatkan diskusi, perencanaan, dan penyuntingan kini dapat dipersingkat hanya dengan memberikan perintah atau prompt kepada mesin.

“Yang tadinya mungkin brainstorming dulu, kemudian ada proses editor dan sebagainya. Sekarang cukup kasih prompt lalu sudah selesai,” katanya.

Perubahan budaya kerja itu, lanjut Ardha, pada akhirnya memengaruhi cara berpikir para pengguna, termasuk jurnalis.

“Jadi cara bekerja kita bukan lagi logika kita sebagai jurnalis. Tetapi kita sudah semacam dikooptasi logikanya oleh mesin,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan relasi antara pengguna dan perusahaan pengembang AI.

Baca Juga:  Bungkamnya Pimpinan Bank NTT Labuan Bajo Usai Terbitnya SPDP Pemalsuan Surat

Menurutnya, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut tidak hanya beroperasi lintas negara, tetapi juga memiliki hubungan bisnis dengan pemerintah dan berbagai institusi besar.

“Mereka punya infrastruktur, kapital, kekuatan kultural, dan kekuatan geopolitik yang besar. Jadi terbayang betapa besarnya dan betapa sangat asimetris hubungan kita sebagai user dengan AI ini,” kata Ardha.

Karena itu, ia mengingatkan para jurnalis untuk tidak menerima penggunaan AI secara mentah-mentah.

“Jadi mungkin harus hati-hati dalam penggunaan AI ini,” ujarnya.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua AJI Kupang Djemi Amnifu, Jurnalis Bajo Update Alfonsius Abun, Editor Floresa Ryan Dagur, dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Ardha Handoko. Acara dimoderatori Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog
Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara
Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah
Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta
Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?
Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo
“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB
Gempa NTT: Dua Lansia Kritis Dievakuasi via Udara dari Manggarai Timur

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:55

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:16

Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:26

Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:57

Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:25

Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17