LABUAN BAJO — Penggunaan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dalam praktik jurnalistik perlu disikapi secara hati-hati karena berpotensi mengubah cara berpikir dan cara kerja jurnalis secara perlahan.
Peringatan itu disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ardha Handoko, dalam diskusi terbuka bertajuk “Jurnalis di Tengah Tantangan dan Tekanan di NTT” yang digelar media Floresa.co di Rumah Kopi Kebun Kota, Labuan Bajo, Jumat (12/6/2026) malam.
Menurut Ardha, perkembangan platform digital dan AI selalu menghadirkan dua sisi sekaligus.
Di satu sisi, teknologi tersebut membantu pekerjaan manusia. Namun di sisi lain, AI dapat menjadi instrumen dominasi yang bekerja secara halus dan sering kali tidak disadari penggunanya.
“Ada banyak pandangan terhadap platform digital. Satu sisi dia bisa membantu, tetapi di sisi lain bisa jadi sebetulnya sedang menjebak kita. Cara yang dilakukan sangat halus, tidak terasa bahwa kita sebetulnya sedang dikontrol,” kata Ardha.
Ia menilai AI berbeda dengan bentuk-bentuk kontrol konvensional yang lebih mudah dikenali.
Menurutnya, platform digital hadir bukan sebagai pihak yang memaksa, melainkan sebagai mitra yang menawarkan kemudahan.
“Mereka datang sebagai partner kita. Datang untuk menolong kita. Bahasanya mempermudah kerja kita, “Silakan dipakai secara gratis”. Tetapi logika kita sedang dibangun sehingga kita terbiasa menggunakan tools itu,” ujarnya.
Ardha mengatakan ketergantungan terhadap AI dapat membuat seseorang merasa kesulitan bekerja ketika teknologi tersebut tidak tersedia.
Padahal, kata dia, banyak pekerjaan yang sebelumnya dapat dilakukan tanpa bantuan AI.
Ia menjelaskan perusahaan-perusahaan teknologi global memiliki modal, infrastruktur, dan kemampuan teknologi yang sangat besar untuk membangun ketergantungan tersebut.
Menurut Ardha, pengaruh AI tidak hanya terjadi pada aspek teknis, tetapi juga mengubah budaya kerja.
Ia mencontohkan proses kreatif yang sebelumnya melibatkan diskusi, perencanaan, dan penyuntingan kini dapat dipersingkat hanya dengan memberikan perintah atau prompt kepada mesin.
“Yang tadinya mungkin brainstorming dulu, kemudian ada proses editor dan sebagainya. Sekarang cukup kasih prompt lalu sudah selesai,” katanya.
Perubahan budaya kerja itu, lanjut Ardha, pada akhirnya memengaruhi cara berpikir para pengguna, termasuk jurnalis.
“Jadi cara bekerja kita bukan lagi logika kita sebagai jurnalis. Tetapi kita sudah semacam dikooptasi logikanya oleh mesin,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan relasi antara pengguna dan perusahaan pengembang AI.
Menurutnya, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut tidak hanya beroperasi lintas negara, tetapi juga memiliki hubungan bisnis dengan pemerintah dan berbagai institusi besar.
“Mereka punya infrastruktur, kapital, kekuatan kultural, dan kekuatan geopolitik yang besar. Jadi terbayang betapa besarnya dan betapa sangat asimetris hubungan kita sebagai user dengan AI ini,” kata Ardha.
Karena itu, ia mengingatkan para jurnalis untuk tidak menerima penggunaan AI secara mentah-mentah.
“Jadi mungkin harus hati-hati dalam penggunaan AI ini,” ujarnya.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua AJI Kupang Djemi Amnifu, Jurnalis Bajo Update Alfonsius Abun, Editor Floresa Ryan Dagur, dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Ardha Handoko. Acara dimoderatori Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update






