Oleh: Dafrosia Diana Elja, Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
DALAM percakapan sehari‑hari maupun diskusi intelektual, pertanyaan “mana yang lebih penting: uang atau cinta?” kerap membelah pandangan manusia. Sebagian meyakini cinta sebagai inti kemanusiaan, namun jika dilihat dari kacamata ilmu pengetahuan, sosiologi, dan kenyataan sosial‑budaya, jawabannya menjadi lebih jelas: uang menempati posisi yang lebih mendasar sebagai penopang keberlangsungan hidup, meskipun cinta tetap memiliki nilai emosional yang tak tergantikan.
Dasar Pemikiran Ilmuwan: Kebutuhan Materi Sebagai Pijakan Pertama
Pandangan ini tidak lahir begitu saja, melainkan selaras dengan kerangka berpikir para ilmuwan yang meneliti perilaku dan struktur masyarakat.
Menurut Abraham Maslow dalam Hierarki Kebutuhan Manusia, kebutuhan dasar biologis—makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan—berada di tingkat paling bawah dan harus terpenuhi lebih dulu.
Hanya setelah kebutuhan ini terjamin, manusia mampu mengarahkan perhatian pada kebutuhan lebih tinggi: rasa aman, kasih sayang, penghargaan, hingga pengembangan diri.
Artinya, cinta—yang masuk dalam kebutuhan rasa memiliki dan kasih sayang—tidak bisa tumbuh kuat di atas ketidakpastian materi. Uang adalah alat utama yang menjembatani pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.
Sosiolog Karl Marx memperluas pandangan ini lewat pemikirannya tentang struktur dan suprastruktur. Baginya, kehidupan ekonomi atau materi menjadi fondasi yang membentuk cara berpikir, nilai, dan hubungan antarmanusia.
Cinta yang dianggap murni sekalipun, dalam praktiknya terjalin dalam sistem yang diatur ketersediaan sumber daya. Ketika sumber daya terbatas, persaingan dan tekanan muncul, yang sering kali mengubah warna hubungan emosional.
Dukungan juga datang dari ilmuwan perilaku B.F. Skinner, yang menegaskan bahwa lingkungan yang mendukung—termasuk kestabilan keuangan—menjadi penguat utama bagi interaksi yang positif.
Sebaliknya, tekanan akibat kemiskinan atau ketidakpastian ekonomi berfungsi sebagai pemicu stres yang melemahkan ikatan emosional, sekalipun dibangun atas dasar cinta.
Kondisi Sosial: Realitas Hubungan di Tengah Masyarakat
Dalam kenyataan sosial, jarang ada hubungan yang berjalan terlepas dari pengaruh ekonomi. Data dan pengamatan sosial menunjukkan bahwa masalah keuangan menjadi salah satu penyebab utama konflik rumah tangga dan perpecahan hubungan di berbagai lapisan masyarakat.
Hal ini terlihat nyata pula di wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Manggarai, di mana tradisi belis atau mas kawin bukan sekadar nilai materi, melainkan bentuk pengakuan budaya bahwa kemampuan ekonomi menjadi salah satu penanda kesiapan membangun keluarga.
Di tengah masyarakat modern Indonesia, tantangan makin terasa: biaya pendidikan yang meningkat, akses kesehatan yang butuh dukungan biaya, hingga ketidakpastian akibat perubahan ekonomi membuat stabilitas finansial menjadi kebutuhan vital.
Uang bukan sekadar alat tukar, melainkan sistem perlindungan sosial pribadi. Dengan dana yang cukup, seseorang dapat merencanakan masa depan, mengembangkan potensi lewat pendidikan dan pelatihan, serta menjaga kualitas hidup keluarga. Sebaliknya, tanpa dukungan ini, cinta sering kali diuji hingga batas daya tahan manusia.
Uang juga membuka ruang kebaikan yang lebih luas: membantu kerabat, mendukung anak‑anak kurang mampu, atau terlibat dalam kegiatan sosial. Di sini terlihat, kekuatan materi memperluas jangkauan nilai kemanusiaan, yang juga menjadi bagian dari makna hidup bermasyarakat.
Posisi Cinta: Berharga, Namun Bukan Fondasi Utama
Pandangan bahwa uang lebih penting tidak berarti menolak nilai cinta. Cinta memberi makna batin, kedamaian, dan ikatan emosional yang tidak bisa dibeli. Namun cinta bersifat melengkapi, bukan menggantikan kebutuhan hidup.
Dalam realitas yang nyata, cinta tanpa dukungan ekonomi sering kali menjadi beban yang berat untuk dipikul bersama. Banyak kisah bermula dari cinta yang kuat, namun melemah atau berakhir karena ketidakmampuan menghadapi tantangan hidup yang bersifat materi.
Hal ini juga selaras dengan semangat nilai kebangsaan kita: Pancasila, khususnya sila ke‑5 tentang keadilan sosial. Kesejahteraan materi yang terbangun menjadi jalan agar nilai‑nilai kemanusiaan, persatuan, dan kasih sayang dapat tumbuh dalam lingkungan yang adil dan aman.
Berdasarkan pandangan ilmu pengetahuan, struktur sosial, dan kearifan budaya, dapat disimpulkan bahwa uang menempati posisi yang lebih mendasar dibandingkan cinta. Uang menjamin keberlangsungan hidup, memberikan rasa aman, membuka peluang berkembang, dan memperkuat kemampuan berbagi bagi orang lain.
Cinta tetaplah penting sebagai jiwa hubungan, namun ia memerlukan wadah berupa stabilitas ekonomi agar dapat bertahan dan tumbuh subur. Di hadapan realitas kehidupan, uang bukanlah segalanya—tetapi tanpa uang, hampir segala hal yang kita bangun, termasuk cinta, akan sulit berdiri tegak.






