Carrying Capacity TNK Dipertanyakan, DPRD Mabar: Kebijakan Kok Lentur?

- Redaksi

Jumat, 10 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Manggarai Barat, Rabu, 8 April. RDP digelar menyusul banyaknya wisatawan yang gagal mendaki puncak Pulau Padar sejak kebijakan ini resmi berlaku 1 April lalu. (Foto/Fons Abun).

Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Manggarai Barat, Rabu, 8 April. RDP digelar menyusul banyaknya wisatawan yang gagal mendaki puncak Pulau Padar sejak kebijakan ini resmi berlaku 1 April lalu. (Foto/Fons Abun).

LABUAN BAJO – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Barat mencecar Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) terkait kebijakan pembatasan kuota 1.000 orang ke Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Kritik pedas ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Manggarai Barat, Rabu, 8 April. RDP digelar menyusul banyaknya wisatawan yang gagal mendaki puncak Pulau Padar sejak kebijakan ini resmi berlaku 1 April lalu.

Anggota DPRD Manggarai Barat, Marten Warus, mempertanyakan dasar kajian kebijakan carrying capacity atau daya tampung yang dinilai tidak konsisten di lapangan.

“Kelihatannya sangat lentur dalam kebijakan ini. Akhirnya meragukan saya bahwa carrying capacity ini dilandaskan pada sebuah kajian yang betul-betul strict untuk keberlanjutan,” ujar Marten di hadapan Kepala BTNK.

Baca Juga:  WNA Asal Kanada Ditemukan Tewas Terjerat Tali di Hotel Labuan Bajo, Ada Surat Wasiat

Politikus Partai Gerindra ini khawatir kelenturan aturan akan berdampak buruk pada ekosistem TNK, terutama saat memasuki musim kunjungan padat (peak season).

Marten juga menyoroti adanya dugaan perlakuan istimewa terhadap kapal pesiar (cruise) yang mendapatkan dispensasi di luar kuota sistem aplikasi SIORA.

“Kok ada carrying capacity tetapi kalau cruise, dispensasi? Ini kan sangat berbahaya. Cruise juga harus melalui aplikasi SIORA sehingga kita bisa tahu,” tegas Marten.

Ia mendesak agar BTNK menjamin distribusi kuota yang adil antara operator besar, kapal liveaboard, dengan wisatawan reguler agar tidak terjadi diskriminasi akses.

Menanggapi cercaan tersebut, Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga memberikan penjelasan mengenai kebijakan dispensasi bagi kapal pesiar yang mengangkut ribuan orang.

Baca Juga:  Cecilia Shelvy Beberkan Alasan Penolakan Kuota Wisata TNK

Hendrikus menyebut langkah tersebut sebagai bentuk kompromi yang terpaksa diambil agar kuota harian untuk wisatawan umum tidak tersedot habis oleh satu kapal pesiar.

“Ini adalah langkah kompromi yang ‘terpaksa’ saya ambil. Soalnya kalau cruise datang itu 1.000 (orang), habis langsung (kuotanya). Pada hari itu nol untuk pengunjung reguler,” kata Hendrikus.

Ia menjelaskan, pemisahan kuota bagi kapal pesiar dilakukan agar publik tetap memiliki kesempatan berkunjung ke TN Komodo di hari yang sama.

Terkait kendala teknis pada aplikasi SIORA yang dikeluhkan pelaku wisata, Hendrikus mengakui bahwa sistem tersebut memang masih terus disempurnakan.

“Kami akui SIORA dalam proses pengembangan. Bahkan sekarang sudah versi ke-37. Ini baru berlaku satu tahun tapi sudah versi 37 karena kami merespons dinamika publik,” ungkapnya.

Baca Juga:  PGWI Labuan Bajo Dorong Taman Mangrove Teluk Terang Jadi Destinasi Konservasi Baru

Soal kendala jaringan di kawasan TNK yang sering menghambat verifikasi tiket, Hendrikus menyarankan agar wisatawan menyelesaikan pembelian di Labuan Bajo sebelum berangkat.

“Kalau terkait jaringan itu kan tidak di TNK porsinya. Maka disarankan beli di Labuan Bajo. Jangan sampai sudah ke sana baru beli, lalu bentrok dengan petugas kami karena jaringan tidak ada,” tutup Hendrikus.

RDP ini dipimpin oleh Marten Warus dari Gerindra dan Ali Sehidun dari Partai Bulan Bintang (PBB), dan tidak dihadiri oleh pelaku wisata yang menuntut solusi atas sengkarut kuota di Taman Nasional Komodo.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Discover the Countryside Tour by Komodo Padar Tour–A Hidden Gem Near Labuan Bajo
Komodo Padar Tour Offers Rural Flores Itinerary as Island Trip Alternative
Asuransi Wisata Wajib di Labuan Bajo? Ini Usulan BPOLBF
Atasi Ketergantungan Pangan dari Luar, BPOLBF Genjot Pengusaha Lokal Lewat Floratama Academy
Kemenpar dan BPOLBF Perkuat Standar Keselamatan Wisata Bahari di Labuan Bajo
BPOLBF dan Divers Alert Network Bekali Kru Kapal Standar Penanganan Darurat
Edi Endi Sebut Protes Terhadap Tempo Hari Ini Baru Aksi Pertama
Kolaborasi Lintas Sektor: Labuan Bajo Kini Miliki Pusat Pengolahan Sampah Berbasis Larva

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 00:36

Discover the Countryside Tour by Komodo Padar Tour–A Hidden Gem Near Labuan Bajo

Kamis, 23 April 2026 - 00:28

Komodo Padar Tour Offers Rural Flores Itinerary as Island Trip Alternative

Rabu, 22 April 2026 - 11:18

Asuransi Wisata Wajib di Labuan Bajo? Ini Usulan BPOLBF

Selasa, 21 April 2026 - 14:24

Atasi Ketergantungan Pangan dari Luar, BPOLBF Genjot Pengusaha Lokal Lewat Floratama Academy

Jumat, 17 April 2026 - 17:08

Kemenpar dan BPOLBF Perkuat Standar Keselamatan Wisata Bahari di Labuan Bajo

Berita Terbaru

Kegiatan bertajuk “Penguatan Tata Kelola Risiko untuk Membangun Pariwisata Berkualitas di Labuan Bajo di GMCC, Golo Mori, Labuan Bajo, Selasa 21 April 2026.

Pariwisata

Asuransi Wisata Wajib di Labuan Bajo? Ini Usulan BPOLBF

Rabu, 22 Apr 2026 - 11:18