Delapan Bulan Tanpa Upah, Pemilik Alat Berat Kembali Geruduk Mawatu Resort

- Redaksi

Kamis, 12 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gelombang protes masyarakat lokal kembali pecah di depan gerbang masuk kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (12/2/2026). Aksi demonstrasi yang dimulai pukul 16.20 WITA ini dipicu oleh persoalan tunggakan upah pekerja dan sewa alat berat yang tak kunjung dibayarkan selama hampir delapan bulan.

Gelombang protes masyarakat lokal kembali pecah di depan gerbang masuk kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (12/2/2026). Aksi demonstrasi yang dimulai pukul 16.20 WITA ini dipicu oleh persoalan tunggakan upah pekerja dan sewa alat berat yang tak kunjung dibayarkan selama hampir delapan bulan.

LABUAN BAJO – Gelombang protes masyarakat lokal kembali pecah di depan gerbang masuk kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (12/2/2026).

Aksi demonstrasi yang dimulai pukul 16.20 WITA ini dipicu oleh persoalan tunggakan upah pekerja dan sewa alat berat yang tak kunjung dibayarkan selama hampir delapan bulan.

Pantauan bajoupdate.com di lokasi, massa aksi yang dikoordinir Lorens Logam mendapat penjagaan ketat dari aparat Polres Manggarai Barat dan pihak keamanan internal perusahaan.

Dalam orasinya, Lorens Logam mengecam keras perlakuan investor terhadap pekerja lokal yang dinilainya melanggar etika bisnis dan nilai kemanusiaan.

“Persoalan sore hari ini bukan hanya soal moral, tetapi ada krisis etika dan hati nurani dari para investor terhadap masyarakat lokal,” tegas Lorens di depan portal masuk Mawatu.

Baca Juga:  Pelaku Wisata Tuding BTNK Lakukan Abuse of Power dan Manipulasi Konservasi

Ia menyebut, keterlibatan warga lokal dalam pembangunan proyek strategis di Labuan Bajo justru berujung pada penderitaan karena hak-hak mereka diabaikan.

“Masyarakat lokal diperlakukan seperti budak, diperas tenaganya, lalu diminta kerja rodi. Ini bentuk pembegalan terhadap hak rakyat,” tambahnya lagi.

Lorens juga menyoroti iklim investasi di Labuan Bajo yang menurutnya belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan masyarakat kecil di tengah desain besar pembangunan pariwisata.

Perwakilan manajemen Mawatu, Alfred, menyatakan keprihatinannya atas masalah yang menimpa para pekerja dan pemilik alat berat.
Perwakilan manajemen Mawatu, Alfred, menyatakan keprihatinannya atas masalah yang menimpa para pekerja dan pemilik alat berat.

Pihak manajemen Mawatu yang berada di bawah naungan Vasanta Group akhirnya menemui massa aksi untuk memberikan klarifikasi.

Perwakilan manajemen Mawatu, Alfred, menyatakan keprihatinannya atas masalah yang menimpa para pekerja dan pemilik alat berat.

Baca Juga:  Delapan Bulan Menanti Upah di Gerbang Resort Labuan Bajo

“Kami berkomitmen untuk berkoordinasi dengan PT Mitra Konstruksi (PT Mitralanggeng Prama Konstruksi). Kami beri waktu tiga hari agar mereka menyelesaikan kewajibannya,” ujar Alfred di hadapan massa.

Alfred menjelaskan bahwa PT Mitra Konstruksi selaku kontraktor sebenarnya telah meninggalkan area proyek sejak empat bulan lalu.

Meski demikian, pihak manajemen berjanji akan mengawal proses penyelesaian tunggakan tersebut bersama pihak kepolisian dan vendor terkait.

Di sisi lain, peserta aksi Sergius Try Deddy mengingatkan investor agar tidak menjadikan masyarakat kecil sebagai korban perselisihan internal antara pemilik proyek dan kontraktor.

“Keluarga pekerja punya tanggung jawab anak dan istri. Mereka sekarang terpaksa berutang sana-sini untuk makan karena gaji tak dibayar,” ungkap Sergius.

Ia meminta pihak Mawatu proaktif mendesak kontraktor pelaksana, mengingat masyarakat hanya mengetahui mereka bekerja untuk pembangunan di lahan milik Mawatu.

Baca Juga:  Tagih Hak di Mawatu Resort, Gerhardus Darung: Kami Sudah Cukup Sabar!

Aksi ini merupakan kelanjutan dari protes sebelumnya yang dilakukan oleh pemilik alat berat karena tagihan ratusan juta rupiah belum dilunasi.

Sebelumnya diberitakan, pemilik alat berat, Gerhardus Jack Darung, telah melakukan aksi protes serupa pada Kamis (5/2/2026).

Gerhardus menuntut PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi membayar tunggakan sebesar Rp363.658.400 yang telah menunggak selama hampir delapan bulan.

Pihak kontraktor (PT Mitra) berdalih belum bisa membayar karena belum menerima pembayaran dari pihak owner (Vasanta/Mawatu).

Dampaknya, para operator lapangan seperti Romelus Mautorin dan Ignasius Odin mengaku terpaksa berutang ke koperasi dan toko demi menyambung hidup keluarga karena gaji mereka macet selama lima bulan.

Hingga saat ini, Direktur PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi belum memberikan tanggapan resmi meski telah dihubungi sejak Kamis 5 Februari 2026 lalu.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Demi Jaga Citra Wisata, OPW Bersihkan Jalur Gang Pengadilan-Wae Mata
28 Hari Operasi, SAR Gempa Flores Resmi Ditutup
Jenazah Dokter Korban KKB Transit di Labuan Bajo, Diterbangkan ke Maumere Pakai Pesawat Polri
Gempa Retakkan SDN Nanga Boleng, Guru dan Siswa Bangun Kelas Darurat Mandiri
Kejari Mabar Buka Suara Usai Didesak ‘Buka Terang’ Korupsi KPU Rp28 Miliar
LPPDM Tagih Tersangka Kasus Dana Hibah KPU Mabar
Siapa Pelapor Dugaan Korupsi Rp 28 M KPU Manggarai Barat? Ini Kata Kejari
Dugaan Korupsi Rp28 Miliar Naik Penyidikan, Siapa Tersangka di KPU Manggarai Barat?

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 12:39

Demi Jaga Citra Wisata, OPW Bersihkan Jalur Gang Pengadilan-Wae Mata

Sabtu, 12 September 2026 - 20:07

28 Hari Operasi, SAR Gempa Flores Resmi Ditutup

Sabtu, 12 September 2026 - 16:58

Jenazah Dokter Korban KKB Transit di Labuan Bajo, Diterbangkan ke Maumere Pakai Pesawat Polri

Sabtu, 12 September 2026 - 14:14

Gempa Retakkan SDN Nanga Boleng, Guru dan Siswa Bangun Kelas Darurat Mandiri

Jumat, 11 September 2026 - 18:26

LPPDM Tagih Tersangka Kasus Dana Hibah KPU Mabar

Berita Terbaru

Syamsudin Kadir

Opini

Membayangkan Pemilu 2029 Dari Titik Kunci

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:44

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menutup Operasi SAR Gempa Flores bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (12/9/2026) pukul 18.00 WITA.

Nasional

28 Hari Operasi, SAR Gempa Flores Resmi Ditutup

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:07