Dinilai ‘Konyol dan Kampungan’, Surat Forkopimda Mabar Soal Pers Menuai Kecaman Luas

- Redaksi

Rabu, 11 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi: Aktivitas wartawan saat meliputi berita

Gambar Ilustrasi: Aktivitas wartawan saat meliputi berita

LABUAN BAJO — Kalangan jurnalis di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, mengecam keras beredarnya surat hasil rapat Forkopimda Plus yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan setempat.

Surat tertanggal 10 Februari 2026 tersebut dinilai sebagai bentuk intervensi berlebihan dan upaya nyata pembatasan terhadap kemerdekaan pers di wilayah itu.

Dokumen yang ditandatangani Kepala Dinas Pariwisata, Stefanus Jemaifori, berisi delapan poin persyaratan ketat bagi media dan pers yang ingin beraktivitas atau berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Beberapa poin krusial yang disorot adalah kewajiban media memiliki NIB, wartawan harus mengantongi kartu UKW, surat verifikasi Dewan Pers, hingga syarat wartawan “harus memiliki gaji”.

Para kuli tinta di ujung barat Pulau Flores ini merasa terusik dan menilai kebijakan tersebut melampaui kewenangan (offside) dari fungsi dinas terkait.

Baca Juga:  Teratai DeRie Libas Sahabat Putra 1 Menuju Final Idul Adha Cup Golo Mori

“Ini sudah melampaui batas. Dinas Pariwisata itu urusannya memajukan pariwisata, bukan mengatur persyaratan kerja wartawan atau menguji legalitas media,” ujar Hans Bataona salah satu wartawan senior di Labuan Bajo, Rabu (11/2/2026).

Berikut surat yang beredar di WhatsApp grup wartawan di Labuan Bajo.

Menurutnya, satu-satunya lembaga yang berhak mengatur verifikasi dan standar kompetensi adalah Dewan Pers berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 1999.

“Bukan dinas atau rapat Forkopimda yang mengatur teknis kerja kami,” tegasnya.

Dinilai Konyol dan Kampungan

Kecaman pedas juga datang dari pengamat komunikasi publik sekaligus wartawan senior, Emanuel Dewata Oja.

Edo—sapaan akrabnya—menilai langkah Pemda Manggarai Barat tersebut sebagai tindakan yang konyol dan kampungan.

“Saya menduga, konstruksi berpikir dari para elit Pemda Mabar di balik terbitnya surat tersebut adalah ingin mengurung diri dalam ruang yang terlindung dari kritik Pers,” ujar Edo melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/2).

Baca Juga:  Konektivitas Menguat, BPS Sebut Labuan Bajo Jadi Simpul Utama Pariwisata Flores

Ia menyebut indikasi ini memperlihatkan bahwa pemerintah Manggarai Barat sedang menunjukkan sikap anti-kritik.

“Mereka tidak mau dikritik oleh media, makanya bikin syarat aneh-aneh, konyol, dan kampungan,” tambah Ketua SMSI Provinsi Bali itu.

Edo mengingatkan, menghalang-halangi tugas jurnalistik memiliki konsekuensi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UU No. 40/1999.

“Syarat-syarat seperti itu lazimnya hanya untuk administrasi kerja sama (iklan), bukan syarat bagi wartawan untuk dilayani saat liputan. Kalau dipukul rata, itu ngawur,” ketusnya.

Pernyataan Sikap SMSI Manggarai Barat

Ketua DPD SMSI Manggarai Barat, Rofinus Edison Risal alias Ichal Detrex, juga mengeluarkan pernyataan sikap tegas melalui tanggapan terbuka.

Ichal menegaskan bahwa Pemerintah Daerah tidak memiliki kewenangan regulasi terhadap pers.

“Tindakan Pemkab Manggarai Barat menetapkan 8 syarat tersebut merupakan bentuk pelampauan kewenangan (ultra vires),” kata Ichal.

Baca Juga:  Turis Jepang Dilecehkan di Spa Labuan Bajo, Kasus Berakhir Lewat Jalur Adat

Ia menduga ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh jajaran Forkopimda Plus dari ruang publik sehingga mencoba membatasi akses informasi.

Ichal juga menyoroti Poin 8 dalam surat tersebut yang mengharuskan koordinasi melalui satu pintu di Kepala Dinas.

“Ini berpotensi membungkam daya kritis pers dan menggiring media menjadi alat humas pemerintah. Pers adalah pilar keempat demokrasi, bukan subordinat dinas,” jelasnya.

SMSI Mabar mendesak agar Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat segera mencabut poin-poin dalam surat tersebut karena dianggap cacat secara regulasi.

Hingga berita ini diturunkan, gelombang protes di berbagai grup WhatsApp wartawan masih terus mengalir deras.

Sejumlah organisasi profesi jurnalis dikabarkan tengah berkonsolidasi untuk melakukan aksi protes formal kepada Pemkab Manggarai Barat.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Viral Penjaga Lahan Usir Warga di Pantai Labuan Bajo: Sampeyan Duduk di Pasirnya Ini
Gandeng FORKOMA, Forum Peduli Mabar Gelar Pelatihan Jurnalistik Dua Hari
Bawa Pesan Edi Endi, NasDem Bagikan 100 Terpal untuk Warga Welak Terdampak Gempa
Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica
Penjelasan Polisi terkait Penemuan Mayat yang Terbakar di Perkebunan Warga Manggarai Timur
Geger, Warga Kembur Borong Temukan Mayat dengan Kondisi Terbakar
Jerat Berulang Itok Aman: Tipu Turis Italia Rp79 Juta, Terancam 4 Tahun Penjara
Jessica Belum Ditemukan, Operasi SAR KM Feronia Diperpanjang

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:13

Viral Penjaga Lahan Usir Warga di Pantai Labuan Bajo: Sampeyan Duduk di Pasirnya Ini

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:21

Gandeng FORKOMA, Forum Peduli Mabar Gelar Pelatihan Jurnalistik Dua Hari

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:33

Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:43

Penjelasan Polisi terkait Penemuan Mayat yang Terbakar di Perkebunan Warga Manggarai Timur

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:26

Geger, Warga Kembur Borong Temukan Mayat dengan Kondisi Terbakar

Berita Terbaru

FOTO _ Syamsudin Kadir
Direktur LITERASIA - Literasi Indonesia

Opini

KDM dan Teori-Praktik Politik ala Tradisi Sunda

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:59

FOTO saat pengkuran jalan. Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memfokuskan pengerjaan Jalan Sola–Watu Ata pada titik-titik kerusakan terparah pada 2026 ini.

Infrastruktur

Dinas PUPR Matim Prioritaskan Segmen Rusak Parah Sola-Watu Ata

Jumat, 30 Okt 2026 - 09:34