LABUAN BAJO – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menggelar kegiatan Safety Talk Keamanan dan Keselamatan Wisata Bahari.
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (16/4/2026) di Hotel Bintang Flores, Labuan Bajo. Agenda ini merupakan kelanjutan program kolaborasi Diving Safety 1000 Initiatives antara Kemenpar dan Divers Alert Network (DAN).
Hingga saat ini, program tersebut telah mencatat lebih dari 1.000 penerima manfaat di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Emergency First Response (EFR). Khusus di Labuan Bajo, terdapat 100 peserta yang telah mengikuti edukasi pada 14-15 April 2026.
Langkah konkret ini bertujuan memperkuat aspek keamanan sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata bahari berkelanjutan. Selain meningkatkan kunjungan, fokus utama adalah memastikan kesiapan pelaku industri dalam menghadapi risiko aktivitas wisata.

Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa safety tourism merupakan prioritas utama pembangunan pariwisata nasional. Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan secara daring.
“Keselamatan pariwisata menjadi fokus utama kami, khususnya di destinasi unggulan seperti Labuan Bajo. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak untuk memastikan wisata yang aman dan berkualitas,” ujar Ni Luh.
Ia menambahkan, pelatihan keselamatan selam bersama DAN menjadi langkah nyata meningkatkan kompetensi pelaku pariwisata. Langkah ini penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang profesional di Indonesia.
“Saat ini, kita telah mencapai lebih dari 1.000 penerima manfaat pelatihan safety diving yang telah tersertifikasi di seluruh Indonesia. Ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang aman dan profesional,” tambahnya.
Kegiatan ini menghadirkan dua sesi pemaparan utama. Sesi pertama membahas standar keamanan berbasis risiko, kelaiklautan kapal wisata, serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Sesi kedua mendalami penanganan kedaruratan, mitigasi risiko penyelaman, serta kesiapsiagaan operasi pencarian oleh Basarnas. Para peserta juga dibekali praktik penanganan medis dari perspektif pelaku lapangan.
Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir, mulai dari Pemerintah Daerah Manggarai Barat, Balai Taman Nasional Komodo, hingga berbagai asosiasi seperti P3KOM, DOCK, ASKAWI, HPI, dan Gahawisri.
Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar, Itok Parikesit, berharap forum ini melahirkan langkah konkret implementasi safety tourism. Terlebih, Labuan Bajo berstatus sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyatakan bahwa aspek keselamatan adalah kunci transformasi Labuan Bajo menuju destinasi kelas dunia. Labuan Bajo harus unggul dalam daya tarik sekaligus keamanan.
“Labuan Bajo tidak hanya harus unggul dari sisi daya tarik, tetapi juga dari sisi keamanan dan keselamatan. Melalui kegiatan ini, kita membangun kesadaran kolektif tentang risiko wisata perairan dan meningkatkan kapasitas pelaku wisata bahari agar mampu memberikan pengalaman yang aman dan berkualitas bagi wisatawan,” ujar Andhy.
Andhy juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang tangguh. Kolaborasi antara pemerintah dan komunitas menjadi kunci utama pengembangan destinasi.
“Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas menjadi fondasi penting dalam memastikan Labuan Bajo berkembang sebagai destinasi yang tidak hanya indah, tetapi juga aman dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Melalui Safety Talk ini, BPOLBF dan Kemenpar berkomitmen terus meningkatkan standar keselamatan. Hal ini dilakukan demi mewujudkan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi






