Tagih Hak di Mawatu Resort, Gerhardus Darung: Kami Sudah Cukup Sabar!

- Redaksi

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemilik alat berat, Gerhardus Jack Darung, melakukan aksi protes keras di depan pintu masuk kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kamis (5/2/2026). (FOTO: FONS ABUN)

Pemilik alat berat, Gerhardus Jack Darung, melakukan aksi protes keras di depan pintu masuk kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kamis (5/2/2026). (FOTO: FONS ABUN)

LABUAN BAJO  – Pemilik alat berat, Gerhardus Jack Darung, melakukan aksi protes keras di depan pintu masuk kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kamis (5/2/2026).

Gerhardus bersama sejumlah operator membentangkan spanduk tuntutan karena merasa hak-hak mereka selama hampir delapan bulan belum dibayarkan oleh kontraktor.

Aksi ini ditujukan kepada PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi, selaku kontraktor pelaksana infrastruktur di lokasi tersebut.

“Tujuan kami sekarang datang ke sini adalah menuntut PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi untuk membayar hak kami, gaji kami, yang sudah 7-8 bulan ini belum dibayar,” tegas Gerhardus Jack Darung kepada media di lokasi.

Gerhardus mengungkapkan, pihaknya telah menempuh berbagai cara mulai dari pesan WhatsApp hingga somasi resmi melalui pengacara sebanyak dua kali.

Baca Juga:  PWMB Sebut Aturan Media Pemda Mabar Amburadul, Desak Bupati Pecat Kadis Pariwisata

Bahkan, ia sempat mengirim perwakilan ke kantor pusat PT Mitra di Jakarta, namun hasilnya nihil.

“Jawaban dari pihak Mitra itu jelas, ‘Pak Dede (Gerhardus), kami belum bisa membayar ke bapak karena dari Pihak Vasanta atau Owner Mawatu Resort belum membayar ke kami’,” ungkapnya menirukan jawaban pihak kontraktor.

Ia menegaskan tidak mau tahu terkait urusan internal antara kontraktor dan pemilik proyek (owner).

“Intinya kami menagih hak kami, menagih hasil uang keringat kami. Kami tidak bisa menunggu lama, kami juga mesti bayar utang di luar, toko sparepart, oli, dan BBM,” tambahnya lagi.

Berdasarkan surat perjanjian, pembayaran seharusnya dilakukan setiap dua minggu sekali.

Alat berat milik Gerhardus berupa excavator breaker dan vibro telah bekerja hampir satu tahun untuk pengerjaan jalan, pemecahan batu, hingga pemadatan area ruko.

Baca Juga:  Krisis BBM Landa Labuan Bajo: Sektor Konstruksi Terhenti dan Harga Eceran Melonjak

Total tagihan yang belum dibayar mencapai Rp371.080.000. Setelah dipotong PPN 2 persen, total bersih yang menjadi haknya adalah Rp363.658.400.

“Direktur Utama PT Mitra sempat menjawab WA saya pada 27 Januari lalu. Katanya mereka masih menunggu perhitungan final dengan pihak Vasanta pada pertengahan Februari 2026. Tapi bagi kami, 8 bulan itu bukan waktu yang singkat untuk bersabar,” pungkas Gerhardus.

Kondisi ini berdampak buruk bagi para pekerja lapangan. Romelus Mautorin, seorang operator ekskavator, mengaku keterlambatan gaji selama 5 bulan sangat memberatkan keluarganya.

Hal senada disampaikan operator vibro, Ignasius Odin. Ia mengaku terpaksa berutang ke koperasi demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga:  BPKB Raib di Tangan Koperasi, Nasabah KSP Obor Mas Tuntut Tanggung Jawab

“Kami tetap bekerja mengejar target, lembur hari libur dan Minggu, tapi upah kami justru macet. Kami terpaksa berutang demi makan,” keluh Ignasius.

Dalam pantauan di lokasi, dua spanduk berukuran 2×1,5 meter mereka pampang di depan gerbang Mawatu Resort. Kendati kemudian semua spanduk yang mereka bawa kembali dibawa pulang. Aksi tersebut dijaga ketat oleh lebih dari 10 personel keamanan (security).

Hingga berita ini diturunkan, tim media bajoupdate.com telah berupaya melakukan konfirmasi dan meminta izin wawancara melalui pesan WhatsApp kepada Direktur PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi serta pihak Manajemen Mawatu Resort (PT Vasanta Group).

Namun, hingga saat ini, belum ada jawaban atau tanggapan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai tuntutan pembayaran tersebut.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Buntut Tewasnya Dua Turis Austria, DPRD Desak Evaluasi Total Pariwisata Labuan Bajo
Tembus 28.9 Km/Liter, Toyota Veloz Hybrid EV 2026 Resmi Mengaspal di Labuan Bajo
Polisi Periksa Kelayakan Infrastruktur Usai Dua Turis Tewas di Cunca Wulang
Dua Turis Austria Tewas di Manggarai Barat, Pemerintah Daerah Evaluasi Total Destinasi Wisata
Ratusan Keluarga Terpisah akibat Mutasi, Mario Pranda Tulis Surat Terbuka untuk Uskup
Tak Hanya “Satu Produk”, SMKN 3 Komodo Pamerkan Ragam Karya di Usia ke-6
Jembatan Vital di Boleng Putus, Wakil Rakyat Akui Anggaran Infrastruktur Anjlok
Petaka Krisis Elpiji di Labuan Bajo, Politisi NasDem: Pusat Jangan Anggap Enteng!

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 18:19

Buntut Tewasnya Dua Turis Austria, DPRD Desak Evaluasi Total Pariwisata Labuan Bajo

Minggu, 24 Mei 2026 - 19:33

Tembus 28.9 Km/Liter, Toyota Veloz Hybrid EV 2026 Resmi Mengaspal di Labuan Bajo

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:57

Polisi Periksa Kelayakan Infrastruktur Usai Dua Turis Tewas di Cunca Wulang

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:26

Dua Turis Austria Tewas di Manggarai Barat, Pemerintah Daerah Evaluasi Total Destinasi Wisata

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:46

Ratusan Keluarga Terpisah akibat Mutasi, Mario Pranda Tulis Surat Terbuka untuk Uskup

Berita Terbaru

Kepolisian menyelidiki dugaan kelalaian pidana usai dua wisatawan asal Austria tewas terjatuh dari jembatan gantung yang rapuh di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Hukum & Kriminal

Turis Austria Tewas di Cunca Wulang, Polisi Telah Periksa 5 Saksi

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:37