LABUAN BAJO – Ratusan warga dan tokoh masyarakat berkumpul di Rumah Adat (Gendang) Desa Lewat, Kabupaten Manggarai Barat, pada Jumat (19/06) malam.
Mereka menggelar ritual adat sebagai tanda kesiapan Eduardus Harjo untuk maju dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Lewat, Kecamatan Macang Pacar.
Rangkaian acara dimulai dengan prosesi bakar lilin di Compang Lewat. Prosesi sakral ini dipimpin langsung oleh tokoh adat setempat atau yang dikenal dengan sebutan Tua Gendang.
Suasana kental dengan nuansa budaya. Seluruh warga yang hadir tampak mengenakan pakaian adat khas Manggarai, memadukan kemeja putih dengan kain dan topi songke.
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh keluarga besar Kampung Lewat. Tokoh adat, tokoh agama, serta barisan pendukung dari kampung sekitar seperti Mataroang, Pateng, Kolong, dan Rusing turut hadir meramaikan lokasi.
Puncak acara ditandai dengan lantunan doa melalui upacara Teing Hang.
Dalam tradisi masyarakat Manggarai, Teing Hang adalah ritual menyajikan makanan kepada leluhur.
Ini merupakan bentuk syukur sekaligus permohonan perlindungan dan restu kepada Sang Pencipta.
Tokoh adat setempat, Fransiskus Seda, menegaskan bahwa pencalonan Eduardus Harjo bukan sekadar ajang kontestasi politik tingkat desa.
Menurutnya, langkah ini adalah bagian dari perjuangan bersama untuk mewujudkan masa depan Desa Lewat yang lebih baik.
Fransiskus juga mengimbau seluruh warga untuk menjaga suasana Pilkades tetap sejuk dan damai. Ia menekankan bahwa momentum pemilihan harus mempererat persaudaraan, bukan memecah belah.
“Pilkades ini bukan ajang untuk saling memusuhi. Bahkan ketika orang lain memusuhi kita, kita balas dengan mencintai dan mengasihi,” ujar Fransiskus.
Ia menambahkan, masyarakat telah memiliki gambaran jelas mengenai figur pemimpin yang tepat.
“Harapan itu kita titipkan pada pundak anak kita, Eduardus Harjo,” tambahnya.
Tagline Politik 3D
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan barisan pendukung, Darius Tali, mengingatkan masyarakat untuk menghindari praktik politik yang tidak sehat.
Menurut Darius, politik sejati adalah keberanian untuk berpihak pada kebenaran. Ia menyebut masyarakat perlu menilai rekam jejak calon pemimpin dalam kehidupan sehari-hari.
Penilaian tersebut dirangkum dalam tagline “Politik 3D”. Konsep ini mencakup Dia Tombo (baik tutur kata), Dia Pande (baik perbuatan), dan Dia Wintuk (baik tingkah laku).
Darius juga menyoroti tantangan berat pembangunan desa saat ini. Hal ini terkait dengan perubahan kebijakan pemerintah pusat mengenai alokasi dana desa.
Ia berharap kepala desa terpilih mampu berinovasi. Pemimpin baru dituntut menjaga stabilitas keuangan desa dengan memaksimalkan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPD).
“Memang tidak mudah, tetapi dengan keberanian, kerja keras, serta kemampuan menggali potensi desa, hal itu bisa dicapai,” tutur Darius.
Dukungan serupa datang dari kalangan muda. Perwakilan tokoh pemuda, Lorens Endi, menilai Eduardus Harjo sebagai sosok yang transparan, berani, dan sederhana.
Eduardus dinilai memiliki kemampuan merangkul seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menyelesaikan persoalan dengan pendekatan yang membumi. Lorens mengajak pemilih muda untuk rasional.
“Pilihlah pemimpin yang memiliki karakter, bukan hanya pintar berbicara, tetapi juga selalu hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.
Merespons dukungan tersebut, Eduardus Harjo menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh warga yang hadir memadati rumah adat.
Eduardus menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan amanat konstitusi yang berjalan berkala. Ia menyadari banyak aspek moral, pendidikan, dan pengalaman yang dinilai oleh masyarakat.
“Yang paling penting, pemimpin adalah sosok yang mampu mendengar, memperjuangkan, dan mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat akar rumput,” papar Eduardus.
Di akhir sambutannya, ia meminta seluruh tokoh adat, tokoh masyarakat, dan relawan untuk terus menjaga soliditas.
Kekompakan ini diharapkan terus terjaga hingga tahapan pemungutan suara pada September mendatang.
Penulis : Ofantri Nero
Editor : Fons Abun







