WTID dan IN-FLORES Perkuat Kapasitas Pelaku Pariwisata Wujudkan Destinasi Inklusif

- Redaksi

Kamis, 18 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para Peserta Workshop GESI Sedang Melakukan Kerja Kelompok di Hari Ke II. (FOTO/Sandro)

Para Peserta Workshop GESI Sedang Melakukan Kerja Kelompok di Hari Ke II. (FOTO/Sandro)

LABUAN BAJO Women in Tourism Indonesia (WTID) bersama Project IN-FLORES menyelenggarakan Workshop Gender Equality and Social Inclusion (GESI) serta Safe and Respectful Workplace bagi pelaku pariwisata dan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026 di Rumah Keuskupan Unio Labuan Bajo itu bertujuan memperkuat kapasitas sektor pariwisata dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan saling menghormati.

Sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas nasional, Manggarai Barat terus mengalami pertumbuhan sektor pariwisata yang pesat.

Namun, di tengah perkembangan tersebut, masih terdapat berbagai tantangan terkait kesetaraan gender, akses bagi kelompok rentan, relasi kuasa di tempat kerja, serta perlindungan terhadap para pekerja pariwisata.

Workshop ini diikuti oleh pelaku usaha wisata, hotel, restoran, pemandu wisata, UMKM, komunitas, akademisi, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, hingga organisasi masyarakat sipil.

Kegiatan ini juga melibatkan peserta penyandang disabilitas, termasuk peserta tunanetra, sebagai bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan dapat diakses oleh semua pihak.

Baca Juga:  Bahas Keselamatan Wisata, BPTNKPS Gelar Rapat Multistakeholder di Labuan Bajo

Melalui diskusi lintas sektor, peserta diajak memahami bahwa kesetaraan gender dan inklusi sosial bukan hanya isu kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama dalam membangun sektor pariwisata yang profesional, aman, dan berkelanjutan.

Peserta juga dibekali pemahaman mengenai pengaruh norma sosial, stereotip gender, serta relasi kuasa terhadap pengalaman seseorang di tempat kerja.

Selain itu, mereka didorong untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi di institusi masing-masing dan menyusun solusi melalui pendekatan Safe and Respectful Workplace Framework yang berfokus pada aspek pencegahan (prevent), penanganan (respond), dan dukungan (support).

Co-Founder Women in Tourism Indonesia (WTID), Anindwitya Rizqi Monica, mengatakan kualitas pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuan sektor tersebut menciptakan lingkungan kerja yang aman dan mendukung bagi seluruh pekerjanya.

Baca Juga:  Lampu Sehen Sudah Lama Ditarik, Tagihan Jutaan Rupiah Datang Mencekik

“Pariwisata adalah industri yang sangat bergantung pada manusia. Karena itu penting memastikan setiap pekerja, baik perempuan maupun laki-laki, pekerja tetap maupun magang, serta kelompok rentan lainnya memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan bekerja dalam lingkungan yang aman, profesional, dan saling menghormati,” ujarnya.

Menurut Monica, keberagaman peserta yang hadir menjadi salah satu hal paling menggembirakan dalam kegiatan tersebut karena menunjukkan bahwa upaya membangun pariwisata yang aman dan inklusif membutuhkan kolaborasi dari berbagai sektor.

Sementara itu, Koordinator Bentang Darat dan Bentang Laut Wilayah Barat Program IN-FLORES, Imanuddin Utoro, menegaskan bahwa penguatan perspektif gender dan inklusi sosial merupakan bagian penting dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan.

“Pariwisata yang inklusif berarti memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, mendapatkan manfaat, dan merasa aman dalam ruang-ruang pariwisata. Kesetaraan gender dan inklusivitas bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari kualitas tata kelola destinasi dan keberlanjutan sektor pariwisata,” katanya.

Baca Juga:  Lampu Rem Truk Sampah Mati, Sipri Anjelo Desak Pemda Audit Total Kendaraan Dinas

Ia menambahkan, keterlibatan pelaku usaha, komunitas, pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, hingga penyandang disabilitas dalam satu ruang diskusi merupakan cerminan praktik inklusivitas yang nyata.

Selain materi dan diskusi, kegiatan ini juga menghadirkan praktik baik dari komunitas lokal yang telah menerapkan pendekatan inklusif dalam pemberdayaan masyarakat.

Melalui studi kasus, refleksi, dan penyusunan kerangka perlindungan sederhana, peserta diajak memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang realistis sesuai konteks masing-masing institusi.

WTID dan IN-FLORES berharap workshop ini menjadi langkah awal dalam memperkuat budaya kerja yang lebih aman, profesional, dan inklusif di sektor pariwisata Manggarai Barat.

Dengan menghargai keberagaman serta memastikan perlindungan bagi seluruh pekerja, pariwisata diharapkan tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga ruang yang adil, aman, dan berkelanjutan bagi semua.

Penulis : Sandro Hatol

Editor : Fons Abun

Berita Terkait

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan
Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog
Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara
Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah
Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta
Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?
Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo
“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:07

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:55

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:16

Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:57

Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:12

Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17