LABUAN BAJO — Eras Tengajo (31), pemuda asal Desa Bari, Manggarai Barat, menyulap lahan kosong menjadi kebun produktif guna menyuplai kebutuhan pangan di Labuan Bajo hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mantan penjual sayur keliling ini mulai menekuni pertanian mandiri di halaman rumahnya di Dusun Loger, Kecamatan Macang Pacar, sejak sembilan bulan lalu.
Awalnya, hasil panen hanya digunakan untuk konsumsi pribadi. Namun, karena kualitasnya memadai, Eras memberanikan diri melepas hasil kebunnya ke pasar.

Saat ini, sayur-mayur dari kebun Eras telah menembus Pasar Wae Kesambi dan Pasar Baru di Labuan Bajo.
Ke depan, ia menargetkan hasil panennya dapat memasok hotel dan restoran di kawasan wisata super premium tersebut.
Langkah ini diambil karena Eras melihat rantai pasok sayur di Labuan Bajo selama ini masih didominasi produk luar daerah.
Menurutnya, kebutuhan sayur untuk pusat pariwisata Manggarai Barat itu masih sangat bergantung pada pasokan dari Kabupaten Ngada, Nagekeo, hingga Bima.
Ambisi Eras tak berhenti di sektor pariwisata. Ia juga membidik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
“Selain itu saya juga ingin ikut menyuplai kebutuhan sayur untuk program Makan Bergizi Gratis,” kata Eras, Minggu (6/9/2026).

Ia meyakini, keterlibatan petani lokal akan memberikan dampak ganda bagi masyarakat desa.
“Kalau petani lokal bisa ikut andil, berarti kita juga bantu anak-anak sekolah dapat makan sehat dari hasil tanah sendiri,” imbuhnya.
Jarak Dusun Loger menuju pusat pariwisata Labuan Bajo memakan waktu sekitar tiga jam perjalanan darat. Permintaan sayur di kawasan itu terus merangkak naik seiring lonjakan kunjungan wisatawan.
Meski saat ini kebun dikelola secara personal, Eras berencana membentuk kelompok tani bersama pemuda setempat agar kapasitas produksi bisa mengimbangi permintaan pasar.
Namun, ekspansi kebun sayur ini terbentur masalah infrastruktur dasar. Eras masih kekurangan modal untuk pengadaan air dan alat pertanian.

Ia mengaku belum memiliki tangki penampungan air (fiber) maupun mesin pompa hisap untuk mengairi lahan secara optimal.
“Kendala terbesar itu di air dan alat pertanian,” keluh Eras.
Ia berharap ada solusi atau dukungan untuk mengatasi persoalan pasokan air tersebut agar produksi pertaniannya tidak terhambat.
“Kalau fasilitasnya ada, saya yakin bisa tanam lebih banyak dan hasilnya lebih maksimal,” pungkasnya.




