Pengakuan Ketua PSSI Mabar di Balik Klub Komodo United

- Redaksi

Sabtu, 5 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebagai Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Manggarai Barat (Mabar), Yono mengakui memiliki keterikatan kuat dengan klub yang tengah menjadi sorotan tajam di Labuan Bajo tersebut.

Sebagai Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Manggarai Barat (Mabar), Yono mengakui memiliki keterikatan kuat dengan klub yang tengah menjadi sorotan tajam di Labuan Bajo tersebut.

LABUAN BAJO — Marianus Yono Jehanu atau Yono menceritakan secara terbuka cikal bakal berdirinya Komodo United, klub sepak bola yang pelatihnya baru saja menganiaya wasit Ferdinandus Adi Sudirman atau Afred di lapangan. Klub tersebut rupanya lahir dari tangannya sendiri.

Sebagai Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Manggarai Barat (Mabar), Yono mengakui memiliki keterikatan kuat dengan klub yang tengah menjadi sorotan tajam di Labuan Bajo tersebut.

“Komodo United ini saya bentuk karena kecintaan saya dengan daerah ini. Saya terinspirasi dengan Bali United,” kata Yono saat memberikan keterangan pers bersama panitia, Sabtu (5/9/2026).

Ambisi Yono cukup besar saat mendirikan klub itu pada 2020 silam. Ia menggandeng salah satu investor dengan harapan menjadikannya klub komersial yang berpotensi mengangkat pariwisata daerah.

Namun, di turnamen PSSI Cup kali ini, Yono berdiri di posisi ganda. Ia adalah regulator turnamen selaku Ketua PSSI, sekaligus pembina klub peserta.

Baca Juga:  Resmikan Kantor Desa Batu Cermin, Edi Endi: Gedung Mentereng, Pelayanan Harus Lebih Mentereng

Menyadari jabatannya di PSSI, Yono lantas menyerahkan manajemen Komodo United kepada anaknya. Ia juga mempercayakan posisi pelatih kepada Romanus Novri.

Novri bukanlah orang asing bagi Yono. Sang Ketua PSSI itu sendiri yang mengirim Novri ke Manggarai Timur untuk mengambil lisensi kepelatihan.

“Saya percayakan ke Nofri dengan anak saya pengurus tim Komodo United ini,” aku Yono.

Namun, keputusan itu justru berujung petaka yang mencoreng wajah persepakbolaan lokal. Pada laga 8 besar antara Black Crown melawan Komodo United, Jumat (4/9/2026), sang pelatih, Novri, merangsek ke tengah lapangan.

Laga tunda yang dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu itu baru saja berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Black Crown, berkat gol sundulan Pirlo di menit ke-97.

Tepat setelah peluit panjang dibunyikan pada menit ke-111, Novri melayangkan pukulan keras ke rahang kiri wasit utama, Afred. Pukulan brutal itu membuat Afred mengalami cedera serius di bagian pipi dan rahang.

Baca Juga:  Idul Adha Cup Soknar: Teratai DeRie Tundukkan Putri Kerora Dua Set Tanpa Balas

Ia langsung dievakuasi ke RS Siloam, lalu dirujuk ke Puskesmas Labuan Bajo untuk tindakan medis lanjutan dan visum.

Yono, yang menyaksikan insiden pemukulan itu langsung dari tribune, mengaku sangat terpukul.

“Saya malu. Terus terang saya malu. Saya tidak pernah sampaikan ada niat untuk kejadian seperti yang dilakukan oleh adik Nofri kemarin,” ujarnya.

Insiden ini memicu gelombang kritik keras. Keluarga Yono bahkan turut menjadi bulan-bulanan publik dan media. Rentetan serangan ini membuatnya merenung untuk mundur dari kepengurusan sepak bola di Manggarai Barat.

Meski berstatus sebagai inisiator klub pelaku, Yono memastikan institusi PSSI tidak akan lepas tangan terhadap nasib korban.

Wasit Afred, kata Yono, berada di bawah naungan PSSI. Yono turun langsung mendampingi Afred ke rumah sakit hingga mengawal proses visum.

Baca Juga:  Panas! Persaingan Jasa Transportasi Darat di Labuan Bajo Kembali Mencuat ke Publik

Ia juga menyatakan dukungannya kepada pihak keluarga wasit untuk membawa kasus penganiayaan ini ke ranah pidana di Polres Manggarai Barat.

Di sisi lain, desakan keras datang dari panitia penyelenggara. Ketua Pelaksana Harian, Rofinus Edison Risal, mengecam tindakan anarkis pelatih Komodo United yang telah mencederai asas fair play.

Rofinus mendesak Askab PSSI untuk menjatuhkan sanksi administratif yang setimpal. Sanksi dituntut tidak hanya diberikan kepada pelaku, tetapi juga kepada klub.

“Bagi kami, apa pun keputusan yang diambil oleh perangkat pertandingan, tindakan kekerasan bukanlah bagian dari sportivitas sepak bola dan tidak dapat dibenarkan,” tegas Rofinus.

Imbas dari penganiayaan ini, panitia memutuskan menunda laga semifinal yang sedianya digelar pada akhir pekan ini.

Kompetisi baru akan kembali digulirkan pada Senin, 7 September 2026 demi menjaga kondusivitas keamanan dan memulihkan mental korps perwasitan.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajoupdate

Berita Terkait

Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica
Penjelasan Polisi terkait Penemuan Mayat yang Terbakar di Perkebunan Warga Manggarai Timur
Geger, Warga Kembur Borong Temukan Mayat dengan Kondisi Terbakar
Jerat Berulang Itok Aman: Tipu Turis Italia Rp79 Juta, Terancam 4 Tahun Penjara
Jessica Belum Ditemukan, Operasi SAR KM Feronia Diperpanjang
Langit Labuan Bajo Diselimuti ‘Haze’, BMKG Buka Suara Soal Dugaan Kiriman Asap Karhutla
KOPEARAD Mabar Gelar Diskusi Publik Bedah 2 Tahun Kebijakan Prabowo-Gibran
KM Feronia: Jejak Tumpahan Minyak Ditemukan, Satu Korban Masih Hilang

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:33

Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:43

Penjelasan Polisi terkait Penemuan Mayat yang Terbakar di Perkebunan Warga Manggarai Timur

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:26

Geger, Warga Kembur Borong Temukan Mayat dengan Kondisi Terbakar

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:43

Jerat Berulang Itok Aman: Tipu Turis Italia Rp79 Juta, Terancam 4 Tahun Penjara

Senin, 19 Oktober 2026 - 20:42

Jessica Belum Ditemukan, Operasi SAR KM Feronia Diperpanjang

Berita Terbaru

Syamsudin Kadir

Opini

Bencana di Balik Bencana NTT

Sabtu, 24 Okt 2026 - 16:14