LABUAN BAJO — Jumat siang (11/9/2026), puluhan siswa dan guru SDN Nanga Boleng, Manggarai Barat, saling bahu-membahu. Mereka bergotong royong memanggul batang-batang bambu sepanjang delapan meter untuk membangun kelas darurat.
Bambu-bambu itu tak bisa diangkut langsung ke halaman sekolah. Mobil pikap sewaan hanya bisa mengantar material hingga ke ujung jembatan.
Dari titik itu, para siswa dan guru harus memikul bambu menyusuri jembatan darurat menuju sekolah mereka.
Inisiatif mandiri ini terpaksa dilakukan karena bangunan sekolah rusak parah akibat gempa bumi yang mengguncang pada 15 Agustus lalu.
“Dari Kampung Merawang dibeli dengan harga Rp20 ribu per batang. Tadi kami beli, untuk sementara sekitar 70-an batang bambu,” kata salah satu guru SDN Nanga Boleng, Hasan.
Pihak sekolah terpaksa merogoh kocek sendiri, baik untuk membeli bambu maupun membayar sewa mobil pikap.
Sebelumnya, Kepala Sekolah SDN Nanga Boleng, Emerlinda Mensi, mengatakan pascagempa, ada tiga ruangan yang hancur dan tidak layak lagi ditempati oleh siswa.
“Ruangan kelas 1, 4, dan 5,” ungkapnya.

Kondisi geografis turut memperparah keadaan. Secara geografis, SDN Nanga Boleng hanya berjarak 30 menit berkendara dari Labuan Bajo.
Namun, sekolah ini rawan terendam air laut. Setiap pukul 10.00 hingga 15.00 WITA, air pasang mengepung sekolah dari arah utara, timur, barat, dan selatan.
Oleh karena itu, jembatan bambu sepanjang kurang lebih 100 meter dengan tinggi dua meter dibangun agar para siswa dan guru tidak menginjak genangan air laut saat menuju sekolah.
Di tengah kondisi pesisir yang ekstrem, kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) terus berjalan. Pihak sekolah sempat membuat tenda darurat, namun diyakini tak bertahan lama.
“Tenda darurat yang kami buat tidak memungkinkan untuk bertahan. Di pinggir pantai begini angin kencang, mudah sekali terlepas apalagi cuma terpal biasa,” jelas Hasan.
Kondisi tersebut membuat siswa kesulitan berkonsentrasi. Suara kepakan terpal yang dihantam angin pesisir membuat suasana belajar tak lagi tenang.
Kini, para guru berinisiatif membuat struktur semi-permanen dari bambu agar lebih tangguh menahan angin. Namun, material penutup atap menjadi masalah baru.
Hingga kini, tidak ada satu pun tenda bantuan yang tiba. Hasan menyebut, ada beberapa pihak yang berjanji mengirimkan terpal, namun belum terealisasi.

Bahkan beberapa pihak, kata dia, memberikan syarat meminta pihak sekolah membuat kerangka tenda terlebih dahulu sebelum terpal dikirimkan.
“Maunya ada bahannya dulu supaya kita sesuaikan (ukurannya) dengan bahan yang ada. Pokoknya ini (bantuan) belum ada sama sekali,” keluh Hasan.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (PKO) Manggarai Barat, Agustinus Gias, sempat dikonfirmasi media ini pada 2 September 2026 lalu mengenai pengadaan tenda darurat untuk SDN Nanga Boleng.
Alih-alih memberikan kepastian waktu, Agustinus hanya menjawab singkat.
“Ada. Sekarang sedang proses penyusunan RKB (Rencana Kebutuhan Barang),” balasnya via pesan singkat WhatsApp.
Ketika ditanya mengenai kapan tenggat waktu distribusi bantuan tersebut untuk sekolah-sekolah yang terdampak gempa, jawaban yang keluar dari Agustinus makin irit.
“Berproses,” jawabnya singkat.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate





